Berbagai
kasus penembakan secara beruntun terjadi di Aceh antara tahun 2011 memasuki
tahun 2012. Di waktu yang bersamaan juga Aceh kan menggelar Pilkada yang juga
terjadi perdebatan dan perbedaan antara para pihak.
Di
tengah kondisi ini, tepatnya pada tanggal 4 Desember 2011, terjadi penembakan
di PT. Setya Agung, Kecamatan Geureudong Pasee Aceh Utara, yang menewaskan 3
orang dan melukai 5 orang lainnya, untuk kasus ini polisi belum berhasil
mengungkap siapa pelaku, dari penembakan brutal tersebut. Polisi hanya
menyebutkan penembakan ini hanya bermotif persoalan ekonomi.
Antara
siapa dengan siapa?
Lagi,
itu belum terungkap, pada Jumat (23/12/2011) sekitar pukul 03.05 Wib pagi
Lokasi penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM) Base Camp rekanan NV Zaratex yang
sedang melakukan tugas eksplorasi sumber minyak dan gas (Migas) di Desa Ulee,
Kecamatan Sawang Aceh Utara, ditembaki kelompok orang tak dikenal dengan senjata laras. Tidak ada korban jiwa dalam
peristiwa ini. Namun polisi katanya, telah menangkap dua orang petani yang
diduga sebagai pelaku penembak.
Berdasarkan
Informasi yang berkembang, perusahaan Surve minyak Zaratex NV yang memakai Sub
Kontraktornya Sari Pari Geosaian sejak awal memang sering terjadi perselisihan
antar warga di daerah area seismic. Menurut warga perusahaan tersebut hanya
mengandalkan keizinan administrasi pemerintahan tetapi mengabaikan pemilik
lahan.
Kasus
–kasus perselisihan ini pernah terjadi, di Sawang, dan Nisam. Bahkan disatu
sisi ada kesan perusahaan ini juga kepedean menggunakan “Backing Lokal“ untuk
memuluskan pekerjaan, hanya warga yang mengerti dan paham yang berani
membantah, sementara warga lemah terpaksa diam dalam ketidakmengertian.
Dalam
kasus ini polisi telah menangkap satu
warga kecamatan Sawang Aceh Utara yang sehari-hari dikenal warga sebagai petani
kebun, dan satu lagi warga sebuah kecamtan di kabupaten Bireuen yang sebelumnya
pernah terlibat kriminal.
Menjelang
akhir tahun, Sabtu, 31 Desember 2011, sekitar pukul 21.00 WIB, terjadi lagi
penembakan di Mess Telkom di Bireun, Aceh. Pelaku menembaki pekerja galian
kabel di Mess Telkom yang saat itu hendak beranjak tidur. Tiga pekerja tewas,
dan tujuh lainnya terluka. Seluruhnya adalah pekerja pendatang asal Jawa Timur.
Hingga Sabtu (7/1/2012) belum ditemukan pelaku penembakan tersebut.
Selang
sehari, Minggu, 1 Januari 2012, sekitar pukul 21.30 WIB, seorang warga di Desa
Seureuke, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, juga tewas ditembak kelompok tak
dikenal. Ia ditembak di bagian kepala ketika sedang berada di warung kopi.
Selain
satu korban tewas, satu orang lainnya dalam kondisi kritis. Kedua korban adalah
petani. Pelaku penembakan berjumlah lima orang. Mereka beraksi tanpa penutup
wajah. Mereka juga sempat menembaki dua rumah warga sebelum melarikan diri.
Sehari
berselang seorang warga di kecamatan Jamboaye dipukuli oleh kelompok bersenjata
yang sedang bersembunyi di hutan. Korban mengalami trauma. Lagi-lagi polisi
belum dapat menangkap pelaku?
Pada
Kamis [5/1] malam sekitar pukul 19.05
Wib di Aneuk Galong, Kecamatan Samahani, Aceh Besar, buruh bangunan asal Jawa
Timur ditembak oleh pengguna sepeda
motor jenis Yamaha Mio.
