Skandal Seks Clinton-Monika yang Menggemparkan AS –
Jeratan skandal yang dialami oleh politisi memang tidak mengenal
batasan. Negara seperti Amerika Serikat (AS) bahkan dihiasi banyak
skandal seks yang dialami oleh politisi mereka.
Salah satu yang mungkin paling dikenal dalam sejarah politik AS
adalah hubungan seksual antara mantan Presiden Bill Clinton dan seorang
pegawai magang Gedung Putih, Monica Lewinsky.
Skandal ini lebih dikenal oleh rakyat AS dengan sebutan Lewinsky
Scandal. Clinton yang dikenal berhasil membawa Amerika memperkuat
ekonominya, terlibat perselingkuhan seks dengan perempuan yang kala itu
berusia 22 tahun.
Insiden yang terjadi di akhir masa jabatan Clinton di tahun 1998 ini,
mengundang reaksi keras dari warga AS. Simpati pun mengalir kepada Ibu
Negara Hillary Clinton saat itu, yang dinilai terlalu sabar melihat
tingkah suaminya yang melakukan perselingkuhan di lingkungan Gedung
Putih.
Awalnya mantan Gubernur Arkansas tersebut tidak mengakui hubungannya
dengan Lewinsky, namun setelah adanya perempuan lain selain Lewinsky
yang mengaku pernah pula terlibat affair yang sama dengan Clinton,
Presiden AS ke-42 tersebut pun pada akhirnya mengakui perbuatannya.
Lewinsky pun mengajukan tuntutan pelecehan seksual yang dilakukan
oleh orang kuat di AS saat itu. Dalam pengakuannya, Lewinsky mengatakan
bahwa Clinton memasukan cerutu pada kemaluannya. Kedua pihak sendiri
pada akhirnya memutuskan untuk berdamai.
Perempuan lain yang mengaku mengalami pelecehan seksual oleh Clinton
adalah Paula Jones. Jones sendiri dikenal sebagai mantan staf Clinton
saat dirinya masih menjabat sebagai Gubernur Arkansas.
Tuntutan ini sendiri dibatalkan saat Clinton menyelesaikan masalah ini diluar hukum dan memberikan kompensasi sebesar USD850 ribu kepada Jones.
Tuntutan ini sendiri dibatalkan saat Clinton menyelesaikan masalah ini diluar hukum dan memberikan kompensasi sebesar USD850 ribu kepada Jones.
Akibat kasus ini, pria yang menggantikan George Bush dari kursi
Presiden AS tersebut hampir saja kehilangan pekerjaannya. Lewat yang
diserahkan kepada DPR AS, Presiden Clinton saat itu dianggap melakukan
tindakan yang memungkinkan dirinya untuk dipecat dari jabatannya sebagai
Presiden AS.
Clinton dinyatakan bersalah dalam dua hal, yakni memberikan sumpah
palsu dan mengganggu upaya penegakan hukum. Dakwaan sumpah palsu
diajukan atas kebohongan dirinya dalam memberikan keterangan palsu dalam
kasus pelecehan seksual yang dilakukan Clinton terhadap Lewinsky.
Sementara dakwaan mengganggu upaya penegakan hukum dijatuhkan kepadanya saat dianggap mempengaruhi korban saat memberikan pengakuan ketika tuduhan pelecehan seksual ini diarahkan kepada diri Clinton.
Meski DPR AS menilai Clinton pantas untuk dipecat, hal sebaliknya
diutarakan oleh Senat. Pihak senat AS membebaskan Clinton dari dua
dakwaan yang diarahkan pada dirinya. Senat menolak melakukan pemecatan
di saat masa jabatan Clinton sudah mulai habis. Pemeriksaan atas dirinya
pun dilanjutkan pada pengadilam 12 Februari 1999.
Hasilnya, jumlah suara dianggap tidak mencukup 2/3 suara yang
dibutuhkan untuk mengatakan Clinton harus dipecat. Selain itu dirinya
juga dibebaskan dari dua dakwaan yang ditujukan kepadanya. Hasil akhir
Partai Demokrat memilih Clinton tidak bersalah sepenuhnya.
Pada kasus sumpah palsu, 55 senator membebaskan Clinton dari segala
kesalahannya. Termasuk 10 senat dari Partai Republik. Sementara dalam
dakwaan upaya mengganggu penegakan hukum, senat mengeluarkan suara
seimbang yakni 50-50.
Kini, Clinton dapat bernafas lega karena terhindar dari pemecatan dan
saat ini dirinya aktif dalam kegiatan sosial. Sementara sang istri,
Hillary, kini meneruskan karir politik Clinton dengan menjadi Menteri
Luar Negeri AS.

0 komentar:
Posting Komentar