Abad
ke-17 hingga ke-19 adalah masa kegemilangan tradisi literasi di Aceh.
Puluhan ribu manuskrip berupa mushaf kitab suci, tasawuf, tauhid, fikih,
astronomi, sejarah, seni, sastra, hingga ilmu pengobatan ditulis oleh
intelektual dan ulama besar masa itu. Sayangnya, keberadaan warisan
luhur masa lalu itu kini terancam punah. Sebagian musnah oleh waktu,
ribuan terpampang di negeri seberang, sisanya tercecer tidak
dipedulikan.
Adalah Tarmizi Abdul Hamid, warga
Lampineung, Banda Aceh, Provinsi Aceh, yang sejak 16 tahun silam giat
mengumpulkan lembar demi lembar manuskrip kuno yang masih tersisa.
Menyelamatkan secarik kebesaran masa lalu Aceh adalah tujuannya.
Dia
bukanlah akademisi, sejarawan, ataupun kolektor benda antik bermodal
besar. Keseharian Tarmizi hanyalah seorang pegawai negeri level menengah
di Badan Pengembangan Teknologi Pertanian Banda Aceh.
Tidak
kurang dari 500 manuskrip kuno Aceh kini tersimpan di sudut rumahnya.
Ada mushaf Alquran kuno, buku tasawuf, tauhid, hukum Islam, falak,
hingga ilmu pengobatan. Lembaran-lembaran naskah kuno tersebut sudah
berwarna kecoklatan. Sebagian tidak utuh lagi karena rusak atau hilang.
Beberapa lembar tampak berlubang dimakan rayap dan ngengat.
Manuskrip
tersebut umumnya dibuat pada abad ke-16 hingga abad ke-19. Dengan
demikian, usia buku-buku koleksi Tarmizi rata-rata sudah 3-5 lima abad.
Sore
itu, Tarmizi dengan bangga menunjukkan kitab Luffat al Tullab, salah
satu koleksinya. Kitab ini karangan Syeikh Zakaria Ansari yang ditulis
tangan pada abad ke-16. Bagian luarnya sobek, bekas gigitan rayap
menghias pinggir buku. Manuskrip ini bertutur bermacam topik, mulai dari
hukum Islam, cara berjihad, seni dan sastra, sejarah, hingga
pengobatan.
Dari tuturan mengenai pengobatan di kitab itu, Tarmizi
beberapa kali mencoba mempraktikkannya dengan meramu obat. Ramuan itu
sangat jelas disebutkan di buku tersebut. Hasilnya tak mengecewakan.
Penyakit batuk dapat disembuhkan dengan ramuan tradisional itu.
Kitab
Luffat al Thulab dibuat pada masa akhir Kerajaan Samudera Pasai. Saat
itu kertas adalah barang yang sangat langka di Aceh. Media tulisan
sebagian besar berupa kulit kayu. Kertas didatangkan dari Eropa dan
China oleh kerajaan. Itu pun sangat jarang karena membutuhkan waktu
pesan 10-20 tahun.
Koleksi Tarmizi yang terbanyak berasal dari
masa abad ke-17 hingga ke-19.
Menurut Annabell Gallop, peneliti sejarah
Asia Tenggara dari British Library, London, yang sore itu ikut
berkunjung ke rumah Tarmizi, banyaknya temuan manuskrip dari abad ke-17
hingga ke-19 karena pada masa itu tradisi tulis-menulis memuncak di
Aceh. Hal ini tak lepas dari kehadiran para penjajah dari Eropa yang
memungkinkan kertas dapat didatangkan ke Aceh.
Kitab-kitab
tersebut ditulis dalam aksara Arab-Jawi. Sebagian besar dituturkan
dengan bahasa Melayu. Bahasa ini digunakan karena menjadi bahasa
serantau atau lingua franca masa itu.
Di Perpustakaan Nasional
Inggris di London tersimpan sekitar 10 manuskrip kuno asal Aceh.
Dibandingkan dengan manuskrip kuno dari Jawa dan Malaysia, manuskrip
kuno Aceh memang tidak banyak yang dikoleksi di Inggris. Hal tersebut
karena Inggris tidak pernah masuk ke Aceh, kecuali saat Thomas S Raffles
pesiar ke daerah ini pada pertengahan 1800-an.
