66 Tahun lalu ada peristiwa menarik dan menyedihkan terjadi Aceh, mungkin ini tepat untuk kita baca dan pahami disaat kondisi kisruh Pilkada saat ini. Perang Cumbok didasari oleh cara pandang, masyarakat atau yang memilki akses ke Ulama atau Ulama merasa tidak lurus memandang Ule Balang, Ule Blang sangat luas akses, dan mampu serta berkuasa, karena mereka termasuk yang beruntung dikala Belanda berada di Aceh.
Sementara kalangan masyarakat atau segelintir yang mengklaim diri Ulama tinggal didesa dan pasti tidak mendapatkan kesempatan berkuasa. Entah salah ngomong atau lebih meyakinkan kemajuan, menurut sejarah, hanya Ule Balang dari Pidie yaitu Tengku Daud Cumbok, yang dilukiskan sangat kasar, dan memerintahkan grebek rumah orang PUSA. Dan membuat kemaksiatan lain.
Begitu paparan sejarahnya. Kemudian orang PUSA menyerang markas Daud Cumbok. Rumahnya dibakar harta di rampas oleh barisan yang di kordinir Daud Bereu eh. Dalam sejarah disebutkan Tidak semua Ule Balang seperti Daud Cumbok yang menginginkan Belanda kembali ada di Aceh.
Namun provokasi bawa “Ule Balang pengundang penjajah” Ule Balang Aneuk Haram, dan Halal Darahnya, dan pengkhianat, menjadi bahan bakar ampuh bagi PUSA agar masyarakat bangkit dan melawan.
Walaupun ada sejumlah Ule Balang tidak berprilaku seperti Tengku Daud Cumbok Pidie, tapi pejuang yang berlebelkan Islam itu menyemaratakan, Ule Balang . Padahal T. Nyak Arif memiliki tujuan yang baik untuk segera membangun Aceh pasca penjajahan.
Teuku Hamid Azwar, dan Teuku Ahmad Jeunib yang mendukung Republik Begitu juga Ampon Chik Peusangan Matang Gelumpang II Bireuen, dia tidaklah seperti yang dilukiskan terhadap Daud Cumbok Pidie, Teuku Haji Cik Mohamad Johan Alam Syah, dari Peusangan memakmurkan rakyatnya. Ia mengadopsi teknologi irigasi dan pendidikan, dan akomodatif terhadap ulama, hingga Peusangan cepat maju.
Tapi dibawah provokasi dan ada rada rada tipu-tipu dengan melebelkan diri Ulama masyarakat bangkit dan membunuh Ule Balang, Istri Ule Balang yang cantik disikat, begitu juga dengan harta warisan.
Kata kunci disini adalah, bagi PUSA Ule Balang itu, pengundang Penjajah, orang tidak baik, pengkhianat, dan sumpah serapah yang lain. Itulah yang dikembangkan, istilahnya Pusalah yang berhak dan sangat berkompeten, apalagi dalam kontek menegak Islam.
Tengku Daud Beure eh sangat piawai dalam mengobarkan semangat rakyat untuk setuju dengan misinya, padahal belum tentu semua benar yang dianggap oleh PUSA. Tapi berbicara kepentingan dan kebencian serta posisi, semua terjadi, yang salahpun dipaksakan untuk benar.
Dan se-akan akan “Pusa adalah demi Republic, Sementara Ule Balang Mengundang Penjajah“
Dalam berbagai tulisan tentang Perang Cumbok, disana juga terlihat Gerakan PUSA ada kaitan perebutan nama dan kekuasaan dalam menyambut kemerdekaan Republic Indonesia.
Tak heran jika Ule Balang tidak dibantai, niat itu tak bakal dicapai, pasalnya Ule Balang lebih mengerti dalam pemerintahan dan dalam mengatur pemerintahan, karena sudah berpengalaman diajarkan Belanda.
Daud Bereu eh tidak bakal setuju dengan kondisi ini, Bahkan pasukan bentukan pemerintah Indonesia sebagai tentera resmi di Aceh dibawah pimpinan Teuku Nyak Arif kelompok Ule Balang di Perangi. T.Nyak arif dibuang ke Takengon hingga meninggal.
Seorang tentara T.Nyak Arif yang selamat dari kepungan pasukan PUSA, melarikan diri keluar Aceh, sesampai di kaki gunung Seulawah, dengan isak tangis dan keterpaksaan “Ia bersumpah “Hai Gunong Hai, ku meujanji han akan kuwo u Aceh yang lagenyoe rupa, Aceh yang Ku-eh [Sirik], Peculok [Provokasi] dan Peusuna [menghasut]
Endingnya, Sejak itu citra ulama melambung. Daud Beureueh kian populer sebagai pemimpin revolusi. Soekarno yang tahu besarnya pengaruh Beureueh, membujuknya untuk membentuk pasukan militer di Aceh.
Akhirnya pada 1948, seluruh pasukan yang berafiliasi ke PUSA melebur ke TNI. Sedangkan Daud Beureueh diangkat jadi gubernur militer membawahi Aceh, Langkat, dan Tanah Karo dengan pangkat Mayor Jenderal. Ule Balang terbenam, dan Daud Bereu’eh berkuasa.
” Banyak pihak tidak mau membahas persoalan ini, “ Terlalu pahit”
"Saya tidak mau membicarakannya," kata Profesor Teuku Ibrahim Alfian, ahli sejarah dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ayah dan ibu Ibrahim memang selamat dari Perang Cumbok, Aceh, 1946.
