News Update :

Peusangan Selamatkan Aceh Di Ajang Liga Pendidikan

Kamis, 22 September 2011

BIREUEN - SMPN 1 Peusangan, Bireuen menyelamatkan muka Aceh dalam putaran nasional Liga Pendidikan Indonesia (LPI) tahun 2011. Kemenangan 1-0 tim asuhan Jufri Efendi ini atas tuan rumah SMPN 16 Kota Tangerang dalam tarung babak 16 besar di Stadion Benteng, Tangerang, Rabu (21/9) pagi, membuat Tanah Rencong menempatkan satu wakilnya di babak delapan besar.

Ichsan menjadi pahlawan kemenangan SMPN 1 Peusangan di laga berat tersebut dengan mencetak gol tunggal pada menit ke-6. Babak depana besar atau perempatfinal itu sendiri akan berlangsung di Bandung, Jawa Barat pada 24 September lusa.

Sementara itu, duta Aceh lainnya yaitu SMAN 1 Bireuen dan tim Universitas Almuslim (Unimus) Peusangan, harus mengubur ambisi mereka melangkah lebih jauh di LPI. Pasalnya, kekalahan di babak 16 besar mengakibatkan mereka terpaksa ‘angkat koper’ lebih dini.

Pada laga yang juga berlangsung di stadion dan hari yang sama tersebut, SMAN 1 Bireuen takluk 0-2 dari SMAN 5 Padang (Sumbar). Sedangkan, Unimus FC dipaksa bertekuk lutut oleh Universitas Medan (Unimed) Sumut dengan marka 1-2.

Pertandingan antara SMPN 1 Peusangan dan SMPN 16 Kota Tangerang berlangsung menarik. Betapa tidak, pemain kedua tim tampil gesit dan sportif. Dalam laga itu, anak asuh duet pelatih Jufri Efendi dan Darmawan bermain lepas dan tanpa beban.

Alhasil, mereka bisa mempertontonkan permainan atraktif yang menghadirkan aplus panjang dari penonton. Tak cuma menarik, gaya main dengan umpan bola-bola pendek secara cepat yang diperagakan anak-anak Aceh juga sangat merepotkan pertahanan kubu tuan rumah. Bahkan, pada menit ke-6 gawang tim SMPN 16 Kota Tangerang sukses dijebol pasukan Tanah Rencong lewat hentakan Ichsan. Skor 1-0 bertahan sampai jeda.

Pada babak kedua, sang tuan rumah mencoba bangkit. Tak mau dipermalukan di kandang sendiri, anak-anak Tangerang berusaha mengejar ketinggalan. Peluang emas didapat mereka pada menit 45 setelah wasit Benny Sardi dari Riau memberi hadiah penalti kepada Tangerang, dengan alasan pemain SMPN 1 Peusangan handsball dalam kotak terlarang.

Beruntung, eksekusi penalti pemain tuan rumah melenceng sehingga kemenangan kubu Aceh tetap aman hingga pertandingan berakhir. Hasil ini praktis membawa duat Aceh di LPI tingkat SMP ini berhak melaju ke perempatfinal.

Pelatih SMPN 1 Peusangan, Jufri Efendi tak bisa menutup perasaan bangganya dengan keberhasilan itu. “Penampilan anak-anak cukup luar biasa, mereka tampil lepas dengan semangat juang yang tinggi. Kami cukup bersyukur atas kemenangan hari ini,” ungkapnya bangga.

“Semoga kami bisa lolos ke semifinal dan berharap dapat menjadi juara nasional LPI tingkat SMP. Doa dari masyarakat Aceh masih kami harapkan karena perjuangan anak-anak belum berakhir,” pungkas Jufri Efendi.

Di sisi lain, keberhasilan tim SMPN 1 Peusangan rupanya tak bisa diikuti seniornya yang berlaga di tingkat SMA dan Perguruan Tinggi. Soalnya, dua duta Aceh di tingkat tersebut yaitu SMAN 1 Bireuen dan Unimus FC, sama-sama kandas di tangan lawan-lawan mereka.

SMAN 1 Bireuen di bawah asuhan Sanusi harus mengakui keperkasaan duta Sumatera Barat yakni SMAN 5 Padang dengan skor 0-2. Sedangkan, Unimus dipermalukan tim dari provinsi tetangga, Unimed Sumatera Utara (Sumut) dengan marka 1-2.

Kekalahan dua tim asal Kota Juang tersebut ditengarai akibat buruknya kepemimpinan wasit. Terbukti, selama pertandingan duo wakil Aceh tersebut selalu dirugikan dalam setiap keputusan sang pengadil lapangan hijau tersebut.

Bahkan, saking buruknya kepemimpinan wasit, tarung Unimus kontra Unimed sempat rusuh di pertengahan babak kedua. Penyebabnya adalah jegalan-jegalan kasar yang dipertontonkan pemain Unimed tak mendapat ganjaran apa-apa dari wasit. Merasa terus dicurangi, punggawa Unimus membalas sehingga melahirkan bentrokan massal di tengah lapangan.

Pertandingan pun sempat dihentikan selama beberapa menit dan aparat keamanan terpaksa melepaskan tembakan ke udara untuk meredakan kericuhan. Akibat kerusuhan itu, Pelatih Unimus, Mulya Saputra bengkak bibir dan perut terkena pukulan pemain Unimed saat hendak melerai perkelahian pemain dalam lapangan. Selain itu, tiga pemain Unimus yaitu Syawaliyah, Herman, dan Riki, juga luka-luka.

Kerusuhan tersebut mengakibatkan emosi anak-anak Almuslim labil dan tak terkontrol. Imbasnya, permainan mereka pun kacau dan tanpa arah. Alhasil, Unimus yang sempat memimpin 1-0 sebelum bentrokan pecah, dipaksa keluar lapangan sebagai pesakitan karena kalah 1-2. Dalam laga tersebut, wasit menghadiahkan tiga kartu merah, yakni dua untuk pemain Unimed dan satu untuk pemain Unimus.

“Anak-anak sudah bermain bagus, namun wasit merebut kemenangan kita. Kami kecewa terhadap kepemimpinan wasit hari ini,” tandas Mulya keras, didampingi Manajer Zulkifli SKom. | AT/SRB
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016