Di warung kopi berbagai informasi bertukar, lain meja lain pula pembahasan, dari berbagai soal tersebut, salah satunya adalah soal perkembangan politik sekarang ini. Yaitu soal Pilkada.
Warung kopi tidak begitu sibuk, banyak meja yang tak di isi penikmat kopi, salah satu meja agak mengarah kekanan dari si penyaring kopi. Empat orang mantan GAM dan kini massa setia Partai Aceh, duduk dimeja tanpa diskusi, satu dan lainnya diam,
Tidak ada pembicaraan serius diantara mereka. Ada yang asik menikmati kopi, isap rokok, dan makan kue. Tak lama kemudian seorang lelaki paruh baya datang, dan langsung mengambil kursi untuk bergabung.
Dia duduk dan memesan kopi, dari rawut wajahnya ia ingin ajak bicara. Tapi itu dialunkan dengan mengaduk kopi ……Tiba –tiba lelaki Paruh baya yang diketahui anggota teras GAM/Partai Aceh memulai diskusi.
“ Hai kiban ka Geutanyoe [Hai bagaimana sudah kita] ?
Pertanyaan itu dimalsudkan adalah perkembangan kondisi politik Partai Aceh. Kawan diskusi tidak menjawab, wajahnya seperti mencerna, lama terdiam tidak ada yang jawab.
Lelaki Paruh, yang katanya mantan panglima sagoe itu, coba menyampaikan pandangan dia tentang kondisi Partai Aceh saat ini. Ilustrasinya dimana Partai tersebut menolak independen melalui Qanun Pilkada, dengan alasan mempertahankan UUPA sesuai MoU.
Upaya agar pilkada ditunda juga dilakukan Partai Aceh dengan demontrasi massa. Karena alasan itu pula Partai Aceh tidak mencalonkan Gubernur. Sementara kandidat gubernur dan bupati diluar Partai Aceh sudah mendaftar dan akan bertarung untuk jadi pemimpin 2012-2017.
Usaha penolakan yang sesuai dengan misi Partai Aceh pun belum menunjukkan arah kemenangan yang sesuai dengan tujuan. Ditengah konsolidasi itu, ada pula mantan Combatan yang mendaftar lewat jalur Independen. Kondisi itulah, yang mungkin diistilahkan oleh mantan Pangsago itu.
Dengan “Sang Geutanyoe Ka Lagee Menutee Hana Soe Kuet” [Sepertinya kita, sudah capek menumbuk padi, tapi tak ada yang kumpulkan pas selesai] Atau mungkin bisa diartikan, ketidakjelasan dan kebingungan, seperti tidak ada tempat lagi.
Konflik pilkada Aceh kali ini antara Partai Aceh dan Jalur Independen, sama tapi tak serupa dengan konflik pada Pilkada 2006, Dimana para Mentero mengambil kebijakan mencalonkan gubernur Humam-Hasbi [H2O] lewat Partai persatuan Pembangunan [PPP]. Kandidat usungan Mentero kalah. Dan Jalur Independen yang diusung rakyat pejuang- dan akhirnya menang.
Sekarang, dr Zaini-Muzakkir calon gubernur dari Partai Aceh, namun tidak mendaftar karena pilkada tidak sesuai UUPA –dengan MoU. Sementara Irwandi Yusuf maju lewat jalur Independen , dulu juga sempat terjadi bentrok antara kedua kelompok itu, layaknya sekarang.
Waktu itu jalur independen hampir tidak ada dukungan dari combatan, sebabnya setelah keluar penutoh dari petinggi GAM yang menyatakan bahwa kelompok itu mendukung H2O. alergi terhadap parnas masih mengental ditambah lagi karena kesal akibat berpalingnya petinggi dari Jalur Independen yang di perjuangkan dalam MoU, tapi tak digunakan.
Namun bagi Rakyat pejuang [bukan petinggi] karena sadar bahwa jalur independen amanat MoU ? akhirnya prajurit dan simpatisan GAM, memberi dukungan mutlak ke Irwandi-Nazar yang naik lewat Independen.
Jadi sekarang bila PA tetap tidak ikut pilkada kemana simpatisan berlabuh? Hanya waktu yang bisa menjawab, atau tetap seperti diistilahkan oleh mantan Pangsago itu. "Geutanyoe Ka Lagee Menutee Hana Soe Kuet” | AT | INDRYA - Minggu 13-11-2011
Arti kata :
* Menutee adalah orang yang melakukan penumbukan padi dengan alat Jengki
*Jeungki/Jingki adalah alat penumbuk padi tradisional masyarakat Aceh. Jeungki tidak dapat dipisahkan dari kehidupan petani tradisional Aceh. Pada masa dulu hampir setiap keluarga mempunya Jeungki yang berfungsi untuk menumbuk padi atau beras.
Selain itu Jeungki juga dapat digunakan untuk menumbuk kopi, sagu, emping beras, tepung atau menumbuk bumbu masakan dan kelapa dalam proses pengolahan minyak kelapa dengan cara tradisional Aceh.

0 komentar:
Posting Komentar