News Update :

Muslimah Kanada: Islam Menghormati, Jilbab Identitas Kami!

Senin, 03 Oktober 2011



Toronto | Acehtraffic.com – Tiga Muslimah terkejut saat mendengar terikan keras dari seorang perempuan kulit putih berambut pirang. Tidak terdengar jelas, lantaran suara perempuan itu terhempas kereta bawah tanah yang tengah melintas. 

"Anda perlu menantang orang-orang dalam agama anda, terutama para imam, untuk menghormati kaum perempuan," kira-kira begitulah suara yang terdengar.

Umpatan perempuan itu tidak direspon secara langsung oleh tiga Muslimah tadi. Namun segera muncul perbincangan menarik di antara ketiganya. "Islam menghormati kami. Kami tidak terlalu peduli dengan omong kosong itu," ujar salah seorang dari mereka, Gehad El Sayed, mahasiswa farmasi University of Toronto.

Bagi Gehad, jilbab adalah bagian dari identitasnya. Baginya, jilbab tak ubahnya sepasang sepatu. "Saat mengenakan jilbab, aku tidak berhenti main sepak bola dan voli. Aku berinteraksi dengan orang-orang, dan tidak terjebak di sebuah bilik," katanya.

Ambren Syed, Muslimah lainnya, mengaku sempat ragu apakah mengenakan jilbab atau tidak. Namun bagi keluarga Ambren, yang merupakan imigran dari Banglore, mengenakan jilbab adalah tradisi. "Aku takut," kenang gadis 24 tahun ini. "Aku takut dengan reaksi orang sekitar. Dapatkah aku hidup dengan jilbab, bisakah aku mencintainya." 

Ambren mengaku kecewa dengan perhatian orang yang berlebihan terhadap jilbab. Sebab, baginya, perhatian itu merupakan bentuk lain rasisme. "Aku memutuskan memakai jilbab sebagai bentuk perlawanan dan kebebasan berekspresi. Aku ingin diidentifikasi sebagai seorang Muslim," tegasnya.

Seiring berjalannya waktu, Ambren merasakan betul manfaat mengenakan jilbab. Suatu hari, saat ia berusia 14 tahun, ia selamat dari pelecehan seorang laki-laki tak dikenal. "Mereka malah takut denganku," tuturnya.

Manfaat lain, ungkap Syed, ia merasa cantik. "Tak kusangka jilbab membuatku terlihat cantik. Sangat menyenangkan." 

Namun pengalaman menyenangkan tidak melulu dialami Ambren. Ia sempat dikucilkan teman-temannya saat kuliah dulu. Tapi itu masa lalu. Kini, ia begitu dihormati, meski masih ada saja yang mencemooh.

Lain lagi kisah, Sahare Amor, warga Oakville. Ia mengenakan jilbab saat berusia 17 tahun, tepatnya 1 Januari 2009. Saat itu, ia terinspirasi mengenakan jilbab dari seorang aktris Mesir, Hanan Turk.

"Dia sangat terkenal di Mesir, cantik dan memiliki segalanya. Suami, anak-anak dan membintangi banyak film. Dia tidak merasa bersalah. Itu yang membuatku berpikir tentang situasi yang kualami," kenangnya.

Inspirasi lain Sahare datang dari ibunya, Sanaa, yang mulai mengenakan jilbab pada usia 40 tahun. "Hal ini mengingatkanku bahwa aku tidak tinggal di negara Muslim. Aku harus menjaga keimananku dan mewakili Islam," kata gadis kelahiran Maroko ini.

Sahare mengatakan jilbab adalah masalah hubungannya dengan Tuhan. "Aku merasa lebih dekat dengan-Nya. Ketika memakainya, itu membuatku sadar bahwa Dia di mana-mana dan tahu segalanya," ujar mahasiswi McMaster University yang jago taekwondo ini.

Gadis yang fasih berbahasa Prancis ini percaya bahwa perempuan dihormati karena agamanya. "Perempuan seperti berlian. Anda dapat melihat mereka di kotak kaca, namun tidak setiap orang bisa menyentuhnya," kata Sahare.

Lain lagi cerita Sophia Shiddiqi. Ia mulai mengenakan jilbab saat berusia 25 tahun. "Saya lahir dan dibesarkan dalam budaya dan sistem sekolah di mana saya mengajar kini," katanya. "Tapi saya Muslim dan warga Kanada." 

Tahun 2006 merupakan kilas balik bagi Sophia, ketika ia, suami dan mertuanya umrah ke Makkah. "Selama tiga pekan di sana, kehidupan kami berkisar antara shalat dan ibadah. Makkah adalah tempat yang indah, dan paling damai di dunia," kenangnya.

Dari situlah, Sophia mulai yakin untuk membuat keputusan penting dalam hidupnya. Ia mengenakan jilbab. |AT/Yd/Rep
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016