
Acehtraffic.com - Kisruh Ruang Banggar DPR ternyata masih menyisakan satu “Hentakan” yang lumayan mengejutkan.
Betapa tidak ,seorang mantan aktivis ”eksponen 98″ yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) Dewan Perwakilan Rakyat ternyata tidak berkutik ketika tenggelam dalam lingkaran “Mafia Proyek” di gedung Dewan.
Bahkan yang lebih menggelikan sang mantan aktivis tersebut mengaku hanya sebagai “Tukang stempel”. Pertanda buruk apalagi bagi negeri ini.
Betapa tidak ,seorang mantan aktivis ”eksponen 98″ yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) Dewan Perwakilan Rakyat ternyata tidak berkutik ketika tenggelam dalam lingkaran “Mafia Proyek” di gedung Dewan.
Bahkan yang lebih menggelikan sang mantan aktivis tersebut mengaku hanya sebagai “Tukang stempel”. Pertanda buruk apalagi bagi negeri ini.
Kemana semangat yang dulu berapi-api, ketika di dera terik matahari dan di terpa hujan sang mantan aktivis yang kini telah menjadi Wakil Ketua BURT ini bersama-sama ribuan mahasiswa ketika itu tergabung dalam eksponen 98 tak pernah menyerah mengutuk prilaku korup di era Orde Baru.
Sampai-sampai, saking gencarnya sang mantan aktivis ini pernah pula melarikan diri ke luar negeri demi menyelamatkan diri, karena telah menjadi target oknum-oknum bersenjata yang menjaga kekuasaan orde baru kala itu.
Sampai-sampai, saking gencarnya sang mantan aktivis ini pernah pula melarikan diri ke luar negeri demi menyelamatkan diri, karena telah menjadi target oknum-oknum bersenjata yang menjaga kekuasaan orde baru kala itu.
Bahkan sebagai salah satu pimpinan rapat sang mantan aktivis ini pun ikut menandatangani hasil rapat yang meloloskan proyek ruang banggar senilai lebih dari 20 Milyar rupiah, tapi tetap saja mengaku tidak tahu.
Atau mungkin sang mantan aktivis ini tertidur saat rapat berlangsung, dan ketika bangun angka di rekeningnya telah bertambah jadi dia tak enak hati kalau tidak menandatangani hasil rapat itu.
Atau mungkin sang mantan aktivis ini tertidur saat rapat berlangsung, dan ketika bangun angka di rekeningnya telah bertambah jadi dia tak enak hati kalau tidak menandatangani hasil rapat itu.
Kalau kita kembali mengingat rangkaian kejadian menjelang keruntuhan era orde baru, mungkin kita masih bisa mengingat bahwa salah satu oknum bersenjata yang memburu beberapa aktivis eksponen 98 termasuk Wakil Ketua BURT ini.
Penguasa saat itu telah gerah dengan teriakan “Parlemen Jalanan” sehingga mereka di buru untuk dibungkam suaranya. Tapi itu dulu, kini sang mantan aktivis menjadi salah seorang Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) Dewan Perwakilan Rakyat.
Ternyata ‘Deal” politik telah terjadi antara sang mantan aktivis sebagi korban perburuan ketika itu, dengan Sang Panglima yang kini telah menjadi Ketua Umum Partai.
Penguasa saat itu telah gerah dengan teriakan “Parlemen Jalanan” sehingga mereka di buru untuk dibungkam suaranya. Tapi itu dulu, kini sang mantan aktivis menjadi salah seorang Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) Dewan Perwakilan Rakyat.
Ternyata ‘Deal” politik telah terjadi antara sang mantan aktivis sebagi korban perburuan ketika itu, dengan Sang Panglima yang kini telah menjadi Ketua Umum Partai.
Inilah negeri kita tercinta, dimana ketika masih di jalanan teriakan mereka kencang dan nyaring seolah hendak membelah bumi.
Tak kenal kata takut untuk menyuarakan keadilan, kesejahteraan rakyat kecil, pemerataan dan lain-lain yang terdegar merdu bagi “kaum kusam” (meminjam istilah Iwan Fals).
Tapi ketika telah masuk gedung megah, ber AC, punya kuasa dan memakai sepatu mengkilap selain jas dan dasi serta mobil mewahnya mereka akan mudah mengantuk.
Tak kenal kata takut untuk menyuarakan keadilan, kesejahteraan rakyat kecil, pemerataan dan lain-lain yang terdegar merdu bagi “kaum kusam” (meminjam istilah Iwan Fals).
Tapi ketika telah masuk gedung megah, ber AC, punya kuasa dan memakai sepatu mengkilap selain jas dan dasi serta mobil mewahnya mereka akan mudah mengantuk.
Sehingga dengan mudahnya mereka akan tertidur ketika kepentingan rakyat sedang di bicarakan.
Hilang ingatan terhadap apa yang baru saja terjadi di depan matanya sendiri, yang dulu dengan begitu gencarnya dia menyuarakan penolakan terhadap penindasan, korupsi kesewenang-wenangan tentu tak lagi haram seperti ketika masih bertajuk aktivis.
Hilang ingatan terhadap apa yang baru saja terjadi di depan matanya sendiri, yang dulu dengan begitu gencarnya dia menyuarakan penolakan terhadap penindasan, korupsi kesewenang-wenangan tentu tak lagi haram seperti ketika masih bertajuk aktivis.
Negeri ini sudah selayaknya berduka, sudah banyak dari mereka seperti sang mantan aktivis di atas yang “terkubur” di Gedung Dewan.
Tak ada lagi suara-suara yang begitu lantang menyuarakan keadilan, penegakan hukum, menuntut kebijakan pro rakyat. Semua telah hilang tertelan mewahnya Gedung Dewan berlindung di balik kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan.
Tapi ada yang bertambah dari mereka, para mantan aktivis di Gedung Dewan itu kini telah pandai tidur ketika rapat tengah berlangsung. Di luar mereka teriak keras tapi di dalam Gedung Dewan mereka bungkam.
Tak ada lagi suara-suara yang begitu lantang menyuarakan keadilan, penegakan hukum, menuntut kebijakan pro rakyat. Semua telah hilang tertelan mewahnya Gedung Dewan berlindung di balik kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan.
Tapi ada yang bertambah dari mereka, para mantan aktivis di Gedung Dewan itu kini telah pandai tidur ketika rapat tengah berlangsung. Di luar mereka teriak keras tapi di dalam Gedung Dewan mereka bungkam.
“Ku lihat Ibu pertiwi tengah sedang bersusah hati………………………..Kini Ibu sedang susah merintih dan berdoa…..” (penggalan lagu Ibu Pertiwi). Kesusahan Ibu Pertiwi telah di ketahui apa penyebabnya, kini kita nantikan mudah-mudahan doa Ibu Pertiwi terjawab. Amin. | AT | CR |

0 komentar:
Posting Komentar