News Update :

“Kalau Polisi Tidak Sanggup Mengungkap Pelaku Penembak Di Aceh, Ya Kita Serahkan Pada Allah SWT Saja ?"

Sabtu, 07 Januari 2012



Berbagai kasus penembakan secara beruntun terjadi di Aceh antara tahun 2011 memasuki tahun 2012. Di waktu yang bersamaan juga Aceh kan menggelar Pilkada yang juga terjadi perdebatan dan perbedaan antara para pihak.

Di tengah kondisi ini, tepatnya pada tanggal 4 Desember 2011, terjadi penembakan di PT. Setya Agung, Kecamatan Geureudong Pasee Aceh Utara, yang menewaskan 3 orang dan melukai 5 orang lainnya, untuk kasus ini polisi belum berhasil mengungkap siapa pelaku, dari penembakan brutal tersebut. Polisi hanya menyebutkan penembakan ini hanya bermotif persoalan ekonomi.

Antara siapa dengan siapa?

Lagi, itu belum terungkap, pada Jumat (23/12/2011) sekitar pukul 03.05 Wib pagi Lokasi penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM) Base Camp rekanan NV Zaratex yang sedang melakukan tugas eksplorasi sumber minyak dan gas (Migas) di Desa Ulee, Kecamatan Sawang Aceh Utara, ditembaki kelompok orang tak dikenal dengan  senjata laras. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun polisi katanya,  telah menangkap dua orang petani yang diduga sebagai pelaku penembak.

Berdasarkan Informasi yang berkembang, perusahaan Surve minyak Zaratex NV yang memakai Sub Kontraktornya Sari Pari Geosaian sejak awal memang sering terjadi perselisihan antar warga di daerah area seismic. Menurut warga perusahaan tersebut hanya mengandalkan keizinan administrasi pemerintahan tetapi mengabaikan pemilik lahan.

Kasus –kasus perselisihan ini pernah terjadi, di Sawang, dan Nisam. Bahkan disatu sisi ada kesan perusahaan ini juga kepedean menggunakan “Backing Lokal“ untuk memuluskan pekerjaan, hanya warga yang mengerti dan paham yang berani membantah, sementara warga lemah terpaksa diam dalam ketidakmengertian.

Dalam kasus ini polisi telah menangkap  satu warga kecamatan Sawang Aceh Utara yang sehari-hari dikenal warga sebagai petani kebun, dan satu lagi warga sebuah kecamtan di kabupaten Bireuen yang sebelumnya pernah terlibat kriminal.

Menjelang akhir tahun, Sabtu, 31 Desember 2011, sekitar pukul 21.00 WIB, terjadi lagi penembakan di Mess Telkom di Bireun, Aceh. Pelaku menembaki pekerja galian kabel di Mess Telkom yang saat itu hendak beranjak tidur. Tiga pekerja tewas, dan tujuh lainnya terluka. Seluruhnya adalah pekerja pendatang asal Jawa Timur. Hingga Sabtu (7/1/2012) belum ditemukan pelaku penembakan tersebut.

Selang sehari, Minggu, 1 Januari 2012, sekitar pukul 21.30 WIB, seorang warga di Desa Seureuke, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, juga tewas ditembak kelompok tak dikenal. Ia ditembak di bagian kepala ketika sedang berada di warung kopi.

Selain satu korban tewas, satu orang lainnya dalam kondisi kritis. Kedua korban adalah petani. Pelaku penembakan berjumlah lima orang. Mereka beraksi tanpa penutup wajah. Mereka juga sempat menembaki dua rumah warga sebelum melarikan diri.

Sehari berselang seorang warga di kecamatan Jamboaye dipukuli oleh kelompok bersenjata yang sedang bersembunyi di hutan. Korban mengalami trauma. Lagi-lagi polisi belum dapat menangkap pelaku?

Pada Kamis  [5/1] malam sekitar pukul 19.05 Wib di Aneuk Galong, Kecamatan Samahani, Aceh Besar, buruh bangunan asal Jawa Timur  ditembak oleh pengguna sepeda motor jenis Yamaha Mio.

