Acehtraffic.com - Dalam kurun sepuluh hari terakhir Menteri Luar Negeri Kevin Rudd dari
Australia dua kali melontarkan peringatan yang sama: ekonomi
negara-negara Barat tengah merosot, sedangkan Asia sedang bangkit
sebagai kekuatan baru. Menariknya, peringatan itu disampaikan Rudd saat
melawat ke dua pusat keuangan dunia, New York dan London.
Di
hadapan para eksekutif, pejabat, dan cendekia setempat, Rudd menyatakan
bahwa negara-negara Barat kini harus mengakui bangkitnya kekuatan Asia.
Saat krisis ekonomi menghantam Eropa dan Amerika Serikat, negara-negara
Asia yang dipelopori China tumbuh menjadi kekuatan baru yang memberi
pengaruh bagi stabilitas ekonomi global. Lembaga keuangan dunia dan juga
pejabat perbankan Eropa sudah mengakui realita itu.
Terakhir,
Rudd berpidato di Royal Institute of International Affairs di London, 24
Januari 2012 waktu setempat. Rudd menamai judul pidatonya: Fault Lines in the 21st Century Global Order: Asia Rising, Europe Declining and the Future of 'The West.' Pidato itu didapat VIVAnews dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta, 25 Januari 2012.
"Judulnya
memang provokatif, namun itulah gambaran sesungguhnya situasi global
saat ini yang dapat diperdebatkan dan jadi bahan pemikiran," kata Rudd
mengawali pidatonya di London.
Mantan perdana menteri Australia
itu memaparkan bahwa satu dekade lampau kebangkitan Asia sudah mulai
terlihat. "Namun, dengan munculnya krisis keuangan global dan resesi
global 2008-2009, apa yang tadinya terlihat jauh kini semakin dekat,"
lanjut Rudd.
Kebangkitan Asia ini sebagian besar didukung oleh
China. Rudd mengatakan bahwa AS dalam 130 tahun terakhir tetap menjadi
negara dengan pengaruh terbesar di dunia. Namun, dalam pilar-pilar
ekonomi, AS sudah disaingi oleh China, yang menikmati perekonomian yang
sangat pesat dalam dua dekade terakhir.
Dengan mengutip data
dari majalan The Economist yang terbit awal Januari 2012, Rudd
menyatakan bahwa "ekonomi China, berdasarkan paritas daya beli, bisa
jadi melampaui AS dalam kurun lima tahun mendatang."
Devisa
asing milik China sudah lebih banyak dari AS sejak 2003. Kini devisa
asing China sebesar US$2 triliun, bandingkan dengan utang luar negeri AS
yang sebesar US$2,5 triliun.
Selain itu, ekspor China sudah
melampui AS sejak 2007 dan dalam tiga tahun terakhir memimpin investasi
modal tetap. China pun sejak 2010 unggul dalam output manufaktur dan
konsumsi energi.
Kemajuan di sisi ekonomi ini turut menambah
kemampuan China di sektor lain, termasuk militer. "The Economist juga
memproyeksikan - mungkin ini kontroversial - bahwa nilai belanja militer
China akan melampaui AS pada 2025," kata Rudd.
Maka, Rudd
mengajak negara-negara Barat agar mulai melibatkan China dan
kekuatan-kekuatan ekonomi lain dalam turut membentuk tatanan global dan
regional. Ini berguna agar meredam kecurigaan satu sama lain demi
menghindari konflik.
Sejak awal tahun ini Rudd sudah dua kali
menyampaikan penilaian akan kebangkitan China dan Asia. Pada 14 Januari
lalu dia menyampaikan hal serupa saat berpidato di Asia Society di New
York, AS.
Saat itu, selain menyebut China, Rudd pun menyorot
kebangkitan ekonomi Indonesia. "Indonesia sendiri – yang segera akan
menjadi ekonomi US$1 triliun, kini secara konsisten tumbuh lebih dari 6
persen per tahun dan dengan penduduk yang mendekati 250 juta jiwa.
Indonesia,
di bawah arah kebijakan baru Presiden Yudhoyono dan tim ekonominya
kemungkinan besar akan muncul menjadi salah satu dari enam ekonomi
teratas di dunia pada 2030," kata Rudd.
Menariknya, dua pidato Rudd di London dan New York ini mengulangi apa
yang pernah diutarakan bosnya, Perdana Menteri Julia Gillard. Dalam
suatu forum di Melbourne, 28 September 2011, Gillard berpidato dengan
judul "Australia in the Asian Century."
Gillard mengulas apa yang sebaiknya diantisipasi Australia, dan juga
masyarakat dunia, di tengah bangkitnya kekuatan ekonomi Asia. "Belum
pernah kita memasuki masa seperti ini. Kita sudah menginjak satu dekade
dalam Abad Asia," ujar Gillard saat itu
Peringatan Eropa
Saat
Rudd berpidato di London, pada hari yang sama di Washington DC, IMF
memperingatkan bahwa krisis keuangan di zona euro tidak saja mengancam
ekonomi di Eropa, namun juga bisa berdampak bagi ekonomi global.
