
Acehtraffic.com - Peneliti hawzah Qom, Hujjatul Islam Abdul Karim Behjat-pour menyatakan, pandangan strategis Islam terhadap keluarga adalah bahwa sebuah masyarakat yang sehat dan saleh muncul dari keluarga-keluarga yang sakinah dan berwibawa yang kaum laki-laki dan perempuan di dalamnya memiliki tingkat rasional, afeksi, kesadaran dan wawansan yang tinggi.
Behjat-pour kepada Rasa News (30/1) mengatakan, "Kaum perempuan adalah separuh dari kerangka masyarakat, oleh karena itu ketidakpedulian terhadap kapasitas dan peran mereka dalam mengembangkan potensi dalam pribadi setiap individu dalam keluarga, juga tidak dapat menyukseskan tujuan-tujuan masyarakat Islam."
Dikatakannya, jika kita merenungkan dan mencermati ajaran-ajaran Islam, baik al-Quran dan hadis memberikan penekanan luas pada peran perempuan dalam pencapaian kehidupan yang indah dan bersih serta terbentuknya masyarakat yang terjauhkan dari keburukan.
Menurut pandangan Islam, peran para ibu dalam membentuk sebuah keluarga tidak dapat dipungkiri lagi dan oleh karena itu kaum laki-laki diperingatkan untuk selalu berhati-hati dalam memilih istri atau ibu menyusui. Karena Islam menilai peran ibu dalam membentuk pondasi keluarga sangat esensial."
Perbedaan mendasar perspektif Islam dan pemikiran di Barat adalah bahwa di negara-negara Barat, kaum perempuan dinilai sebatas pekerja, pegawai, atau seorang wanita karir dalam masyarakat. Adapun Islam, justru ingin mengangkat beban ekonomi itu dari pundak kaum perempuan sehingga mereka dapat melaksanakan tugas utamanya dengan tenang, yaitu mengatur sisi afeksi keluarga.
Manajemen afeksi dalam keluarga menurut Islam ada di pundak para ibu dan tugas tersebut merupakan beban berat yang memerlukan dukungan yang kuat juga. Oleh karena itu masyarakat islami harus memperhatikan peran para ibu dan perempuan dalam keluarga sehingga akan terbentuk masyarakat yang sehat dan saleh. (*) | IRIB Indonesia

0 komentar:
Posting Komentar