Dua korban terkena di bagian dada dan satu di bagian kepala. Ketiga korban penembakan tersebut bernama, Gunoko (30), Agus Suwityo (35), dan Sutiko Anas (25). Mereka adalah buruh bangunan asal Semarang, Jawa Tengah. Dan akhirnya Gunoko tewas dalam perawatan di RS Zainal Abidin Banda Aceh.

Berbagai komentar timbul dengan penembakan ini. Ada yang mengatakan ini kecemburuan sosial atau kesenjangan karena para kontraktor memakai pekerja dari luar Aceh, namun banyak pihak juga yang tidak yakin dengan alasan ini.

 Ada banyak pihak juga yang menduga ini suatu upaya untuk menciptakan rasa tidak aman atau mengacaukan suasana Pilkada, atau suatu trik agar pilkada di tunda. Atau ini memang scenario besar yang dimainkan pihak tertentu ?

Ini pun masih sekedar menduga-duga.

Kepala Polda Aceh, Inspektur Jenderal Iskandar Hasan, Senin, [5/12] pasca penembakan di PT.Setya Agung mengatakan motif pembunuhan tersebut sejauh ini disimpulkan sebagai kejahatan ekonomi. “Mungkin karena pekerja lokal tidak diterima bekerja karena tidak ada kapasitas bekerja di sana. Lalu, muncul sakit hati,” ujarnya.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan teror penembakan di Aceh menjelang tahun baru lalu tak berhubungan dengan situasi politik menjelang Pemilihan Umum Kepala Daerah Aceh pada Februari 2012 nanti. Penembakan tersebut murni aksi kriminal. "Tidak ada kaitannya dengan politik," kata Irwandi di Banda Aceh, Senin, 2 Januari 2012.

Wakil Ketua DPR RI, Pramono Anung mengatakan, terjadinya penembakan oleh orang tak dikenal di Aceh sengaja dilakukan untuk menciptakan kepanikan masyarakat. "Penembakan itu dilakukan untuk membuat suasana panik dan gaduh di tengah-tengah masyarakat Aceh. Ada tujuan untuk menciptakan ketidakamanan di Aceh," kata Pramono Anung kepada gresnews.com, Jakarta, Jumat [6/1].

Nah, sementara Otto Syamsuddin Ishak melihat penembakan brutal yang terjadi di Aceh,  adalah untuk menyerang pemerintahan Presiden SBY. Peristiwa penembakan itu tidak terkait dengan motif politik lokal di Aceh menjelang Pilkada. Penembakan itu juga sudah dilakukan dengan desain yang berskala nasional. "Bisa saja dilakukan oleh golongan yang berseberangan dengan SBY," kata Otto, yang juga peneliti senior Imparsial.

Peristiwa akhir Desember 2011 lalu itu, menurut Otto, hanya pemicu untuk memunculkan pra-kondisi terjadinya konflik antar-etnis. Padahal tujuan utamanya adalah menyerang modalitas SBY berdasarkan motif politik. "Karena konflik SARA sangat potensial dipakai untuk kepentingan politik," kata Otto.

Dengan berbagai analisa motif dari insiden tersebut sudah barang pasti bahwa tanggung jawab besar ini berada di pundak kepolisian. Beruntung tindakan keji ini mendapat perhatian dari orang –orang besar yang tinggal di Jakarta, seperti Presiden memerintahkan kapolri untuk segera menangkap pelaku penembakan tersebut.

Namun dalam proses penangkapan ini, Polisi Aceh Utara terus terang mengaku keberatan dalam mengungkap kasus ini, dengan alasan peristiwa berlangsung sangat cepat dan saksi tidak sempat melihat pelaku.

Karena sadar akan sulit terungkap? Nasir Jamil anggota DPR RI, mengusulkan kepada Polisi untuk menyewa paranormal agar pelakunya terungkap. Entahlah semua kita serahkan kepada polisi untuk bekerja dalam pengungkapan kasus ini.

Namun jikapun tidak berhasil diungkap oleh polisi, banyak warga Aceh yang menyebutnya “Kita serahkan kepada yang maha kuasa saja (Ta Seerah Bak Poe Manteong Peukara-nyan) Kiban ....?????.|***
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016