APAKAH anda percaya pada teori benturan peradaban? tanya seorang teman, Bryan Averbuch pengajar sejarah Islam di Boston University, Amerika.
Itu pertanyaan terakhirnya di ujung diskusi kami setelah lebih kurang dua jam saya menjelaskan mengapa “Islam Aceh” tidak bisa menerima kehadirannya dengan ramah. Selain menjadi korban operasi anti-maksiat pemerintah kota Banda Aceh melalui penggerebekan hotel 61 tengah malam menjelang bulan puasa, Bryan juga dilarang memasuki pekarangan Masjid Raya Baiturrahman oleh Satpam penjaga.
Keheranan yang menyelimutinya setelah mengalami dua kasus itu seperti kebingungan kita terhadap kasus-kasus pelecehan masyarakat dan pemerintah sebagian negara Eropa terhadap perempuan-perempuan Muslimah yang berjilbab. Pertanyaannya sama, apakah Bryan diperlakukan sesuai tuntunan peradaban kita? dan apakah para muslimah yang terlecehkan dalam masyarakat Eropa diperlakukan sesuai ajaran peradaban Barat? Saya kira tidak, kebodohan memahami peradaban masing-masinglah sebagai sumber inspirasi perlakukan-perlakukan itu.
Memang, kasus-kasus itu dan semua realitas lain yang telah membangun ketegangan hubungan antara dunia Islam dan Barat lebih mudah dijelaskan dengan teori benturan antar-kebodohan (clash of ignorance) ketimbang mengandalkan teori benturan antar-peradaban (clash of civilization) yang diajukan Huntington. Sepertinya banyak orang telah sampai pada kesimpulan ini, termasuk Presiden Obama. Dalam pidato bersejarahnya di Kairo 2009 lalu, Obama menjelaskan masyarakat Barat mengira Islam memusuhi mereka dan Hak Asasi Manusia. Sebagaimana banyak pula masyarakat kita berprasangka HAM menyerang Syariat Islam.
Clash of Ignorance bahkan dapat menjelaskan lebih banyak gejala saling menegasikan dalam interaksi masyarakat manusia, dari skala global sampai tingkat lokal. Di Aceh misalnya, dari konflik-konflik mazhab agama yang muncul dari perilaku terlalu mudah menyesatkan yang berbeda sampai bentrok-bentrok fisik dan permusuhan antar kelompok selama musim pilkada, semuanya dapat dijelaskan dengan kerangka analisis ‘benturan kebodohan’.
Kita dengan terang benderang dapat melihat ‘benturan kebodohan’ pada kasus penyerangan terhadap keluarga Tgk Aiyub sebagai tertuduh pembawa aliran sesat, penyerangan pesantren terpadu Fajar Hidayah karena beberapa murid terlibat permainan menginjak tulisan-tulisan Arab, pembakaran dukun Liah hidup-hidup depan Meunasah Geureghek, pemukulan khatib jumat di Masjid Keumala, dan pengusiran Tgk Din dari kampungnya di Guhang karena tertuduh mengajarkan kitab yang susah dimengerti para santri.
Jenis benturan yang sama berlaku pada pertikaian seputar jalur independen dalam pilkada Aceh 2011, usulan penundaan pilkada, penembakan lawan politik, penebaran teror, hingga pemutusan hubungan-hubungan sosial yang telah terbangun lama antarkelompok masyarakat akibat perbedaan pilihan politik.
Pastinya, tidak semua benturan dalam masyarakat manusia (skala Aceh atau dunia) tergolong clash of ignorance. Sebagian kecil dari daftar panjang benturan-benturan yang berhasil tercipta dalam interaksi manusia merupakan suatu keniscayaan sejarah. Di mana benturan-benturan itu membasiskan diri pada pengetahuan mendalam atas realitas dan kehendak yang kuat pada keadilan dan terpenuhinya hak-hak.
Gerakan-gerakan revolusi kemerdekaan, baik yang mencapai tujuannya (seperti Timor Timur) atau mengalami kegagalan (seperti Aceh) pada dasarnya merupakan jenis benturan terpuji dari konteks lebih luas. Meski dalam konteks Aceh, revolusi kita terlalu banyak ternoda benturan-benturan kebodohan dalam internal Aceh. Energi benturan terpuji yang berhasil dikonsolidasikan dalam diri rakyat oleh generasi awal dialihfungsikan oleh generasi berikutnya untuk memproduksi sejarah menyimpang yang padat benturan-benturan kebodohan. Saat ini kita semakin sulit keluar dari keterjeratan benturan kebodohan yang tereproduksi terus menerus seakan secara otomatis sebagai kelanjutan dari sejarah menyimpang.