Manuskrip kuno
Aceh mempunyai keunikan dan bercitarasa seni tinggi. Setidaknya ini
terlihat dari ornamen pada setiap bagian penanda halaman kitab koleksi
Tarmizi. ”Walau, memang tak sebagus ornamen manuskrip dari Pattani dan
Trengganu,” kata Gallop yang mengaku heran dengan minimnya kepedulian
pemerintah terhadap koleksi Tarmizi.
Keprihatinan
Tahun
1995, Tarmizi mendapat tugas dinas ke Brunei. Di Brunei, dia
berkesempatan mengunjungi perpustakaan nasional. Di situ dia mendapati
ribuan manuskrip kuno Aceh bernilai sejarah tinggi terpajang. ”Saya
sangat prihatin. Naskah-naskah kuno itu tak pernah saya lihat di Aceh.
Di Aceh juga tak ada perpustakaan yang mempunyai koleksi sejarah Aceh
selengkap itu,” tuturnya.
Berangkat dari keprihatinan tersebut,
Tarmizi bertekad mencari dan mengumpulkan manuskrip kuno Aceh. Itu tidak
mudah. Manuskrip tersebar di seluruh wilayah Aceh, bahkan di
provinsi-provinsi sekitarnya. Banyak orang yang masih menyimpan
manuskrip tersebut, tetapi tidak menyadari betapa pentingnya itu
sehingga tak dipelihara dengan baik.
Tidak hanya di Aceh, Tarmizi
bahkan berburu manuskrip kuno Aceh hingga ke pelosok-pelosok Sumatera
Utara dan Riau. Kadang dia menukar kitab kuno itu dengan Alquran baru,
beras, atau padi.
”Kalau semuanya diganti dengan uang, saya jelas
tidak mampu. Apalagi, tak ada standar harga pasti atas kitab-kitab itu,”
ujarnya.
Ratusan juta rupiah sudah dia keluarkan untuk
mendapatkan manuskrip-manuskrip tersebut. Enam petak sawah warisan
orangtuanya di Kabupaten Pidie sudah habis demi upaya tersebut.
Karena
ketiadaan biaya, Tarmizi pun hanya bisa merawat koleksinya dengan cara
tradisional. Kitab-kitab berusia ratusan tahun itu dibungkus kain putih,
diberi kapur barus, lada hitam, lada putih, dan cengkih. ”Yang penting
tak dimakan rayap,” katanya.
Tak sekalipun dia mendapat bantuan
dari pemerintah untuk pemeliharaan. Bantuan restorasi manuskrip kuno
justru pernah datang dari Pemerintah Jepang usai tsunami 2004 lalu. Dari
sekitar 500 koleksi Tarmizi, sebanyak 56 naskah kuno berhasil
direstorasi. Sayangnya, Tarmizi kesulitan merestorasi naskah-naskah lain
karena ketiadaan biaya.
Tarmizi tidak menyerah. Dia pun
mendigitalisasi naskah-naskahnya ke komputer. Sebanyak 23 naskah kuno
berhasil didigitalisasi. Namun, biaya lagi-lagi menjadi kendala. Dia
juga kesulitan mendapatkan orang yang mampu membaca teks kuno.
Dia
kemudian mengajak kawannya yang peduli pada naskah kuno untuk
mengalihaksarakan naskah koleksinya dari Arab-Jawi ke latin. Tak
sia-sia, dua kitab rampung, yaitu Nazam Aceh (Syair Perempuan Tasawuf
Aceh) karangan Pocut di Beutong dan Hujjah Baliqha Ala Jama Mukhashamah
karya Jalaluddin bin Syekh Jamaluddin Ibnu Al Qadhi.
Saat ini, Tarmizi dan kawannya sedang menyelesaikan alih aksara kitab lainnya. Ia
tak pernah menjual atau mengomersialkan koleksinya. Jerih payah dan
uang ratusan juta rupiah yang digunakan untuk mendapatkan dan memelihara
manuskrip-manuskrip kuno itu didedikasikannya untuk pengetahuan
generasi masa kini dan mendatang.
”Saya sangat senang dan bangga jika ada orang yang mau belajar dan meneliti manuskrip-manuskrip kuno ini,” katanya.
Tarmizi Abdul Hamid

0 komentar:
Posting Komentar