Malang | Acehtraffic.com- Luar biasa dan patut dibanggakan. Begitu kata yang layak diberikan kepada dosen Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Yakni, dosen dan peneliti dari Fakultas MIPA Unibraw Malang, Prof DR Aulanni'am.
Hasil temuan alumni Universitas Airlangga Surabaya itu, berbeda dengan alat kontrasepsi yang ada dipasaran saat ini. Alat kontrasepsi yang diciptakan itu, diklaim tak menimbulkan efek samping kepada akseptor.
Selain itu, kontrasepsi yang ditemukan Profesor Aulanni'am itu, tak akan mengakibatkan kegemukan dan kanker yang ditakuti kaum ibu. "Alat kontrasepsi selama ini berbasis hormonal," jelasnya kepada para wartawa ditemui di ruangannya, di Unibraw.
Menurut Aulanni'am, alat kontrasepsi hormonal ke tubuh itu terjadi fluktuasi hormon yang terganggu yang menyebabkan kegemukan dan kanker. "Vaksin kontrasepsi itu, disuntikkan kepada akseptor perempuan. Alat kontrasepsi ini bisa bertahan sesuai dosis yang ditentukan," jelasnya.
Sehingga katanya, bisa sewaktu-waktu dilepas jika akseptor ingin kembali memiliki anak. Alat kontrasepsi berbasis vaksin itu, telah mendapat hak paten dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 2010 lalu.
Hasil temuan alumni Universitas Airlangga Surabaya itu, berbeda dengan alat kontrasepsi yang ada dipasaran saat ini. Alat kontrasepsi yang diciptakan itu, diklaim tak menimbulkan efek samping kepada akseptor.
Selain itu, kontrasepsi yang ditemukan Profesor Aulanni'am itu, tak akan mengakibatkan kegemukan dan kanker yang ditakuti kaum ibu. "Alat kontrasepsi selama ini berbasis hormonal," jelasnya kepada para wartawa ditemui di ruangannya, di Unibraw.
Menurut Aulanni'am, alat kontrasepsi hormonal ke tubuh itu terjadi fluktuasi hormon yang terganggu yang menyebabkan kegemukan dan kanker. "Vaksin kontrasepsi itu, disuntikkan kepada akseptor perempuan. Alat kontrasepsi ini bisa bertahan sesuai dosis yang ditentukan," jelasnya.
Sehingga katanya, bisa sewaktu-waktu dilepas jika akseptor ingin kembali memiliki anak. Alat kontrasepsi berbasis vaksin itu, telah mendapat hak paten dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 2010 lalu.
"Penelitian ini menghabiskan waktu selama 15 tahun. Peneliti ini diketuai oleh Profesor Sutiman dan didanai oleh Kementerian Kesehatan, Bio Farma dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi," akunya.
Universitas Brawijaya saat ini, telah bekerjasama dengan perusahaan Farmasi Bio Farma untuk mengembangkan vaksin kontrasepsi tersebut, agar bisa dijual secara umum di Indoensia.
Berbeda dengan alat kontrasepsi suntik yang ada di pasaran saat ini, Vaksin kontrasepsi yang diciptakan oleh Aulanni'am itu, berupa protein anti bodi terhadap molekul zona pellucida-3 (ZP3) atau protein di luar sel telur.
"Molekul zona pellucida-3 (ZP3) itu, berfungsi sebagai reseptor atau mengenali sperma. Jika anti bodi disuntik ke tubuh maka molekul akan mengikat ZP3. Sehingga struktur protein berubah dan tak mengenal sperma. Sehingga tak terjadi fertilisasi atau pembuahan," jelas peneliti terbaik versi Dirjen Dikti 2011 ini.
Vaksin kontrasepsi ini, telah diujicobakan terhadap tikus, kelinci dan monyet ekor panjang atau Makaka vesicularis yang tersertifikasi. "Kini, kami tinggal menunggu uji coba klinis yang akan diterapkan ke manusia. Diperkirakan vaksin kontrasepsi ini diproduksi massal oleh Bio Farma 2013 mendatang," katanya.
Protein yang bersifat reversible itu, tidak akan menyebabkan patologis di saluran reproduksi wanita. Sehingga jika dihentikan kualitas embrio sama tak ada cacat. "Sedangkan janin hasil pembuahan juga normal. Aman digunakan dan dihentikan sewaktu-waktu," bebernya.
Aulanni'am menambahkan, bahan baku vaksin itu, juga aman dan halal. Karena protein berasal dari sel telur sapi. Apalagi protein sapi identik dengan manusia, sedangkan asam amino sapi hanya berbeda satu.
Universitas Brawijaya saat ini, telah bekerjasama dengan perusahaan Farmasi Bio Farma untuk mengembangkan vaksin kontrasepsi tersebut, agar bisa dijual secara umum di Indoensia.
Berbeda dengan alat kontrasepsi suntik yang ada di pasaran saat ini, Vaksin kontrasepsi yang diciptakan oleh Aulanni'am itu, berupa protein anti bodi terhadap molekul zona pellucida-3 (ZP3) atau protein di luar sel telur.
"Molekul zona pellucida-3 (ZP3) itu, berfungsi sebagai reseptor atau mengenali sperma. Jika anti bodi disuntik ke tubuh maka molekul akan mengikat ZP3. Sehingga struktur protein berubah dan tak mengenal sperma. Sehingga tak terjadi fertilisasi atau pembuahan," jelas peneliti terbaik versi Dirjen Dikti 2011 ini.
Vaksin kontrasepsi ini, telah diujicobakan terhadap tikus, kelinci dan monyet ekor panjang atau Makaka vesicularis yang tersertifikasi. "Kini, kami tinggal menunggu uji coba klinis yang akan diterapkan ke manusia. Diperkirakan vaksin kontrasepsi ini diproduksi massal oleh Bio Farma 2013 mendatang," katanya.
Protein yang bersifat reversible itu, tidak akan menyebabkan patologis di saluran reproduksi wanita. Sehingga jika dihentikan kualitas embrio sama tak ada cacat. "Sedangkan janin hasil pembuahan juga normal. Aman digunakan dan dihentikan sewaktu-waktu," bebernya.
Aulanni'am menambahkan, bahan baku vaksin itu, juga aman dan halal. Karena protein berasal dari sel telur sapi. Apalagi protein sapi identik dengan manusia, sedangkan asam amino sapi hanya berbeda satu.
"Vaksin tersebut aman dan halal jika digunakan terhadap manusia," katanya perempuan berjilbab itu | BJ


0 komentar:
Posting Komentar