News Update :

Situasi Medan Berat, Evakuasi Cassa 212-200 Melalui Darat Sulit

Jumat, 30 September 2011

Medan | Acehtraffic.com - Upaya penyelamatan korban pesawat jatuh, Cassa 212-200 register PK-TLF, milik maskapai Nusantara Buana Air (NBA), sulit dilakukan melalui jalur darat. Hingga Jumat sore, 30 September 2011, tim Badan SAR Nasional baru berhasil menurunkan dua personel di radius 300 meter dari lokasi jatuhnya pesawat.

Pesawat Cassa 212-200 yang bertolak dari Bandar Udara Polonia Medan menuju Bandar Udara Alas Leuser Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Kamis pagi kemarin, jatuh di kawasan Kecamatan Bahorok.

Diketahui, pesawat jatuh di kawasan yang dikenal Gunung Gulus Kelam dengan ketinggian sekitar 3.000 mdpl. Kawasan tersebut merupakan perbatasan Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh dengan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dengan kondisi hutan dan curam.

Seorang petugas Basarnas di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, menyebutkan, kawasan tersebut berada pada titik koordinat jatuhnya pesawat yang diperoleh sejak awal. “Titik koordinatnya tetap pada 03.23 N (utara) dan 098 01 E (timur),” kata petugas yang enggan namanya ditulis.

Sumber Tempo yang dihubungi melalui telepon seluler, menyatakan kondisi pesawat yang berhasil di foto pada Jumat pagi oleh tim SAR, dalam keadaan ringsek. “Jatuhnya pesawat di kawasan yang berlembah,” kata sumber tersebut. Bagian kepala pesawat mengalami kerusakan begitu juga dengan bagian badan pesawat. “Ya, seperti di televisi dan foto itu,” ujar sumber itu.

Hingga Jumat pukul 18.00 WIB, tim Basarnas yang berada di Kecamatan Bahorok, belum mendapatkan keterangan soal kondisi para penumpang pesawat dari dua personel yang berhasil mendarat di areal lokasi jatuhnya pesawat. “Belum ada informasi dari dua personel SAR yang berada di lokasi pesawat,” katanya.

Selain komunikasi yang sulit, medan juga berat. “Personel yang diturunkan berada di sekitar radius 300 meter dari pesawat, mereka harus melewati lembah menuju pesawat,” kata sumber itu.

Hujan yang turun menyebabkan upaya pengiriman personel lainnya terkendala. “Heli sudah berangkat tapi balik kembali ke posko,” kata sumber.

Kepala Badan SAR Nasional, Marsekal Madya TNI Daryatmo mengakui evakuasi melalui darat sulit dilakukan. “Tim yang sejak kemarin menuju lokasi belum sampai ke lokasi,” kata Daryatmo. Sebab areal menuju lokasi cukup berat ditambah faktor cuaca yang tidak mendukung.

Untuk mempercepat evakuasi, Daryatmo menegaskan, akan dimaksimalkan melalui udara. “Sejak dari pagi kami berusaha membuat helipad di sana (lokasi jatuhnya pesawat). Saya tidak lagi menjanjikan waktu,” kata Daryatmo. Upaya menerjunkan personel SAR baru dapat dilakukan pada tahap ke tiga.

“Tahap sorte pertama, tadi pagi, tidak bisa karena cuaca dan angin kencang. Kemudian yang kedua, kita hanya berhasil mengidentifkasi (foto) bangkai pesawat. Lagi-lagi tidak bisa landed karena cuaca. Nah, sortie ketiga lumayan. Tapi ketika baru menurunkan dua personel, cuaca tidak bagus,” kata Daryatmo.

Upaya mengirim personel SAR akan terus dilakukan. Pengiriman personel SAR berikutnya, kata Daryatmo, akan membawa makanan. Personel yang dikirim pun diminta segera membuat helipad, untuk pendaratan helikopter mengevakuasi para korban.| AT/TI
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016