Dua
korban terkena di bagian dada dan satu di bagian kepala. Ketiga korban
penembakan tersebut bernama, Gunoko (30), Agus Suwityo (35), dan Sutiko Anas
(25). Mereka adalah buruh bangunan asal Semarang, Jawa Tengah. Dan akhirnya
Gunoko tewas dalam perawatan di RS Zainal Abidin Banda Aceh.
Berbagai
komentar timbul dengan penembakan ini. Ada yang mengatakan ini kecemburuan
sosial atau kesenjangan karena para kontraktor memakai pekerja dari luar Aceh,
namun banyak pihak juga yang tidak yakin dengan alasan ini.
Ada banyak pihak juga yang menduga ini suatu
upaya untuk menciptakan rasa tidak aman atau mengacaukan suasana Pilkada, atau
suatu trik agar pilkada di tunda. Atau ini memang scenario besar yang dimainkan
pihak tertentu ?
Ini
pun masih sekedar menduga-duga.
Kepala
Polda Aceh, Inspektur Jenderal Iskandar Hasan, Senin, [5/12] pasca penembakan
di PT.Setya Agung mengatakan motif pembunuhan tersebut sejauh ini disimpulkan
sebagai kejahatan ekonomi. “Mungkin karena pekerja lokal tidak diterima bekerja
karena tidak ada kapasitas bekerja di sana. Lalu, muncul sakit hati,” ujarnya.
Gubernur
Aceh Irwandi Yusuf mengatakan teror penembakan di Aceh menjelang tahun baru
lalu tak berhubungan dengan situasi politik menjelang Pemilihan Umum Kepala
Daerah Aceh pada Februari 2012 nanti. Penembakan tersebut murni aksi kriminal.
"Tidak ada kaitannya dengan politik," kata Irwandi di Banda Aceh,
Senin, 2 Januari 2012.
Wakil
Ketua DPR RI, Pramono Anung mengatakan, terjadinya penembakan oleh orang tak
dikenal di Aceh sengaja dilakukan untuk menciptakan kepanikan masyarakat. "Penembakan
itu dilakukan untuk membuat suasana panik dan gaduh di tengah-tengah masyarakat
Aceh. Ada tujuan untuk menciptakan ketidakamanan di Aceh," kata Pramono
Anung kepada gresnews.com, Jakarta, Jumat [6/1].
Nah, sementara Otto
Syamsuddin Ishak melihat penembakan brutal yang terjadi di Aceh, adalah untuk menyerang pemerintahan Presiden
SBY. Peristiwa penembakan itu tidak
terkait dengan motif politik lokal di Aceh menjelang Pilkada. Penembakan itu
juga sudah dilakukan dengan desain yang berskala nasional. "Bisa saja
dilakukan oleh golongan yang berseberangan dengan SBY," kata Otto, yang
juga peneliti senior Imparsial.
Peristiwa akhir Desember 2011 lalu
itu, menurut Otto, hanya pemicu untuk memunculkan pra-kondisi terjadinya
konflik antar-etnis. Padahal tujuan utamanya adalah menyerang modalitas SBY
berdasarkan motif politik. "Karena konflik SARA sangat potensial dipakai
untuk kepentingan politik," kata Otto.
Dengan
berbagai analisa motif dari insiden tersebut sudah barang pasti bahwa tanggung
jawab besar ini berada di pundak kepolisian. Beruntung tindakan keji ini
mendapat perhatian dari orang –orang besar yang tinggal di Jakarta, seperti Presiden
memerintahkan kapolri untuk segera menangkap pelaku penembakan tersebut.
Namun
dalam proses penangkapan ini, Polisi Aceh Utara terus terang mengaku keberatan
dalam mengungkap kasus ini, dengan alasan peristiwa berlangsung sangat cepat
dan saksi tidak sempat melihat pelaku.
Karena
sadar akan sulit terungkap? Nasir Jamil anggota DPR RI, mengusulkan kepada Polisi
untuk menyewa paranormal agar pelakunya terungkap. Entahlah
semua kita serahkan kepada polisi untuk bekerja dalam pengungkapan kasus ini.
Namun
jikapun tidak berhasil diungkap oleh polisi, banyak warga Aceh yang menyebutnya “Kita
serahkan kepada yang maha kuasa saja (Ta Seerah Bak Poe Manteong Peukara-nyan) Kiban ....?????.|***


0 komentar:
Posting Komentar