Banda
Aceh | Acehtraffic.com - Aktivis
mahasiswa yang tergabung dalam Pemerintah Mahasiswa (PEMA) Universitas Syiah
Kuala, Banda Aceh, mengkritik lambannya kinerja DPRA karena selalu terlambat
mengesahkan anggaran daerah.Selasa 31 Januari 2012
Kritikan
tersebut disampaikan dalam unjuk rasa yang diikuti belasan mahasiswa di Gedung
DPR Aceh di Banda Aceh, Selasa. Aksi tersebut mendapat pengawalan ketat
sejumlah personel Polresta Banda Aceh.
Dalam
unjuk rasa tersebut, mahasiswa juga menyerahkan "sertifikat gelar master
terlelet" kepada Ketua DPRA Hasbi Abdullah didamping Wakil Ketua DPRA Amir
Helmi yang sebelumnya menjumpai demonstran.
Usai
menerima sertifikat tersebut, Hasbi Abdullah dan Amir Helmi langsung
meninggalkan pengunjuk rasa. Di saat bersamaan, di dalam gedung berlangsung
rapat badan musyawarah dewan dengan eksekutif Pemerintah Aceh.
Presiden
PEMA Unsyiah Furqan Ishak Aksa mengatakan, pengesahan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Aceh (APBA) selalu molor dalam rentang waktu tujuh tahun terakhir.
"DPRA
tidak becus mengurus uang. DPRA terkesan main-main dalam membahas anggaran.
Anggota dewan baru membahasnya setelah dipaksa oleh rakyat," kata dia.
Ia
mengatakan, jika APBA 2012 tidak disahkan pada 31 Januari 2012, maka Pemerintah
Aceh akan terkena penalti dari pemerintah pusat. Sanksi ini akan merugikan 4,5
juta penduduk Aceh.
"Tahun
ini, DPRA kembali terlambat mengesahkan anggaran. Dari seluruh provinsi di
Indonesia, Aceh merupakan daerah yang terakhir. Aceh kalah dari Papua, Maluku,
dan lainnya," ketus Furqan.
Menurut
dia, seharusnya DPRA menjadikan pembahasan dan pengesahan anggaran sebagai
prioritas utama. Namun, lembaga dewan tersebut malah lebih tertarik mengurusi
masalah pilkada.
"PEMA
Universitas Syiah Kuala mendesak DPRA tidak mengulangi keterlambatan membahas
dan mengesahkan anggaran pendapatan dan belanja daerah," ujarnya.
Jika
masih saja molor di tahun mendatang, kata dia, lebih baik anggota DPRA mundur
dari jabatannya sebelum mahasiswa mengambil alih fungsi lembaga dewan.
"Kalau
tidak sanggup duduk di dewan, mundur saja. Banyak yang siap menggantikan kerja
wakil rakyat. Banyak orang pintar, sanggup bekerja, tetapi tidak duduk di
dewan," ujar Furqan Ishak Aksa.
Belasan
pengunjuk rasa tersebut akhirnya membubarkan diri dengan tertib setelah sekitar
satu jam berdemonstran di gedung DPRA. Aksi tersebut mendapat perhatian para
pegawai di lembaga legislatif tersebut. | Antara

0 komentar:
Posting Komentar