Jakarta | Acehtraffic.com - Siapa yang menguasai persepsi publik, ia akan menjadi juara. Diktum inilah yang belakangan cukup populer.
Pemilik Media Group Surya Paloh dan Pemilik Gurp MNC Hary Tanoesudibyo memenuhi kualifikasi itu. Keduanya 'raja' di industri media yang kini berada satu biduk yakni di Partai NasDem. Akankah sukses di jalur politik?
Pemilik MNC Group Hary Tanoesudibyo resmi bergabung di Partai NasDem didaulat sebagai Ketua Dewan Pakar Partai melalui Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai NasDem di Jakarta, Rabu (9/11/2011). Peristiwa menjawab spekulasi yang selama ini beredar di publik ihwal bergabungnya Hary Tanoesudibyo di partai yang banyak melibatkan kader Ormas Nasional Demokrat itu.
Partai NasDem yang secara resmi tidak memiliki hubungan khusus dengan Ormas Nasdem ini, disebut-sebut sebagai kendaraan politik bagi bekas Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar Surya Paloh. Sebagaimana dimaklumi, Surya Paloh pada akhirnya resmi keluar dari Partai Golkar setelah mendapat ultimatum dari partai berlambang pohon beringin itu untuk memilih apakah berkiprah di Partai Golkar atau ormas Nasdem.
Bergabungnya Hary Tanoesudibyo menambah amunisi kekuatan di kubu Partai NasDem, yang sejak kehadirannya mendapat dukungan penuh dari Media Grup, milik Surya Paloh terdiri dari Meto Tv, Media Indonesia, dan media lokal lainnya. Adapun grup MNC milik Hary Tanoesudibyo di antaranya RCTI, MNC TV, Global TV, Koran Sindo, Sindo Radio, Okezone.com, hingga Sindonews.com.
Namun, bagi Sekjen DPP PPP Muhammad Romahurmuziy, berkumpulnya dua bos grup media itu sama sekali tidak merisaukan partai berlambang kabah itu. Dia menilai, meski mendapat sokongan modal yang kuat namun tak secara simetris akan unggul dalam perolehan suara. "Modal sosial dan jaringan tidak dimiliki Partai NasDem," terang Romi kepada wartawan di Jakarta.
Lebih dari itu, segmentasi konstituen yang dimiliki NasDem cenderung berada di ceruk basis nasionalis. Romi menyebutkan irisan ideologi yang dimiliki Partai NasDem cenderung memiliki kesamaan dengan Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Hanura.
Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Tjipta Lesmana mengatakan Partai NasDem sulit berkembang meski mendapat sokongan penuh dari dua bos media besar yakni Surya Paloh dan Hary Tanoesudibyo. "Partai NasDem susah berkembang pesat dalam tempo yang begitu cepat," katanya.
Dia mengatakan ada empat syarat yang harus dimiliki partai politik untuk dapat memenangi kontestasi melalui Pemilu yakni ketokohan, mesin partai, akar rumput yang kuat, serta modal. "Memang Hary Tanoe kuat dalam modalnya. Dilihat dari empat kriteria ini saya tidak yakin mereka akan unggul," cetusnya.
Tjipta tidak menampik peran media dalam sukses politik khususnya untuk kampanye politik. Namun, dalam pandangan Tjipta, tidak berarti orang yang menguasai media secara linier akan menang.
"Media memang memberikan kontribusi besar tapi tidak berarti siapa yang menguasai media maka akan menang, harus ada empat syarat tadi untuk memenangkan pemilu," tukasnya.
Pemilik Media Group Surya Paloh dan Pemilik Gurp MNC Hary Tanoesudibyo memenuhi kualifikasi itu. Keduanya 'raja' di industri media yang kini berada satu biduk yakni di Partai NasDem. Akankah sukses di jalur politik?
Pemilik MNC Group Hary Tanoesudibyo resmi bergabung di Partai NasDem didaulat sebagai Ketua Dewan Pakar Partai melalui Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai NasDem di Jakarta, Rabu (9/11/2011). Peristiwa menjawab spekulasi yang selama ini beredar di publik ihwal bergabungnya Hary Tanoesudibyo di partai yang banyak melibatkan kader Ormas Nasional Demokrat itu.
Partai NasDem yang secara resmi tidak memiliki hubungan khusus dengan Ormas Nasdem ini, disebut-sebut sebagai kendaraan politik bagi bekas Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar Surya Paloh. Sebagaimana dimaklumi, Surya Paloh pada akhirnya resmi keluar dari Partai Golkar setelah mendapat ultimatum dari partai berlambang pohon beringin itu untuk memilih apakah berkiprah di Partai Golkar atau ormas Nasdem.
Bergabungnya Hary Tanoesudibyo menambah amunisi kekuatan di kubu Partai NasDem, yang sejak kehadirannya mendapat dukungan penuh dari Media Grup, milik Surya Paloh terdiri dari Meto Tv, Media Indonesia, dan media lokal lainnya. Adapun grup MNC milik Hary Tanoesudibyo di antaranya RCTI, MNC TV, Global TV, Koran Sindo, Sindo Radio, Okezone.com, hingga Sindonews.com.
Namun, bagi Sekjen DPP PPP Muhammad Romahurmuziy, berkumpulnya dua bos grup media itu sama sekali tidak merisaukan partai berlambang kabah itu. Dia menilai, meski mendapat sokongan modal yang kuat namun tak secara simetris akan unggul dalam perolehan suara. "Modal sosial dan jaringan tidak dimiliki Partai NasDem," terang Romi kepada wartawan di Jakarta.
Lebih dari itu, segmentasi konstituen yang dimiliki NasDem cenderung berada di ceruk basis nasionalis. Romi menyebutkan irisan ideologi yang dimiliki Partai NasDem cenderung memiliki kesamaan dengan Partai Golkar, Partai Demokrat, dan Partai Hanura.
Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Tjipta Lesmana mengatakan Partai NasDem sulit berkembang meski mendapat sokongan penuh dari dua bos media besar yakni Surya Paloh dan Hary Tanoesudibyo. "Partai NasDem susah berkembang pesat dalam tempo yang begitu cepat," katanya.
Dia mengatakan ada empat syarat yang harus dimiliki partai politik untuk dapat memenangi kontestasi melalui Pemilu yakni ketokohan, mesin partai, akar rumput yang kuat, serta modal. "Memang Hary Tanoe kuat dalam modalnya. Dilihat dari empat kriteria ini saya tidak yakin mereka akan unggul," cetusnya.
Tjipta tidak menampik peran media dalam sukses politik khususnya untuk kampanye politik. Namun, dalam pandangan Tjipta, tidak berarti orang yang menguasai media secara linier akan menang.
"Media memang memberikan kontribusi besar tapi tidak berarti siapa yang menguasai media maka akan menang, harus ada empat syarat tadi untuk memenangkan pemilu," tukasnya.
| AT | RD | BJ


0 komentar:
Posting Komentar