Bagaimana menghentikan benturan kebodohan ini? Dalam kelelahan kita menikmati berbagai hidangan benturan kebodohan yang disajikan kaum agamawan dan politisi akhir-akhir ini, baik juga mencari sedikit inspirasi dari revolusi di tanah Arab dan Afrika Utara yang sedang berlansung meluas hingga hari ini. Faktanya, mereka melaju pada peta jalan terbalik dari apa yang Aceh buat. Rakyat Arab telah mengalihfungsikan energi-energi mereka yang sebelumnya dipakai guna menciptakan benturan antar mazhab (suni-syiah), kini terkonsolidasi untuk menggulingkan rezim-rezim despotik boneka Amerika.
Rakyat Yaman, Bahrain, Mesir, Jordania dan beberapa negara lain yang sedang bergejolak telah berhenti dari konflik sektarian dan bentuk-bentuk benturan kebodohan lainnya untuk membangun benturan terpuji menggulingkan para diktator sebagai keniscayaan sejarah. Beberapa hari lalu mereka berkumpul dalam konferensi internasional Kebangkitan Islam di Teheran untuk merumuskan strategi penyelamatan revolusi dari konspirasi-konspirasi busuk kekuatan arogansi global yang berusaha membajak perjuangan rakyat Arab.
Perubahan geopolitik akibat revolusi Islam di Arab dan Afrika Utara sekarang ini akan memberi dampak luas secara politik dan ekonomi hingga ke tanah melayu, rantau Asia Tenggara. Momentum-momentum emas untuk kepentingan lompatan sejarah peradaban Aceh akan terhidang baik di atas meja melebihi dari apa yang pernah bisa kita upayakan sebelumnya. Tetapi kemungkinan besar momentum-momentum berharga akan berlalu begitu saja karena kesibukan kita dengan benturan-benturan kebodohan selama musim pilkada.
Pun demikian, di pinggir jurang dari ujung jalan sejarah menyimpang ini kita masih melihat sisa-sisa kekuatan rakyat yang bangkit dari kubang keterlenaan panjang setelah periode terhipnotis kekuatan politik mantan pejuang. Aceh layak menggantungkan harapan pada rakyat pemberani yang mau melawan intimidasi. Keteladan rakyat yang terus berjuang membebaskan diri mereka dari hegemoni para pencipta benturan kebodohan menjadi alasan satu-satunya kita masih layak menggantungkan harapan. Semoga sejarah Aceh masa depan bukan pengkristalan dari susunan benturan-benturan kebodohan tiada akhir!
* Affan Ramli ---Penulis adalah Kepala Sikula Mukim Bireuen dan Abdya [Di muat di Serambi 20/9]
Keheranan yang menyelimutinya setelah mengalami dua kasus itu seperti kebingungan kita terhadap kasus-kasus pelecehan masyarakat dan pemerintah sebagian negara Eropa terhadap perempuan-perempuan Muslimah yang berjilbab. Pertanyaannya sama, apakah Bryan diperlakukan sesuai tuntunan peradaban kita? dan apakah para muslimah yang terlecehkan dalam masyarakat Eropa diperlakukan sesuai ajaran peradaban Barat? Saya kira tidak, kebodohan memahami peradaban masing-masinglah sebagai sumber inspirasi perlakukan-perlakukan itu.
Memang, kasus-kasus itu dan semua realitas lain yang telah membangun ketegangan hubungan antara dunia Islam dan Barat lebih mudah dijelaskan dengan teori benturan antar-kebodohan (clash of ignorance) ketimbang mengandalkan teori benturan antar-peradaban (clash of civilization) yang diajukan Huntington. Sepertinya banyak orang telah sampai pada kesimpulan ini, termasuk Presiden Obama. Dalam pidato bersejarahnya di Kairo 2009 lalu, Obama menjelaskan masyarakat Barat mengira Islam memusuhi mereka dan Hak Asasi Manusia. Sebagaimana banyak pula masyarakat kita berprasangka HAM menyerang Syariat Islam.
Clash of Ignorance bahkan dapat menjelaskan lebih banyak gejala saling menegasikan dalam interaksi masyarakat manusia, dari skala global sampai tingkat lokal. Di Aceh misalnya, dari konflik-konflik mazhab agama yang muncul dari perilaku terlalu mudah menyesatkan yang berbeda sampai bentrok-bentrok fisik dan permusuhan antar kelompok selama musim pilkada, semuanya dapat dijelaskan dengan kerangka analisis ‘benturan kebodohan’.
