News Update :

"Lon Koen Teroris"

Sabtu, 08 Oktober 2011



Acehtraffic.com -- Semua hanya lantaran di KTP-nya tertulis: ET. Ia marah pada nasib. Ia pun memberontak. Ia mengubah secara drastis haluan hidupnya. Tak ada pekerjaan sama artinya dengan nasib baik tak berpihak kepadanya. Nasib baik tak berpihak sama artinya dengan ia memang tak wajib berbuat kebaikan. Maka, dunia gelap menjadi pilihannya. Ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kegelapan pun bisa menguntungkan. Ia sangat yakin pada keputusan itu.

Dengan kemarahan dan dendam yang membuncah di rongga dadanya, ia menapaki dunia hitam setapak demi setapak. Dua hal yang ia jadikan modal adalah keberanian dan nekad. Keberanian, karena deraan yang dialaminya di penjara jauh lebih keras dan ganas dibandingkan dengan kehidupan yang ia hadapi di luar. Nekad karena ia merasa tak diberi kesempatan untuk melakukan kebaikan.

Jika pada awalnya Dulhadi hanya mengembara dari kejahatan kecil ke kejahatan kecil, benderanya mulai berkibar saat ia berani menghabisi salah satu musuhnya. Saat itu Dulhadi dianggap sudah melewati batas wilayah yang secara informal telah dibagi. Dulhadi bukan secara sengaja melakukannya, namun lantaran terpaksa karena sasaran yang sedang diincarnya terus bergerak hingga melewati tapal batas. 

Pemilik wilayah yang dilintasi Dulhadi merasa tersinggung, bahkan marah besar. Namun Dulhadi tak peduli. Ia merasa tak bersalah. Toh sejak awal ia memang tak berniat melakukan itu. Terjadilah pertikaian dan berakhir dengan nyawa musuhnya yang harus melayang.

Dulhadi pun mulai dipandang. Ia tak lagi hanya sekadar teri, namun sudah mulai berpotensi menjadi kakap. Akibat peristiwa itu, Dulhadi kembali ke balik jeruji besi. Bedanya, kali ini ia harus lebih dulu menjalani persidangan. Perlakuan di penjara pun jauh berbeda dibandingkan yang dulu, ketika kasus politik yang disandangkan kepadanya.

Di dalam penjara, Dulhadi ternyata mampu menambah tinggi kibaran benderanya. Seorang brengos – napi yang paling ditakuti – ia libas dengan sempurna. Semua hanya gara-gara masalah yang bisa dikatakan sangat sepele. Salah seorang anak asuh Dulhadi dicolek. Dulhadi pun membelanya habis-habisan. 

Ketika berhadapan dengan tokoh paling ganas, ia tak mundur. Keberanian dan kenekadannya membuahkan kekuatan yang tak terkira. Akibatnya, napi yang paling ditakuti itu pun harus terkapar berdarah-darah. Meski akibatnya Dulhadi harus menerima ganjaran berupa kurungan dan larangan keluar dari kamar tahanan, namun nama Dulhadi makin bersinar.

Sekeluar dari penjara, Dulhadi pun menjelma menjadi sosok yang makin menakutkan. Beberapa bekas musuhnya bahkan memilih bergabung di bawah benderanya. Ia menjadi ketua. Ia menjadi komandan. Ia menjadi penguasa di dunia hitam.

Sampai ketika kawan-kawannya satu demi satu menghilang dan beberapa hari kemudian ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan – banyak lubang peluru di tubuh mereka, kadang-kadang juga dengan anggota tubuh yang sudah tak lagi sempurna dan semua seperti sengaja ditebar di mana-mana tanpa diketahui pelakunya, Dulhadi pun terpaksa bersembunyi. 

Dari surat kabar, Dulhadi tahu, penembak misterius sedang mengincar orang-orang seperti dirinya. Oleh karena itu, ia harus menurunkan bendera. Ia benar-benar mengubur diri. Ia tenggelamkan eksistensi yang bertahun-tahun ia bangun dan telah mengguyurinya kemudahan dan kemewahan. 

Dalam pelarian dan persembunyian itulah ia menemukan seorang perempuan yang mampu melihat sisi baik dari dirinya. Perempuan itu menilai sesungguhnya Dulhadi seorang lelaki yang baik hati, namun kebaikan itu tak bisa menampakkan cahayanya lantaran tertutup oleh mendung yang memayungi hari-harinya. Di mata perempuan itu, Dulhadi harus diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya, memperlihatkan sisi baik semacam apa yang ada jauh di dalam jiwanya.

Setelah menikah, Dulhadi benar-benar berusaha menghapus jejak masa lalunya. Mendapatkan istri yang bisa memahami dirinya adalah sebuah anugerah yang harus ia syukuri. Keberadaan perempuan itu menunjukkan dirinya masih bisa mendapat perhatian, bisa mendapat perlakuan yang sama dengan yang bisa dirasakan oleh orang-orang lainnya.

Untuk kelangsungan hidup keluarganya, Dulhadi pun bekerja sebagai Satpam.

“Saya sudah kenyang dengan dunia jalanan. Saya juga sudah kenyang terhadap perlakuan yang tidak adil dan tidak manusiawi. Oleh karena itu saya bisa merasakan apa yang Bu Abidah alami. Tanpa harus Bu Abidah ceritakan, saya sudah tahu apa yang sedang terjadi,” katanya sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Ternyata sebuah poster yang berisi foto diriku. |AT/Yd/Komps/Handoko Adinugroho
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016