News Update :

Teumakot "LSM" Dalam Pilkada Aceh

Sabtu, 22 Oktober 2011

Hadirnya beberapa  LSM dalam konflik Pilkada bukanlah untuk membawa ketauladanan sebagai fungsi kontrol dan fungsi penengah kepada masyarakat. Tetapi justru terlibat sebagai agen untuk menguburkan masyarakat dalam kontek kepentingan kelompok tertentu.

Bahkan semenjak awal perselisihan pendapat tentang pilkada, ada LSM yang berfungsi sebagai pasukan petempur terhadap kandidat calon tertentu dalam upaya mengamankan atau meng-golkan tujuan pihak atau Tuan yang sedang dibelanya.

|||

Disinilah penulis tergugah hati untuk menorehkan penglihatan ini, karena merasa aneh dan mengelitik pemikiran tentang kondisi dan situasi LSM dalam gaya ikut campur  diranah “Konflik Pilkada Aceh”.

Karena LSM berfungsi sebagai pengontrol sosial dan LSM juga disebut sebagai kelompok Presure Group karena fungsinya bisa melakukan penekanan terhadap para penguasa apabila aspirasi-aspirasi masyarakat secara umum tidak di tampung bukan kelompok masyarakat tertentu.

Seharusnya dalam kontek ini,  LSM jangan mempraktekkan “Politik aksi dan Reaksi”, artinya jangan se-akan-akan kondisi seperti demonstrasi, pengerahan masa terjadi dengan sendirinya tanpa ada penunggangnya, dalam hal ini terkesan rakyat sangat sadar melakukan itu, padahal   tidak tertutup kemungkinan awak-awak LSM juga ikut menjadi penunggang dibelakangnya.

LSM seperti itu juga  mengerjakan dua posisi, posisi sebagai penunggang dan posisi sebagai yang memberi respon, dalam memberi respon, Lsm melakonkan sosok yang bijaksana dan cerdas menganalisa kondisi kedepan, bahkan menampakkan kondisi tersebut dengan harapan bakal memperoleh kondisi sesuai dengan target politik tertentu dan kelompok tertentu.

Metode “Surak Rame Rame “ agar mengesankan “gawat” dan kuat akan berakhir “Luwat” seperti teriakan 43 LSM yang meminta pemerintah menunda pilkada, dan meminta KIP untuk menghentikan pilkada sampai hukum jelas [menurut lsm ini] dan mengancam akan menggugat gubernur dan wakil yang telah memaksakan terlaksana tahapan pilkada dan penggunaan anggaran pilkada.

Bila mau di telaah lebih jauh- ke 43 LSM tersebut belum tentu semua lembaga memiliki status dan legalitas hukum yang jelas, begitu juga dengan kantor dan pengurusnya. Karena ada banyak LSM yang dirikan dan dikelola sendiri, dan untuk mata pancing demi mempertahankan hidup pemiliknya. Tapi bukan memposisikan diri sebagai  LSM yang setiap hari berpikir bagaimana cara membuat hidup warga Aceh Makmur dan Sejahtera.

Tapi teriakan-demi teriakan terkadang dilakukan oleh tim sukses namun menggunakan nama LSM, ada juga tergantung kesepakatan dengan sponsor dan keyakinan kelompok, pengharapannya, sekarang dan masa mendatang mendapat bagian dalam pengelolaan apapun, yang pastinya jelas bau  ekonomi.

Dan ada juga pemilik LSM sedang mencari posisi dimata para pihak bertikai, karena sudah lama terapung dilautan luas,  namun belum tahu kemana pelabuhan sandaran, dengan situasi ini, pemilik LSM coba memasang kordinat untuk menemukan pelabuhan mana yang empuk untuk bersandar.

|||
Terkadang ada suatu aneh tabiat yang dibawa oleh individu-individu diLSM, yaitu ada sifat konsep saya “Paling Gawat dan Paling Hebat” dan sifat menciptakan ketergantungan para pihak yang merasa di bela agar mereka melihatnya adalah “Tokoh yang Gawat dan Hebat”.

Dengan itu posisi awak LSM dan kelompok yang sedang di tolongnya berada pada posisi yang sama dan dihargai. Dengan dihargai maka tujuan atau misi akan mudah dimasukkan kedalam kelompok yang sedang dibela.

Awak LSM juga ada punya prinsip seperti tukang cat, yang akan selalu berusaha mengecat orang-orang sesuai dengan seleranya, walaupun dia sadar bahwa seleranya itu hanya untuk sementara.

Awak LSM yang terkenal pandai melogikakan sesuatu, tidak diragukan lagi dalam upaya menyakinkan orang-orang sesuai keinginannya, dan melakukan upaya “Peu maoop / Peutakot”.  Dalam prosesnya dia [LSM] akan selalu mengatakan ini adalah kepentingan bersama dan akan merugikan rakyat serta akan ada reaksi rakyat, dengan peyakinan bahwa betul ini kepentingan bersama, dan seakan tali hidung rakyat sudah ada sama mereka.

Dalam kontek dukung –mendukung dalam pilkada,  sadarkah anda bahwa ada serangkaian target tertentu dari awak LSM, yang kemudian akan dinikmati segelintir orang diLSM itu, tapi bukan untuk keseluruhan masyarakat.

Jika nanti anda bertanya apa keuntungan dari teriakan kita hari ini? Mereka akan memberi alasan logis yang lain, hingga anda kembali terpesona dan setia kembali bersama konsep yang ditebarkan.

Sadarlah, bahwa anda sedang di dalam ayunan empuk yang tidak hentinya bergoyang di tambah lagi hembusan angin sepoi-sepoi, anda terpesona dengan pemaparan yang dibarengi  gaya tangan seperti silat Jacky Chan, begitu juga penjelasan yang dilakonkan dengan gaya pidato Fidel Castro,  seakan –akan menghempaskan dunia.

Ini adalah sebuah analisa dengan realitas yang terlihat dan ditelusuri.  Tapi tahukan anda yang sebenarnya…?  
 
Tidak ada kepentingan yang lebih besar dalam kehidupan ini, kecuali semua itu hanyalah usaha untuk menjamin keberlanjutan pendapatan dan isi perut para sutradara-sutradara itu, sementara anda [masyarakat] di suap dengan manajemen harapan yang tidak jelas kapan finisnya.

*Penulis Ihsan Ibrahim seorang warga aceh yang berdomisili di Malaysia
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016