
Jakarta | Acehtraffic.com -- Bank Indonesia (BI) dalam situs resminya menyebutkan bahwa cadangan devisa negara sampai akhir bulan September 2011 sebesar USD 114,5 miliar. Padahal, per Agustus 2011, cadangan devisa negara tercatat sebesar USD 124,5 miliar. Dengan demikian, cadangan devisa turun sekitar USD 10 milar dalam jangka waktu satu bulan.
Kepala Biro Humas Bank Indonesia, Difi A. Johansyah, mengatakan turunnya cadangan devisa ini disebabkan bank sentral menggelontorkan dana untuk membayar utang luar negeri. "Kebutuhan jatuh tempo utang luar negeri banyak," katanya, Jumat, [7/10/ 2011]
Selain itu, gembosnya cadangan devisa diakui Difi juga digunakan untuk intervensi pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang selama bulan September mengalami guncangan. Difi mengatakan cadangan devisa saat ini masih kuat untuk menjaga pasar dan rupiah dalam menghadapi ancaman krisis ekonomi global. "Devisa masih aman. Kita lihat nilai tukar rupiah sudah stabil, berarti pasar juga sudah stabil," katanya.
Wakil Presiden Boediono mengatakan kondisi ekonomi Indonesia sangat bagus dan kuat. Apalagi cadangan devisa masih di atas US 100 miliar atau dua kali lebih besar dibanding 2008.
"Dan enam kali dibanding 1997/1998. Amunisi kita cukup kuat untuk menghadapi krisis. Saya bisa mengatakan dalam suasana yang tenang kita bisa melawan krisis dengan baik asal bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat," katanya ketika membuka Kongres Ikatan Alumni Instituti Sepuluh November (IKA-ITS) 2011 di Istana Wakil Presiden.
Kemampuan untuk mengambil keputusan cepat dan tepat, menurut Boediono, penting karena akan mempengaruhi kemampuan menghadapi krisis. Tanpa kemampuan ini, krisis itu bisa berimbas pada perekonomian.
Ia mencontohkan merebaknya krisis ekonomi di beberapa negara yang meluas ke negara lain disebabkan oleh pengambilan keputusan yang tidak tepat dan terlambat sehingga persoalan ekonomi terlanjur bergulir menjadi besar.
Berbeda dengan krisis ekonomi 2008 di mana Amerika Serikat, menurut Wakil Presiden, mengambil keputusan tepat pada waktunya sehingga negara ini bisa segera pulih pada 2009. Tetapi saat ini, kata dia, terdapat deadlock.
"Ada ketidaksepakatan dalam pengambilan keputusan. Eropa juga demikian. Sekarang krisisnya bukan membahayakan satu dua negara tetapi zona Euro," terangnya.
Pengambilan keputusan yang tegas, menurut Boediono, sampai saat ini belum terjadi untuk menghadapi krisis ekonomi di Eropa. Sehingga dampak krisis masih terasa dan dikuatirkan menyebar ke negara lain. Ia berharap Indonesia tidak akan berada pada situasi ini jika nanti dampak krisis mulai meluas ke Asia.
"Saya sampaikan ke semua instansi dalam situasi ini kita satu kapal. Jangan sampai telat ambil keputusan," Boediono menegaskan. Salah caranya dengan menyelesaikan landasan hukum untuk penanganan krisis. |AT/Yd/Tempo

0 komentar:
Posting Komentar