New York | Acehtraffic.com– Hidungnya yang mencuat jauh ke depan membuat helikopter ini sepintas mirip kepala lumba-lumba berhidung botol.
Dari sisi penampilan, helikopter Kaman K-MAX memang tak segarang Black Hawk buatan Sikorsky. Tapi bukan keunggulan itu yang membuat helikopter ramping ini dikerahkan ke Afganistan.
K-MAX adalah helikopter nirawak hasil kolaborasi perusahaan dirgantara Kaman dan Lockheed Martin.
Militer Amerika Serikat langsung menguji ketangguhan pesawat kontrol revolusioner ini sebagai jajaran persenjataan terbarunya di Afganistan.
Helikopter tak berpilot ini dirancang untuk menerbangkan misi pengiriman kargo ke pos di garis depan untuk menggantikan konvoi truk menembus jalan yang kerap dipasangi bom rakitan.
Pesawat nirawak, baik pesawat penginderaan jarak jauh untuk memantau aktivitas musuh maupun versi bersenjata untuk melancarkan serangan udara, menjadi karakteristik kendaraan perang Amerika di Afganistan, Irak, dan Timur Tengah.
Namun helikopter yang dirancang untuk transportasi ini adalah pesawat nirawak pertama yang telah digunakan secara operasional.
Dua model helikopter nirawak Kaman K-MAX dan sebuah tim yang terdiri atas 16 teknisi dan delapan marinir menjalankan program evaluasi enam bulan terhadap performa pesawat itu di Camp Dwyer, sebuah lapangan terbang korps marinir Amerika Serikat di distrik Garmsir, sebelah selatan Provinsi Helmand di Afganistan.
Sejak melakukan terbang resmi pertamanya pada 17 Desember, pesawat itu telah menjalani 20 misi transportasi suplai. Mayor Kyle O'Connor, petugas yang bertanggung jawab atas pengoperasian pesawat nirawak itu, telah mengirim lebih dari 18 ton kargo, sebagian besar berupa ribuan paket makanan meals ready to eat dan suku cadang yang dibutuhkan di pangkalan tersebut.

“Afganistan adalah negara yang dipenuhi ranjau dan kemungkinan adanya bom rakitan selalu menjadi masalah dalam konvoi pengiriman kargo lewat darat,” kata O'Connor.
“Setiap barang yang kami kirimkan tanpa menggunakan konvoi darat dapat mengurangi bahaya dan risiko yang dihadapi oleh marinir, serdadu, ataupun pelaut.”
Dengan pesawat kendali jarak jauh ini, para awak pesawat pun terhindar dari ancaman bahaya.
Selain mengurangi risiko bahaya terhadap para prajurit, biaya operasi pesawat nirawak yang mencapai lebih dari US$ 1.000 itu jauh lebih murah ketimbang helikopter yang dikemudikan langsung oleh pilot.
Marinir dari Skuadron Satu Pesawat Udara Nirawak memimpin misi itu dan mengirimkan kargo ke zona tempur, sedangkan kontraktor mengoperasikan dan memelihara kedua pesawat itu.
Untuk menerbangkan pesawat itu dengan sistem autopilot, komputer yang terpasang di helikopter harus mengunduh rencana misi terlebih dulu.
Meski begitu, operator di pangkalan memonitor perkembangan dan dapat masuk mengambil alih sistem autopilot untuk pengoperasian secara manual jika terjadi masalah atau bila pesawat nirawak harus diarahkan ulang di tengah jalan.
Helikopter K-MAX ini adalah pesawat terbaru seri helikopter kembar Kaman sejak 1950-an. Susunan yang tak lazim, yakni dua tiang penyangga yang saling berdampingan di atap helikopter menyangga bilah baling-baling yang berputar berlawanan arah, ini menghasilkan kestabilan ketika pesawat terbang menggantung di udara. Dengan stabilitas tinggi, helikopter dapat menjatuhkan kargonya ke titik yang dituju tanpa kesulitan.
Ini bukan pertama kali helikopter buatan Kaman diterjunkan ke medan tempur. Selama perang di Vietnam, pesawat Kaman HH-43 Huskie model dua pilot ini melaksanakan jauh lebih banyak misi penyelamatan dibandingkan dengan total misi seluruh pesawat terbang lainnya karena kemampuan terbang menggantung yang unik tersebut.
Sebenarnya K-MAX pertama kali muncul dengan versi berawak pada 1990-an. Prototipe nirawaknya baru diperkenalkan kepada publik pada 2008. Helikopter ini dapat mengangkut muatan hingga 2.574 kilogram.
Setelah periode tes selama setengah tahun, nasib Kaman K-MAX akan ditentukan. Militer Amerika akan memutuskan apakah helikopter itu akan digunakan secara reguler.
Selama satu dasawarsa ini tentara NATO menghadapi masalah logistik serius di kawasan Afganistan timur dan selatan. Pengiriman suplai ke garis depan kerap dibayangi bahaya penyergapan dan bom rakitan. Konvoi truk harus didampingi unit khusus untuk membersihkan rute.
“Ini sangat merugikan dari sisi waktu karena militer harus membersihkan rute untuk setiap misi tunggal,” kata Theo Farrell, dosen perang di King's College London. “Tingginya kebutuhan tim pembersih rute juga membuat militer kewalahan.” | TP | AP
Debut di Afganistan
Sebuah helikopter nirawak yang dirancang untuk mengangkut suplai dan perlengkapan untuk serdadu Amerika diterjunkan ke Afganistan. Helikopter Kaman K-MAX itu dapat diterbangkan ke daerah pertempuran tanpa menimbulkan risiko terhadap keselamatan awaknya. Kehadiran helikopter itu juga mengurangi kebutuhan konvoi truk suplai yang kerap menjadi target musuh. | GRAPHICNEWS
Sebuah helikopter nirawak yang dirancang untuk mengangkut suplai dan perlengkapan untuk serdadu Amerika diterjunkan ke Afganistan. Helikopter Kaman K-MAX itu dapat diterbangkan ke daerah pertempuran tanpa menimbulkan risiko terhadap keselamatan awaknya. Kehadiran helikopter itu juga mengurangi kebutuhan konvoi truk suplai yang kerap menjadi target musuh. | GRAPHICNEWS
• Helikopter Kaman K-MAX
• Kokpit: Kursi disediakan untuk misi menggunakan pilot.
• Baling-baling: Bilah kembar yang terhubung dengan gigi berputar berlawanan arah, sehingga tak membutuhkan baling-baling ekor, memperbaiki performa daya angkat pesawat.
• Mesin turbin T53-17
• Pengait kargo: Helikopter dapat mengangkat empat muatan berbeda-tiap muatan dapat diprogram untuk dilepas pada waktu berbeda.
Kemampuan mengangkat beban
• 680 kg
• 1.960kg
• 2.347kg
• 2.574 kg
• Muatan maksimum: 2.722 kilogram
Ketinggian (meter)
• 6.000
• 4.500
• 3.000
• 1.500
• 0
SPESIFIKASI
• Berat (kosong): 2.334kg
• Kecepatan maksimum : 148,2 km/jam (dengan beban eksternal)
• Daya jelajah: 396,3 km
• Biaya operasi: US$1.100/jam
Dikendalikan dengan laptop
Operator di darat menentukan rute dan tujuan dengan detail





0 komentar:
Posting Komentar