
Jakarta | Acehtraffic.com - Pengamat masalah Aceh, Otto Syamsudin Ishak, menilai peristiwa penembakan di Aceh adalah untuk menyerang pemerintahan Presiden SBY. Alasannya, menurut Otto, tingkat keterpilihan SBY di Aceh mencapai 93 persen.
"Jadi bisa disebut sebagai penghancuran modalitas SBY di Aceh," kata Otto di kantor Imparsial, Jakarta, Jumat [6/1].
Otto mengatakan peristiwa penembakan itu tidak terkait dengan motif politik lokal di Aceh menjelang Pilkada. Penembakan itu juga sudah dilakukan dengan desain yang berskala nasional. "Bisa saja dilakukan oleh golongan yang berseberangan dengan SBY," kata Otto, yang juga peneliti senior Imparsial.
Peristiwa akhir Desember 2011 lalu itu, menurut Otto, hanya pemicu untuk memunculkan pra-kondisi terjadinya konflik antar-etnis. Padahal tujuan utamanya adalah menyerang modalitas SBY berdasarkan motif politik. "Karena konflik SARA sangat potensial dipakai untuk kepentingan politik," kata Otto.
Tapi Otto heran mengapa pemerintah dan kepolisian menutup-nutupi motif politik tersebut. Padahal, jika motif tersebut dibuka kepada publik, masyarakat juga bisa mewaspadai konflik-konflik yang menjurus ke SARA. "Tapi dinamika itu tidak terlihat dengan pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh pihak pemerintah," kata Otto.
Pemerintah juga didesak agar memperhatikan kasus pelanggaran HAM itu dengan cermat. Peristiwa di Mesuji, Bima, dan Aceh ini, menurut Otto, harus diselesaikan dengan cepat. Kalau tidak, kata Otto, "Pemerintah seperti melakukan tindakan bunuh diri."
Peristiwa penembakan di Aceh kembali terjadi pada 31 Desember 2011 lalu. Penembakan itu terjadi di Desa Blang Cot, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada malam hari. Dalam penembakan itu, sepuluh pekerja galian PT Telkom menjadi korban, tiga di antaranya meninggal dunia. | AT | TP |

0 komentar:
Posting Komentar