Jakarta | Acehtraffic.com -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutuk keras peristiwa ledakan bom bunuh diri di Gereja Bethel, Kepunton, Surakarta, Jawa Tengah. "Presiden meminta segera mencari dan menemukan siapa pelaku, jaringannya, dan ungkap puzzle demi puzzle," kata Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto kemarin.Djoko meminta rakyat tak lengah dan meningkatkan daya cegah-tangkal. "Bahwa masih ada orang, sekelompok orang, yang rela mengorbankan diri sendiri dengan tujuan yang tidak jelas dan mengorbankan orang lain."
Pernyataan yang sama dikemukakan Menteri Agama Suryadharma Ali. "Tindakan kekerasan semacam itu sangat ditentang oleh siapa pun dan oleh agama mana pun," ujarnya.
Dia meminta masyarakat tak terprovokasi oleh tindakan itu. "Jangan terpancing, lalu melakukan balas dendam. Dia (pelaku) bukan orang Islam," ucap Menteri Suryadharma.
Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyatakan aksi bom di gereja telah mengoyak kedamaian di Solo. "Itu tindakan tidak beradab," kata Pengurus Komisi Kepemudaan KWI, Joanes Joko.
Kiai sepuh Nahdlatul Ulama asal Kediri, Jawa Timur, Anwar Iskandar, menyatakan pelaku bom gereja tak akan masuk surga. "Saya mengutuk (pelaku bom) karena akibat perbuatannya menimbulkan fitnah bagi umat Islam," ujarnya. Menurut Anwar, perbuatan itu dilakukan orang-orang yang tidak paham ajaran agama Islam. "Jangan harap mereka masuk surga."
Wali Kota Surakarta Joko Widodo meminta warga Solo tetap tenang. Kondisi Solo, kata dia, masih aman dan kondusif. "Masyarakat harus tetap menjaga kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama."
Peristiwa bom bunuh diri, menurut dia, bisa terjadi di mana saja. "Di negara mana pun pernah ada bom. Jadi situasinya sama seperti di Solo." Joko menyatakan selama ini kehidupan beragama di solo sudah berjalan baik. Antarumat beragama saling menghormati perbedaan yang ada.
Pengurus Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Kepunton, Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Tegalharjo, Kota Solo, mengatakan gereja mereka tak pernah mendapat ancaman dari pihak lain sebelum peristiwa pengeboman terjadi kemarin. "Saya kaget, kejadian itu begitu tiba-tiba," kata pendeta GBIS, Wim Agwin, Menurut Wim, selama ini gereja yang berdiri sejak 1947 itu juga tak pernah bersengketa dengan pihak mana pun. Jemaat gereja sebagian besar adalah warga Kepunton. "Kami sudah cukup lama berbaur dengan masyarakat sekitar," kata dia.
Wim mengungkapkan, saat ledakan terjadi, ia tengah beribadah di lantai dua gereja itu. "Saya semula mengira itu ledakan trafo atau sound system," ujar dia. Setelah turun ke lantai satu, Wim kaget melihat banyak orang panik dan berlumuran darah. Salah seorang korban laki-laki yang diduga pelaku terkapar dengan usus terburai. Pengurus gereja seketika menolong korban dan menghubungi polisi.
Polisi menjaga ketat gereja-gereja di berbagai daerah setelah meledaknya bom di Gereja Bethel Injil Sepuluh Kepunton, Solo, kemarin. "Kami mengerahkan personel berseragam dan berpakaian preman," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar
Selain mengawasi gereja, polisi bersiaga di titik-titik rawan pengeboman. Penentuan wilayah rawan diserahkan kepada kepala kepolisian resor setempat. "Bisa mal atau yang lain," kata Baharudin. Piket mobil patroli 24 jam pun diperbanyak.
Pengurus Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) wilayah Sumatera Utara mengimbau pengurus di 7.000 gereja di wilayahnya agar bekerja sama dengan polisi. "Polisi meminta alamat pengurus gereja," kata Sekretaris Umum PGI Sumatera Utara Enida Girsang kemarin.
Pemerintah Kota Medan pun membicarakan pengamanan di rumah dinas Wali Kota Medan Rahudman Harahap dengan kepolisian dan tokoh lintas agama. Polres Banyumas menjaga gereja hingga ke tingkat kecamatan serta berkoordinasi dengan pendeta dan pastor. Di Madiun, polisi mengamankan gereja bersama Komando Distrik Militer 0803 Madiun. "Agar tidak kecolongan," ujar Wakil Kepala Polres Madiun Kota Komisaris Sahat M. Hasibuan di Gereja Katolik Santo Cornelius.
Bukan hanya polisi, Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kabupaten Sidoarjo pun menurunkan 2.000 personel untuk menjaga gereja di pusat kota. "Pengamanan dilakukan atas instruksi Ketua Umum GP Ansor," kata Ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kabupaten Sidoarjo Agus M. Ubaidillah. l AT/KT/RD
Bukan hanya polisi, Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kabupaten Sidoarjo pun menurunkan 2.000 personel untuk menjaga gereja di pusat kota. "Pengamanan dilakukan atas instruksi Ketua Umum GP Ansor," kata Ketua Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kabupaten Sidoarjo Agus M. Ubaidillah. l AT/KT/RD

0 komentar:
Posting Komentar