News Update :

Airmata Keluarga Panglima GAM Jakarta

Selasa, 16 Agustus 2011

MENJELANG Lebaran Idul Fitri, semua umat Muslim merasakan kebahagiaan dan merayakannya dengan para sanak famili. Ini berbeda dengan keluarga Narapidana Politik (Napol) Aceh, Tgk Ismuhadi dan dua rekannya, yakni Irwan bin Ilyas dan Ibrahim Hasan. Ketiganya masih mendekam di sel LP Cipinang Jakarta. Dengan kondisi sang suami seperti itu, keluarga tentu tak dapat merasakan kebahagian dan indahnya berkumpul bersama keluarga di hari Lebaran.

Lebih ironsi lagi, ketika  1.633 napi lain di LP itu mendapat remisi atau pengurangan masa hukuman, untuk napi yang satu ini justru tak mendapatkan apa pun. Ketiganya tidak mengalami perubahan status penahanan. Mereka divonis semumur hidup, karena didakwa melakukan pengeboman Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan sejumlah tindak kriminal lainnya.

Tentu pihak keluarga sangat sedih menerima kenyataan ini. Meski ada sejumlah koruptor yang memperoleh remisi namun mereka seolah dikucilkan karena tuduhan melakukan tindak kriminal murni, selanjutnya bahkan dituduh sebagai teroris. Menurut sejumlah kalangan di Aceh, Ismuhadi yang disebut-sebut sebagai Panglima GAM wilayah Jakarta dan dua rekannya seharusnya telah dibebaskan seiring adanya kesepakatan damai antara GAM dengan RI melalui MoU Helsinki pada 16 Agustus 2005. Dalam kesepakatan itu, semua yang terlibat GAM dibebaskan. Sejak mereka ditangkap 13 September 2000, seolah tak ada peluang mendapat pengurangan hukuman, apalagi dibebaskan, sebab Pemerintah RI ngotot menyebut mereka sebagai pelaku kriminal yang tak ada kaitannya dengan GAM.

Seperti dituturkan Istri Ismuhadi yang bernama Aznani (40), pekan lalu, saat ia mudik Lebaran ke Aceh, pihak keluarga sangat miris melihat kenyataan tidak adanya keringanan hukuman bagi suaminya yang telah ditahan selama sepuluh tahun. “Walau pun tak dapat bebas, kami berharap ada pengurangan hukuman menjadi 20 atau 30 tahun,” katanya kepada Kontras di Banda Aceh, pekan lalu. Dia didampingi kedua anaknya, Maulana dan Nyak Cahaya Keumala. Mereka juga menuturkan betapa menderitanya mereka ketika setiap Lebaran tak dapat menikmati kebahagiaan sebagaimana dirasakan para keluarga mantan GAM lainnya. 

Sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan oleh istri, keluarga dan sejumlah rekan mereka di Aceh agar Ismuhadi dan kedua rekannya dapat memperoleh keringanan hukuman. Namun langkah ini tetap tak terwujud. “Sedih sekali rasanya, sejak putri saya berumur 3 tahun, hingga kini tak pernah berkumpul sebagaimana keluarga lainnya. Walau saya sering menjenguknya setiap pekan, tapi tak lengkap rasanya kalau dia tidak bisa berkumpul di rumah bersama kami. Apalagi LP Cipinang cukup jauh dari tempat tinggal saya, jadi lumayan banyak biaya yang harus dikeluarkan,” kata Aznani.

Jika Ismuhadi masih beruntung punya istri yang setia menjenguknya di penjara, konon dua rekannya Irwan dan Ibrahim telah digugat cerai oleh istri mereka. Penderitaan istri dan keluarga Ismuhadi ini kian mendalam ketika kedua anaknya mulai mengenyam pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Biaya yang dibutuhkan tentu relatif meningkat. Anak Sulungnya Maulana kini telah duduk di bangku kelas 1 SMA/Pesantren Alhamidiyah Depok, sedangkan adiknya Nyak Cahaya Keumala kini di kelas 1 SMP/Pesantren Al Azhar Jakarta.

