Meulaboh | acehtraffic.com - Jumlah
penderita HIV/AIDS di Provinsi Aceh pada triwulan ketiga tercatat 99 jiwa yang
didominasi kaum pria akibat melakukan prilaku seks menyimpang, kata Sekretaris
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Pemerintah Aceh, Dr Ormaia Nya'
Oemar. Kamis [24/11]
"Angka ini sanggat besar peningkatannya,
karena pada tahun 2004 lalu hanya ada satu khasus yang kami temukan dan ini
sudah harus menjadi perhatian serius dari pemerintah Aceh," katanya usai
seminar peringatan hari HIV/AIDS sedunia di Meulaboh.
Ia mengatkan bahwa Pemerintah sudah sudah
menyiapkan berbagai fasilitas medis guna mencegah terjadinya penularan sehingga
semakin meningkatkan jumlah penderita.
Lebih lanjut dikatakan, dari 17 Kabupaten/Kota di
Provinsi Aceh, hanya tiga daerah yang belum ditemukan adanya korban gejala
penyakit mematikan itu, yakni Subulussalam, Kabupaten Aceh Singkil dan Nagan
Raya.
Kemudian rata-rata Kabupaten/Kota lain didomisili
oleh penderita HIV/AID dari tiga sampai 11 jiwa dan dikhawatirkan jumlah itu
semakin meningkat karena kurangnya keterbukaan penderita memeriksakan kesehatan
mereka, katanya.
Ia mengatakan, terjadinya peningkatan penderita
penyakit itu di wilayah Aceh karena para penderita tidak terbuka kepada pihak
medis, kemudian penyakit mematikan ini akan terus terinfeksi pada keluarga
mereka.
"Ini angka yang kami catat, bisa saja jumlah
penderita penyakit ini lebih banyak namun tidak ada warga yang mengakui karena
malu dan sebagainya, padahal ini sangat berbahaya untuk kehidupan keluarga
mereka," imbuhnya.
Dr Ormaia menyebutkan, Pemerintah Aceh sudah
menyediakan dana untuk pengobatan rutin pasien ini capai 75 dolar AS pertahun
umntuk setiap penderita ditambah dengan fasilitas medis di rumah sakit yang
diperkirakan mampu disembuhkan.
Lanjutnya, dari data tercatat 99 jiwa tersebut
seluruhnya sudah terinfeksi "operteminitas" yang sudah sulit untuk
diselamatkan, sementara kemungkinan besar di luar itu banyak korban lain juga
namun enggan memeriksakan diri.
Solusi lain, katanya, di Aceh yang disebutb
sebagai Serambi Mekkah, warganya bisa kembali pada Petunjuk Agama Islam agar
tidak terkena penyakit mematikan itu, kemudian mencegah empat penularan yakni
pengunaan narkoba, ganti jarum suntik, seks yang menyimpang, dan transfusi
darah.
"Kalau warga Aceh bisa melakukan saran empat
pencegahan tersebut pasti frekwensi peningkatan jumlah penderita bisa ditekan,
terutama sekali keterbukaan mereka yang sangat diharapkan agar bisa kami cegah
tertular pada keluarga mereka," sebutnya.
Pemerintah Aceh menargetkan pemutusan mata rantai
paling tidak frekwensi penyakit itu bisa ditekan sampai satu persen dari total
penduduk Aceh pada tahun 2015. | ANT


0 komentar:
Posting Komentar