News Update :

“Monster” yang Ditakuti Amerika

Rabu, 07 Desember 2011

Acehtraffic.com - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dikenal sebagai presiden yang keras dan lantang melawan hegemoni Amerika Serikat. Namun militer Amerika tidak takut pada sosok  Ahmadinejad, melainkan pada sosok seorang jenderal yang pendiam, santun dan pemalu.

Di Republik Islam Iran, mereka yang mengenalnya, pasti akan menyebutkan tentang kerendahan dan ketenangan hatinya. Dia bukan tipe orang yang “sulit ditebak” seperti yang dikatakan oleh orang-orang Amerika.

Meski di dalam negeri tidak banyak cerita mengenainya. Namun di luar batas Iran, sepak terjangnya diibaratkan oleh militer Amerika sebagai sosok monster  monster yang mengancam seluruh kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Tapi di dalam negeri ia dikenal sebagai seorang pribadi yang menarik dan seorang kepala keluarga yang menyayangi istri dan anak-anaknya. Dialah Brigjen Qassem Suleimani, Panglima Brigade Quds Iran.

Brigade Quds adalah pasukan super elite Iran, yang konon lebih misterius dari pasukan Garda Revolusi [Pasdaran], yang dikenal menguasai seluruh aset dan infrastruktur penting militer Iran. Pasukan ini dikenal karena operasi-operasi militer dan doktrin yang sangat rapi dan terorganisir.  Di Tehran, saat di rumah, ia beraktivitas dengan teratur dan tenang.

Tapi ia dikenal sosok yang sangat berpengaruh. Militer Amerika menyebut Suleimani sebagai orang yang sangat berpengaruh dalam politik luar negeri Republik Islam Iran  di Timur Tengah.

Begitu penting dan strategisnya Suleimani, sampai-sampai Kongres Amerika Serikat, mengusulkan secara terbuka untuk meneror Suleimani, jika mungkin  dibunuh.  Usulan teror dari lembaga kongres Amerika mengejutkan, sekaligus menunjukkan  kedangkalan akal mereka menghadapi Suleimani dan Pasukan Quds yang dipimpinnya.

The Guardian terbitan Inggris dalam sebuah tulisannya menyebut banyak para pejabat Amerika Serikat menyatakan sangat ingin bertemu dengannya serta sangat terkesima  terhadap aktivitasnya.

Seorang pejabat militer Amerika bahkan berkata, “Jika saya bertemu dengannya, sangat sederhana sekali, saya akan bertanya apa yang diinginkannya dari kami [Amerika].”

Meski Suleimani adalah seorang jenderal dan panglima sebuah pasukan militer, Amerika Serikat lebih suka menudingnya sebagai teroris yang  mengutamakan operasi militer   dalam mencapai target.

Amerika tidak dapat memungkiri bahwa Suleimani juga menang di medan politik. Koran McClatchy terbitan Amerika Serikat edisi 30 Maret 2008  menyebutkan, “Suleimani menjadi mediator dalam menghentikan bentrokan antara pasukan keamanan Irak yang mayoritas Syiah dan pasukan radikal Moqtada Sadr di kota Basrah.

Langkah ini jelas tamparan bagi militer Amerika. Dan Suleimani menunjukkan kemampuannya untuk unggul di kancah politik, bukan militer. Pada Januari 2005, ketika  berkunjung ke Irak untuk pertama kalinya pasca tumbangnya rezim Saddam Hussein, Suleimani dengan santai meninjau lokasi pemungutan suara.

Saat Amerika Serikat mendukung Iyad Alawi sebagai calon perdana menteri, Suleimani memulai aktivitasnya mengumpulkan dukungan terhadap kelompok Syiah pro-Iran. Ia  membimbing kelompok Syiah mencapai kemenangan dalam pemilu.

Pasca pemilu, Presiden Amerika Serikat kala itu, George W. Bush, menyebut Irak akan segera memiliki pemimpin yang luar biasa. Nyatanya, hasil pemilu Iyad Alawi kalah.

Zalmay Khalilzad, Duta Besar Amerika Serikat untuk Afghanistan pernah mengatakan, “Sedemikian luas Amerika Serikat menuding Suleimani sebagai pengobar perang, sebesar  itu pula Suleimani aktif dalam mewujudkan perdamaian. Ia berperan besar dalam mengakhiri bentrokan antara pasukan keamanan Irak dan pasukan Muqtada Sadr.”

Seorang anggota parlemen Irak yang juga merupakan asisten PM Irak Nouri al-Maliki, tentang Suleimani mengatakan, “Hanya sekali dia datang ke Irak dalam delapan tahun terakhir.   

Ia adalah sosok yang tenang ketika berbicara dan rasional serta sangat sopan. Ketika Anda berbicara dengannya, ia berperilaku sangat sederhana. Selama Anda tak tahu dukungan [pasukan] yang dimilikinya, Anda tak akan pernah tahu berapa besar kekuatannya, tidak ada orang yang mampu berperang melawannya.”

Tidak seperti para jenderal Amerika yang doyan main petak umpet saat berkunjung ke Ira, Suleimani datang tanpa pengawal dan hanya ditemani dua orang. Ia masuk ke  kawasan yang dijaga ketat oleh militer Amerika Serikat di Baghdad, yang disebut Zona Hijau. Di sana, ia melakukan perundingan dan setelah itu kembali ke Iran dengan tenang.

Brigjen Qassem Suleimani, bukan sosok yang susah ditebak. Dia adalah Panglima Brigade Quds, dan statusnya cukup membuat gentar orang-orang Amerika Serikat. Untuk  menutupi ketakutan mereka, disebar cerita-cerita fiktif menakutkan tentang Suleimani.

Saat  perang Iran-Irak meletus, Suleimani, pemuda kelahiran 11 Maret 1958 di Kerman, juga terjun ke medan. Tidak lama, Suleimani menjadi panglima pasukan dari  wilayahnya, dan setelah itu, ia memimpin Lashkar-e41 Sarallah. 

Usai perang Panglima Besar Angkatan Bersenjata memanggil Suleimani ke Tehran dan melantiknya sebagai Panglima Brigade Quds dan jabatan itu diembannya hingga kini.

Ia momok bagi Amerika Serikat, tapi kebanggaan bagi Republik Islam Iran. Dengan penampilan sedemikian sederhana, tidak akan ada orang yang menyangka Suleimani adalah Panglima Brigade Quds jika ia tak mengenakan seragamnya. Ia selalu dikenal di luar negeri sebagai sosok yang sangat menakutkan dan mengancam kepentingan Amerika di Timur Tengah.| AT | LA |

Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016