“Dulu kami punya empat unit angkutan sebagai penopang hidup, awalnya suami saya juga bekerja sebagai agen mobil. Setelah dia ditangkap saya kewalahan memenuhi kebutuhan hidup, jadi beberapa mobil terpaksa kami jual. Sekarang hanya tinggal satu unit. Untunglah beberapa famili di Aceh masih ada yang membantu biaya hidup kami sehari-hari,” katanya.

Panglima GAM Jakarta
Air mata sang istri tercinta kian banyak tertumpah, namun hingga kini status Ismuhadi cs belum juga berubah. Pihak keluarga meminta Pemerintah Aceh mengupayakan negosiasi kepada Pemerintah RI. Pihak keluarga menilai, sepantasnya Ismuhadi Cs mesti dapat remisi dan tidak dibedakan dengan mantan GAM lainnya, karena ia merupakan panglima GAM Jakarta.

“Kami tidak ingin ada perbedaan dengan yang lain, karena dia juga merupakan anggota GAM. Awalnya, saat ia ditangkap memang dia sempat mengaku bukan anggota GAM, tapi kan itu bagian dari upaya membela diri saat itu. Di BAP dia juga membantah dituding pelaku kriminal dan melakukan pengeboman. Alasannya cukup kuat, karena dia mengaku mengetahui pelaku yang sebenarnya. Yang jelas dia juga GAM, jadi statusnya harus disamakan dengan yang lain. Saya, rekan dan bawahannya di Aceh dapat membuktikan dia sebagai GAM,” kata Aznani.

Kini nasib Ismuhadi Cs dan keluarganya tak jelas juntrungannya. Di Jakarta, istrinya mengaku merasa minder karena hidup tanpa suami. Meski tetangga sekitar tak mengucilkan mereka, namun perasaan itu kian terasa ketika suasana Lebaran, dimana biasanya para keluarga berkumpul, akan tetapi mereka hanya bertiga. Sementara itu anak Sulungnya Maulana mengaku tak terlalu bermasalah dengan pergaulannya sehari-hari karena rekan-rekannya di sekolah tak banyak yang tau tentang kisah orangtuanya. Kedua anak Ismuhadi juga terlihat tegar ketika diwawancarai Kontras. “Tak banyak yang tahu, kalau ditanya saya menyebutkan nama bapak, tapi mereka tak tahu siapa orangnya,” katanya.

Upaya perubahan satus Ismuhadi terus mereka lakukan sejak sepuluh tahun lalu. Namun hingga kini belum ada perubahan. Keluarga berharap, proses advokasi terhadap Ismhadi tak hanya dilakukan pihak keluarga, namun akan lebih efektif jika dilakukan oleh Pemerintah Aceh. Konon Gubernur Irwandi pernah mengusul ke Pemerintah RI, namun hingga kini tak jelas hasilnya.

Meski urusan dengan Jakarta dan dengan berbagai negara luar dapat diselesaikan oleh Pemerintah, namun masalah ini tampaknya tak seperti yang diharapkan keluarga. Tak jelas, mengapa hal ini cukup berbeda dengan urusan yang lain, padahal banyak kalangan di Aceh yang getol memperjuangkan pembebasan Ismuhadi Cs. Sangat ironis memang, meski telah sepuluh tahun berlalu, menurut penuturan istri Ismuhadi, gubernur ternyata belum pernah menemui Aznani secara langsung. Dia juga tak pernah dihubungi melalui telepon. Sebaliknya istri Ismuhadi juga mengaku tak pernah menemui gubernur.

Entah apa persoalan internal di tubuh GAM kala itu, sehingga fakta ini memunculkan dugaan bahwa hubungan mereka tak harmonis. Memang berdasarkan sejumlah sumber, meski Ismuhadi berada di penjara, ia dikenal kritis terhadap Pemerintah Aceh dan kabupaten kota, masih dalam penjara. “Kami hanya mampu berharap agar pemerintah mau membantu. Saya tak tahu dengan jelas bagaimana pemerintah menyikapinya, yang jelas hingga saat ini saya tak pernah ditemui oleh Gubernur, seharusnya mereka lebih aktif menyelesaikan masalah ini. Mantan Petinggi GAM pun hanya beberapa kali berkunjung ke LP,” kata Aznani. |Tabloid KONTRAS
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016