
Acehtraffic.com - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dikenal sebagai presiden yang keras dan
lantang melawan hegemoni Amerika Serikat. Namun militer Amerika tidak takut
pada sosok Ahmadinejad, melainkan pada sosok seorang jenderal yang
pendiam, santun dan pemalu.
Di Republik Islam Iran, mereka yang mengenalnya, pasti akan menyebutkan
tentang kerendahan dan ketenangan hatinya. Dia bukan tipe orang yang “sulit
ditebak” seperti yang dikatakan oleh orang-orang Amerika.
Meski di dalam negeri tidak banyak cerita mengenainya. Namun di luar batas
Iran, sepak terjangnya diibaratkan oleh militer Amerika sebagai sosok
monster monster yang mengancam seluruh kepentingan Amerika Serikat di
kawasan Timur Tengah.
Tapi di dalam negeri ia dikenal sebagai seorang pribadi yang menarik dan
seorang kepala keluarga yang menyayangi istri dan anak-anaknya. Dialah Brigjen
Qassem Suleimani, Panglima Brigade Quds Iran.
Brigade Quds adalah pasukan super elite Iran, yang konon lebih misterius
dari pasukan Garda Revolusi [Pasdaran], yang dikenal menguasai seluruh aset dan
infrastruktur penting militer Iran. Pasukan ini dikenal karena operasi-operasi
militer dan doktrin yang sangat rapi dan terorganisir. Di Tehran, saat di
rumah, ia beraktivitas dengan teratur dan tenang.
Tapi ia dikenal sosok yang sangat berpengaruh. Militer Amerika menyebut
Suleimani sebagai orang yang sangat berpengaruh dalam politik luar negeri
Republik Islam Iran di Timur Tengah.
Begitu penting dan strategisnya Suleimani, sampai-sampai Kongres Amerika
Serikat, mengusulkan secara terbuka untuk meneror Suleimani, jika mungkin
dibunuh. Usulan teror dari lembaga kongres Amerika mengejutkan, sekaligus
menunjukkan kedangkalan akal mereka menghadapi Suleimani dan Pasukan Quds
yang dipimpinnya.
The Guardian terbitan Inggris dalam sebuah tulisannya menyebut banyak para
pejabat Amerika Serikat menyatakan sangat ingin bertemu dengannya serta sangat
terkesima terhadap aktivitasnya.
Seorang pejabat militer Amerika bahkan berkata, “Jika saya bertemu
dengannya, sangat sederhana sekali, saya akan bertanya apa yang diinginkannya
dari kami [Amerika].”
Meski Suleimani adalah seorang jenderal dan panglima sebuah pasukan militer,
Amerika Serikat lebih suka menudingnya sebagai teroris yang mengutamakan
operasi militer dalam mencapai target.
Amerika tidak dapat memungkiri bahwa Suleimani juga menang di medan politik.
Koran McClatchy terbitan Amerika Serikat edisi 30 Maret 2008 menyebutkan,
“Suleimani menjadi mediator dalam menghentikan bentrokan antara pasukan
keamanan Irak yang mayoritas Syiah dan pasukan radikal Moqtada Sadr di kota Basrah.
Langkah ini jelas tamparan bagi militer Amerika. Dan Suleimani menunjukkan
kemampuannya untuk unggul di kancah politik, bukan militer. Pada Januari 2005,
ketika berkunjung ke Irak untuk pertama kalinya pasca tumbangnya rezim
Saddam Hussein, Suleimani dengan santai meninjau lokasi pemungutan suara.
Saat Amerika Serikat mendukung Iyad Alawi sebagai calon perdana menteri,
Suleimani memulai aktivitasnya mengumpulkan dukungan terhadap kelompok Syiah
pro-Iran. Ia membimbing kelompok Syiah mencapai kemenangan dalam pemilu.
Pasca pemilu, Presiden Amerika Serikat kala itu, George W. Bush, menyebut
Irak akan segera memiliki pemimpin yang luar biasa. Nyatanya, hasil pemilu Iyad
Alawi kalah.
Zalmay Khalilzad, Duta Besar Amerika Serikat untuk Afghanistan pernah mengatakan,
“Sedemikian luas Amerika Serikat menuding Suleimani sebagai pengobar perang,
sebesar itu pula Suleimani aktif dalam mewujudkan perdamaian. Ia berperan
besar dalam mengakhiri bentrokan antara pasukan keamanan Irak dan pasukan
Muqtada Sadr.”
Seorang anggota parlemen Irak yang juga merupakan asisten PM Irak Nouri
al-Maliki, tentang Suleimani mengatakan, “Hanya sekali dia datang ke Irak dalam
delapan tahun terakhir.
Ia adalah sosok yang tenang ketika berbicara dan
rasional serta sangat sopan. Ketika Anda berbicara dengannya, ia berperilaku
sangat sederhana. Selama Anda tak tahu dukungan [pasukan] yang dimilikinya,
Anda tak akan pernah tahu berapa besar kekuatannya, tidak ada orang yang mampu
berperang melawannya.”
Tidak seperti para jenderal Amerika yang doyan main petak umpet saat
berkunjung ke Ira, Suleimani datang tanpa pengawal dan hanya ditemani dua
orang. Ia masuk ke kawasan yang dijaga ketat oleh militer Amerika Serikat
di Baghdad, yang disebut Zona Hijau. Di sana, ia melakukan perundingan dan
setelah itu kembali ke Iran dengan tenang.
Brigjen Qassem Suleimani, bukan sosok yang susah ditebak. Dia adalah
Panglima Brigade Quds, dan statusnya cukup membuat gentar orang-orang Amerika
Serikat. Untuk menutupi ketakutan mereka, disebar cerita-cerita fiktif
menakutkan tentang Suleimani.
Saat perang Iran-Irak meletus, Suleimani, pemuda kelahiran 11 Maret
1958 di Kerman, juga terjun ke medan. Tidak lama, Suleimani menjadi panglima
pasukan dari wilayahnya, dan setelah itu, ia memimpin Lashkar-e41 Sarallah.
Usai perang Panglima Besar Angkatan Bersenjata memanggil Suleimani ke Tehran
dan melantiknya sebagai Panglima Brigade Quds dan jabatan itu diembannya hingga
kini.
Ia momok bagi Amerika Serikat, tapi kebanggaan bagi Republik Islam Iran.
Dengan penampilan sedemikian sederhana, tidak akan ada orang yang menyangka
Suleimani adalah Panglima Brigade Quds jika ia tak mengenakan seragamnya. Ia
selalu dikenal di luar negeri sebagai sosok yang sangat menakutkan dan
mengancam kepentingan Amerika di Timur Tengah.| AT | LA |

0 komentar:
Posting Komentar