Kita dengan terang benderang dapat melihat ‘benturan kebodohan’ pada kasus penyerangan terhadap keluarga Tgk Aiyub sebagai tertuduh pembawa aliran sesat, penyerangan pesantren terpadu Fajar Hidayah karena beberapa murid terlibat permainan menginjak tulisan-tulisan Arab, pembakaran dukun Liah hidup-hidup depan Meunasah Geureghek, pemukulan khatib jumat di Masjid Keumala, dan pengusiran Tgk Din dari kampungnya di Guhang karena tertuduh mengajarkan kitab yang susah dimengerti para santri.
Jenis benturan yang sama berlaku pada pertikaian seputar jalur independen dalam pilkada Aceh 2011, usulan penundaan pilkada, penembakan lawan politik, penebaran teror, hingga pemutusan hubungan-hubungan sosial yang telah terbangun lama antarkelompok masyarakat akibat perbedaan pilihan politik.
Pastinya, tidak semua benturan dalam masyarakat manusia (skala Aceh atau dunia) tergolong clash of ignorance. Sebagian kecil dari daftar panjang benturan-benturan yang berhasil tercipta dalam interaksi manusia merupakan suatu keniscayaan sejarah. Di mana benturan-benturan itu membasiskan diri pada pengetahuan mendalam atas realitas dan kehendak yang kuat pada keadilan dan terpenuhinya hak-hak.
Gerakan-gerakan revolusi kemerdekaan, baik yang mencapai tujuannya (seperti Timor Timur) atau mengalami kegagalan (seperti Aceh) pada dasarnya merupakan jenis benturan terpuji dari konteks lebih luas. Meski dalam konteks Aceh, revolusi kita terlalu banyak ternoda benturan-benturan kebodohan dalam internal Aceh. Energi benturan terpuji yang berhasil dikonsolidasikan dalam diri rakyat oleh generasi awal dialihfungsikan oleh generasi berikutnya untuk memproduksi sejarah menyimpang yang padat benturan-benturan kebodohan. Saat ini kita semakin sulit keluar dari keterjeratan benturan kebodohan yang tereproduksi terus menerus seakan secara otomatis sebagai kelanjutan dari sejarah menyimpang.
Bagaimana menghentikan benturan kebodohan ini? Dalam kelelahan kita menikmati berbagai hidangan benturan kebodohan yang disajikan kaum agamawan dan politisi akhir-akhir ini, baik juga mencari sedikit inspirasi dari revolusi di tanah Arab dan Afrika Utara yang sedang berlansung meluas hingga hari ini. Faktanya, mereka melaju pada peta jalan terbalik dari apa yang Aceh buat. Rakyat Arab telah mengalihfungsikan energi-energi mereka yang sebelumnya dipakai guna menciptakan benturan antar mazhab (suni-syiah), kini terkonsolidasi untuk menggulingkan rezim-rezim despotik boneka Amerika.
Rakyat Yaman, Bahrain, Mesir, Jordania dan beberapa negara lain yang sedang bergejolak telah berhenti dari konflik sektarian dan bentuk-bentuk benturan kebodohan lainnya untuk membangun benturan terpuji menggulingkan para diktator sebagai keniscayaan sejarah. Beberapa hari lalu mereka berkumpul dalam konferensi internasional Kebangkitan Islam di Teheran untuk merumuskan strategi penyelamatan revolusi dari konspirasi-konspirasi busuk kekuatan arogansi global yang berusaha membajak perjuangan rakyat Arab.
Perubahan geopolitik akibat revolusi Islam di Arab dan Afrika Utara sekarang ini akan memberi dampak luas secara politik dan ekonomi hingga ke tanah melayu, rantau Asia Tenggara. Momentum-momentum emas untuk kepentingan lompatan sejarah peradaban Aceh akan terhidang baik di atas meja melebihi dari apa yang pernah bisa kita upayakan sebelumnya. Tetapi kemungkinan besar momentum-momentum berharga akan berlalu begitu saja karena kesibukan kita dengan benturan-benturan kebodohan selama musim pilkada.
Pun demikian, di pinggir jurang dari ujung jalan sejarah menyimpang ini kita masih melihat sisa-sisa kekuatan rakyat yang bangkit dari kubang keterlenaan panjang setelah periode terhipnotis kekuatan politik mantan pejuang. Aceh layak menggantungkan harapan pada rakyat pemberani yang mau melawan intimidasi. Keteladan rakyat yang terus berjuang membebaskan diri mereka dari hegemoni para pencipta benturan kebodohan menjadi alasan satu-satunya kita masih layak menggantungkan harapan. Semoga sejarah Aceh masa depan bukan pengkristalan dari susunan benturan-benturan kebodohan tiada akhir!
* Affan Ramli ---Penulis adalah Kepala Sikula Mukim Bireuen dan Abdya [Di muat di Serambi 20/9]


0 komentar:
Posting Komentar