Setahun terakhir ini Jakarta dipenuhi dengan ajang kumpul-kumpul para
pelaku industri digital mulai dari yang santai sampai yang serius.
Mulai dari sekadar diskusi ringan, sampai yang membuahkan gerakan sosial
yang nyata.
Meskipun para pelaku industri digital ini lebih banyak berinteraksi secara online,
kebutuhan untuk bertemu dan bertatap muka secara langsung masih tetap
menjadi utama. Biarpun aktif di berbagai forum, komentar di status
Facebook atau mention di Twitter berderet, tapi tetap terasa ada yang kurang sehingga keakraban ini harus dilakukan juga di dunia nyata.
Selain
karena alasan mendasar bahwa manusia merupakan makhluk sosial, alasan
lainnya adalah sosialisasi melalui media digital memang terkadang banyak
kurangnya. Status yang terbatas 140 karakter tidaklah cukup menyatakan
pendapat atau menyampaikan emosi secara menyeluruh. Hal inilah yang
mendorong kebutuhan untuk melakukan "kopi darat". Ketika itu pula
cikal-bakal munculnya banyak komunitas berbasis online terbentuk.
Salah
satunya adalah komunitas FreSh (Freedom of Sharing). Pitra Satvika,
salah satu inisiatornya, menceritakan bagaimana komunitas ini terbentuk
dari sebuah obrolan yang ingin mencari wadah untuk berbagi mengenai online
dan kreativitas.
Pertemuan pertama kali pun hanya dihadiri sekitar dua
puluh orang. Tetapi, ketika pertemuan itu mendapat tanggapan positif,
para inisiatornya bersemangat meneruskan program ini secara konsisten.
Hingga kemudian, forum ini berkembang di kota-kota lain yaitu di
Surabaya dan Semarang.
Tidak cuma di Jakarta, fenomena "kopdar" ini juga berlanjut ke kota-kota lain di Indonesia. Di Bandung, beberapa programmer
yang mengawali diskusi mereka di Twitter sepakat untuk bertemu dan
berbagi pengalaman mereka pertama kali pada 18 Februari 2010.
Di bawah
nama Forum Web Anak Bandung (Fowab), Yohan Totting, Reza Prabowo, Anggi
Khrisna, bersama beberapa rekan lainnya menjadikan ajang kumpul-kumpul
ini sebagai wadah bagi sesama rekan-rekan yang berkecimpung di dunia
digital untuk saling berkolaborasi dan berbagi.
Bukan hanya sekadar diskusi, para programmer
ini pun berani memberikan solusi nyata untuk membantu kemajuan
komunitas mereka, salah satunya dengan menyediakan ruang publik kreatif
yang dinamai Hackerspace Bandung.
Hackerspace bertujuan berbagi dan
memberikan pengarahan sejak dini kepada anak muda di bangku sekolah yang
ingin terjun ke dunia kreatif, membuka perspektif mereka akan potensi
industri digital.
Selain Jakarta dan Bandung, tentu saja kita
tidak bisa melupakan Yogyakarta, salah satu penghasil talenta-talenta
terbaik di industri digital Tanah Air. Teman-teman di sana juga memiliki
wadah yang tidak kalah solidnya. Diawali dengan inisiatif beberapa developer, komunitas bernama Bancakan 2.0 berdiri pada 24 Februari 2010. Meskipun terdiri dari developer,
mereka tidak melulu hanya membahas soal teknis, tetapi juga sisi bisnis
dan pemasaran; bagaimana menghasilkan karya yang baik, dan tentunya
bagaimana mengemasnya hingga menjadi produk layak jual.
Komunitas
yang digagas oleh Fachry Bafadal, Fahmi Adib, Kristiono Setyadi, dan
Faiq Fardian ini tidak hanya berkumpul untuk berdiskusi, tetapi juga
bergerak untuk membantu para start-up di Yogyakarta agar mereka
memiliki kesempatan bertemu dengan investor-investor yang tertarik
mengembangkan usaha yang mereka miliki.
Selain Jakarta, Bandung,
dan Yogyakarta, komunitas digital di Surabaya juga tumbuh secara
signifikan. Brian Arfi dan Imam Muttaqin, dua orang developer berbagi kegelisahan yang sama. Berawal dari lambannya aktivitas pengembangan website
di Surabaya, padahal sumber daya manusia serta fasilitasnya cukup
memadai. Kondisi ini kemudian membuat mereka tergerak untuk membentuk
komunitas yang bisa berkontribusi positif bagi perkembangan dunia
internet di Surabaya. Surabaya Web Community (suWec) menjadi ajang
berkumpul web developer, web marketer, web entrepreneur, maupun penggemar web secara umum.
Komunitas-komunitas
ini tidak hanya berdiskusi, tetapi juga memberikan langkah kongkrit
bagi kemajuan komunitas mereka. Semangat kebersamaan dan berbagi inilah
yang akan terus memajukan industri digital di Indonesia.
Bersama
dengan komunitas-komunitas ini, IDBYTE berkomitmen untuk menjembatani
para pelaku industri menuju sebuah wadah yang lebih besar sehingga suara
Indonesia akan lebih nyaring di tingkat internasional.
Selama
11-14 Juli 2011 IDBYTE akan menghadirkan berbagai nama besar seperti
Google, Facebook, dan LinkedIn. Mereka akan berbagi pengetahuan dan
pengalaman kepada para pengembang, pebisnis, pemasar, dan komunitas
digital di Indonesia. IDBYTE menjadi wadah yang tepat untuk saling
menghubungkan komunitas-komunitas ini ke dalam satu kesatuan jaringan
yang lebih besar.
IDBYTE mengajak komunitas-komunitas digital yang tersebar di berbagai tempat untuk datang dan meramaikan event
digital terbesar di Indonesia ini. Dengan berkumpul dan menjalin
hubungan secara intens, tidak hanya bermanfaat bagi komunitas-komunitas
itu sendiri, tapi ke depannya dapat lebih memajukan industri digital
Indonesia sehingga bisa menjadi salah satu pemain digital yang
berpengaruh di ranah global.
Penulis: Yansen Kamto, Executive
Director IDBYTE, dengan latar belakang dari industri digital
advertising; saat ini juga menjalankan bisnis digital di bidang gaming
dan sepakbola. Tulisan ini diambil dari Kompas.

0 komentar:
Posting Komentar