Tapi nenek, kakek, pamaaan, juga banyak sepupunya jadi korban massa yang marah pada keluarga uleebalang, bangsawan. "Saya tak tahu di mana kubur mereka sampai kini," kata Ibrahim dengan suara bergetar. Sebagaimana dilansir Majalah TEMPO. -bersambung -Bau Peuculok & Peusuna Ala Perang Cumbok Dalam Pilkada Aceh [2]
Sementara kalangan masyarakat atau segelintir yang mengklaim diri Ulama tinggal didesa dan pasti tidak mendapatkan kesempatan berkuasa. Entah salah ngomong atau lebih meyakinkan kemajuan, menurut sejarah, hanya Ule Balang dari Pidie yaitu Tengku Daud Cumbok, yang dilukiskan sangat kasar, dan memerintahkan grebek rumah orang PUSA. Dan membuat kemaksiatan lain.
Begitu paparan sejarahnya. Kemudian orang PUSA menyerang markas Daud Cumbok. Rumahnya dibakar harta di rampas oleh barisan yang di kordinir Daud Bereu eh. Dalam sejarah disebutkan Tidak semua Ule Balang seperti Daud Cumbok yang menginginkan Belanda kembali ada di Aceh.
Namun provokasi bawa “Ule Balang pengundang penjajah” Ule Balang Aneuk Haram, dan Halal Darahnya, dan pengkhianat, menjadi bahan bakar ampuh bagi PUSA agar masyarakat bangkit dan melawan.
Walaupun ada sejumlah Ule Balang tidak berprilaku seperti Tengku Daud Cumbok Pidie, tapi pejuang yang berlebelkan Islam itu menyemaratakan, Ule Balang . Padahal T. Nyak Arif memiliki tujuan yang baik untuk segera membangun Aceh pasca penjajahan.
Teuku Hamid Azwar, dan Teuku Ahmad Jeunib yang mendukung Republik Begitu juga Ampon Chik Peusangan Matang Gelumpang II Bireuen, dia tidaklah seperti yang dilukiskan terhadap Daud Cumbok Pidie, Teuku Haji Cik Mohamad Johan Alam Syah, dari Peusangan memakmurkan rakyatnya. Ia mengadopsi teknologi irigasi dan pendidikan, dan akomodatif terhadap ulama, hingga Peusangan cepat maju.
Tapi dibawah provokasi dan ada rada rada tipu-tipu dengan melebelkan diri Ulama masyarakat bangkit dan membunuh Ule Balang, Istri Ule Balang yang cantik disikat, begitu juga dengan harta warisan.
Kata kunci disini adalah, bagi PUSA Ule Balang itu, pengundang Penjajah, orang tidak baik, pengkhianat, dan sumpah serapah yang lain. Itulah yang dikembangkan, istilahnya Pusalah yang berhak dan sangat berkompeten, apalagi dalam kontek menegak Islam.
Tengku Daud Beure eh sangat piawai dalam mengobarkan semangat rakyat untuk setuju dengan misinya, padahal belum tentu semua benar yang dianggap oleh PUSA. Tapi berbicara kepentingan dan kebencian serta posisi, semua terjadi, yang salahpun dipaksakan untuk benar.
Dan se-akan akan “Pusa adalah demi Republic, Sementara Ule Balang Mengundang Penjajah“
Dalam berbagai tulisan tentang Perang Cumbok, disana juga terlihat Gerakan PUSA ada kaitan perebutan nama dan kekuasaan dalam menyambut kemerdekaan Republic Indonesia.
Tak heran jika Ule Balang tidak dibantai, niat itu tak bakal dicapai, pasalnya Ule Balang lebih mengerti dalam pemerintahan dan dalam mengatur pemerintahan, karena sudah berpengalaman diajarkan Belanda.
Daud Bereu eh tidak bakal setuju dengan kondisi ini, Bahkan pasukan bentukan pemerintah Indonesia sebagai tentera resmi di Aceh dibawah pimpinan Teuku Nyak Arif kelompok Ule Balang di Perangi. T.Nyak arif dibuang ke Takengon hingga meninggal.
Seorang tentara T.Nyak Arif yang selamat dari kepungan pasukan PUSA, melarikan diri keluar Aceh, sesampai di kaki gunung Seulawah, dengan isak tangis dan keterpaksaan “Ia bersumpah “Hai Gunong Hai, ku meujanji han akan kuwo u Aceh yang lagenyoe rupa, Aceh yang Ku-eh [Sirik], Peculok [Provokasi] dan Peusuna [menghasut]
Endingnya, Sejak itu citra ulama melambung. Daud Beureueh kian populer sebagai pemimpin revolusi. Soekarno yang tahu besarnya pengaruh Beureueh, membujuknya untuk membentuk pasukan militer di Aceh.
Akhirnya pada 1948, seluruh pasukan yang berafiliasi ke PUSA melebur ke TNI. Sedangkan Daud Beureueh diangkat jadi gubernur militer membawahi Aceh, Langkat, dan Tanah Karo dengan pangkat Mayor Jenderal. Ule Balang terbenam, dan Daud Bereu’eh berkuasa.
” Banyak pihak tidak mau membahas persoalan ini, “ Terlalu pahit”
"Saya tidak mau membicarakannya," kata Profesor Teuku Ibrahim Alfian, ahli sejarah dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ayah dan ibu Ibrahim memang selamat dari Perang Cumbok, Aceh, 1946.
Tapi nenek, kakek, pamaaan, juga banyak sepupunya jadi korban massa yang marah pada keluarga uleebalang, bangsawan. "Saya tak tahu di mana kubur mereka sampai kini," kata Ibrahim dengan suara bergetar. Sebagaimana dilansir Majalah TEMPO. -bersambung -Bau Peuculok & Peusuna Ala Perang Cumbok Dalam Pilkada Aceh [2]
Note :
Kalau ada komentar dengan tulisan ini atau yang lain, sampaikan aspirasi anda via email redaksiaceh.traffic@gmail.com


0 komentar:
Posting Komentar