"Episentrum
bahaya itu berada di Eropa, namun seluruh dunia juga makin terkena
dampaknya," kata kepala tim ekonomi IMF, Olivier Blanchard, dalam jumpa
pers yang dikutip kantor berita Reuters. "Bahkan muncul bahaya yang
lebih besar saat krisis di Eropa menjadi-jadi, dunia dapat jatuh ke
resesi baru," lanjut Blanchard.
Dana Moneter Internasional itu
lantas meralat proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia untuk 2012. Tiga bulan
lalu, pertumbuhan tahun ini diperkirakan 4 persen, namun direvisi
menjadi 3,3 persen. Bahkan, menurut IMF, pertumbuhan ekonomi global 2012
bisa lebih rendah dari itu, menjadi 1,3 persen, bila krisis di Eropa
terus berlarut-larut.
Presiden Bank Sentral Eropa, Mario
Draghi, juga melontarkan peringatan keras atas dampak krisis utang yang
melanda Benua Biru itu. Menurut Draghi, krisis ini dapat melumpuhkan
pasar-pasar keuangan dan ekonomi di tingkat global selama belum ada
langkah efektif dari para pemerintah Eropa.
Menurut harian The
Wall Street Journal, peringatan itu disampaikan Draghi dalam sidang di
Parlemen Eropa, Strasbourg, 16 Januari 2012. "Kita sudah berada di dalam
kondisi yang sangat buruk dan tidak perlu malu menghadapi fakta ini,"
kata Draghi.
Tiga bulan lalu, peringatan serupa sudah dilontarkan
pendahulu Draghi, yaitu Jean-Claude Trichet. Juga di hadapan para
politisi Eropa, Trichet mengatakan bahwa krisis utang sudah mencapai
"dimensi yang sistemik." Kini, Draghi menyatakan bahwa "situasi sudah
menjadi lebih buruk."
Sebelumnya, lembaga pemeringkat kredit
Standard & Poor's (S&P) sudah menurunkan peringkat obligasi
salah satu ekonomi utama di Eropa, Prancis. Tidak hanya itu, surat utang
delapan negara Eropa lainnya, yang juga sesama pengguna mata uang euro
(zona euro) pun turun peringkat, bahkan sudah ada yang masuk ke katagori
"sampah."
Draghi hanya bisa meminta agar para pemerintah
negara-negara Eropa - terutama sesama pengguna mata uang euro - harus
segera menerapkan langkah-langkah pemulihan ekonomi dan menekan tingkat
pengangguran.
Belakangan ini sudah muncul kekhawatiran di
kalangan pelaku pasar obligasi pemerintah Eropa. "Ini menyebabkan
gangguan serius dalam kegiatan normal di pasar-pasar keuangan dan, pada
akhirnya, ekonomi riil," kata Draghi.
Blanchard dan para pejabat
IMF lainnya pun kembali menekankan bahwa Eropa perlu meningkatkan upaya
semaksimal mungkin untuk segera mengatasi krisis.
Salah satu
cara adalah dengan meningkatkan dana penyelamatan untuk bisa kembali
memulihkan kepercayaan pasar sekaligus menurunkan suku bunga atas
obligasi sehingga negara-negara yang tengah bermasalah, seperti Italia
dan Spanyol, bisa meminjam dengan bunga yang layak.
Namun, belum
ada langkah-langkah yang signifikan dari Uni Eropa dalam mengatasi
krisi euro sesegera mungkin. Bahkan, belakangan ini muncul perbedaan
sikap yang besar antara Inggris dan sesama anggota Uni Eropa dalam
mengatasi krisis.
Perhatian Amerika
Berbeda
pada tahun-tahun sebelumnya, Amerika Serikat kini terfokus pada
bagaimana mengatasi masalah ekonomi dalam negeri. Pengangguran masih
tinggi, 8,5%, dan utang pun sudah melebihi US$2 triliun.
Fokus
kepada ekonomi ini tercermin pada Pidato Kenegaraan Obama di Kongres
pada Selasa malam waktu setempat (Rabu pagi WIB). Pidato kenegaraan
presiden AS kali ini bukan lagi mengedepankan perang melawan terorisme
dan krisis di belahan dunia lain - walau itu juga masih menjadi
perhatian Washington - namun bagaimana menekan tingkat pengangguran dan
mengatasi defisit anggaran dan besarnya utang dengan sejumlah cara,
seperti menaikkan pajak bagi orang kaya dan penguatan industri domestik.
"Kita tidak akan kembali kepada ekonomi yang lemah akibat
outsourcing, utang yang besar, dan keuntungan keuangan yang semu. Malam
ini, saya ingin berbicara bagaimana kita bisa bergerak maju dan
menjabarkan cetak biru bagi ekonomi yang dibangun untuk bertahan lama -
ekonomi yang dibangun berdasarkan produksi, energi, dan kemampuan bagi
pekerja Amerika dan pembaharuan bagi nilai-nilai Amerika," kata Obama,
dalam pidato yang dikutip harian The Guardian.
Awal bulan ini
Obama pun memberitahu Kongres bahwa pemerintah AS berencana menambah
batas utang sebesar US$1,2 triliun. Rencana ini justru digulirkan saat
AS tengah berjuang mengatasi utang yang kian membengkak dan terjadi saat
negeri itu kembali bersiap menghadapi pemilihan umum November
mendatang.| AT | VV |

0 komentar:
Posting Komentar