San Francisco - Pertemuan rutin terjadwal dari Organisasi
Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berlangsung Rabu (8/6) besok
tampaknya akan seru. Ada apa?
Anggota OPEC tidak akan
bertemu dalam keadaan biasa. Keputusan mereka akan dibuat dengan latar
belakang kompleks dari tingginya harga minyak dan kekhawatiran atas
permintaan global di masa depan. Selain pengurangan produksi di Libya
dan kekacauan politik di negara-negara di kawasan Arab yang kaya minyak.
"Ini
akan menjadi pertemuan menarik mengingat banyaknya situasi fluktuatif
yang terlibat," kata Michael Bodino, kepala penelitian energi di Global
Securities Hunter.
Dalam OPEC, belum jelas siapa yang akan
mewakili Iran, produsen kartel minyak terbesar kedua. Presiden Iran
Mahmoud Ahmadinejad yang menyatakan dirinya sebagai menteri minyak
sementara Iran bulan lalu, menunjuk kepala minyak baru pada Kamis
kemarin. Hal ini menyusul tekanan dari parlemen nasional, yang mengklaim
bahwa penunjukan diri Ahmadinejad adalah ilegal.
Demikian juga
dengan Libya, dimana pejabat tinggi negara untuk minyak, Shokri Ghanem
pada Rabu mengumumkan pembelotan dari rezim yang dipimpin Muamar
Khadafi. Omran Abukraa, mantan kepala perusahaan listrik nasional Libya,
yang juga sekutu lama Khadafi disebut-sebut akan mewakili Libya.
Meskipun belum ada kepastian, apakah ia merupakan kepala baru NOC
(National Oil Corp).
Sedangkan pemberontak anti-Khadafi dikabarkan
juga sedang mempertimbangkan mengirim utusan ke Wina. Meksipun
pemberontak dari Transitional National Council telah diakui sebagai
pemerintah Libya resmi oleh segelintir negara, termasuk Qatar, hal ini
akan menyulitkan pemberontak Libya mendapat representasi resmi di OPEC.
Selain adanya konfrontasi antara kedua belah pihak.
Sejak
bangkitnya pemberontakan politik di negara tersebut, produksi minyak di
Libya telah turun ke 200 ribu barel per hari dari total produksi 2010
sekitar 1,8 juta.
Bodino menambahkan, ada beberapa isu kartel yang
perlu diatasi sebelum keputusan yang jelas dapat dibuat. Misalkan saja
OPEC perlu mempertimbangkan tantangan permintaan minyak global, termasuk
dampak jangka pendek dan jangka panjang dari gempa Jepang serta
keprihatinan masalah utang di sejumlah negara.
Selain Presiden AS
Barack Obama yang mempertimbangkan untuk menekan cadangan strategis
minyak."Masing-masing masalah ini menciptakan perubahan
pasokan-permintaan masing-masing," katanya.
Pertemuan OPEC adalah
pertama kalinya sejak Arab Spring dengan latar belakang harga minyak
yang mencapai tiga digit. Harga minyak berjangka West Texas Intermediate
sekitar US$ 100 per barel di New York, naik dari posisi terendah di
bawah US$ 40 per barel pada Februari 2009. Minyak mentah Brent di
perdagangan London berada di atas US$ 115 dan harga keranjang OPEC dari
dua belas jenis minyak mentah, pada Selasa, bertengger di US$ 111,20 per
barel.
Badan Energi Internasional (IEA) telah meminta produsen
minyak untuk meningkatkan pasokan dalam menghadapi ketakutan bahwa harga
tinggi dapat merusak pemulihan ekonomi global.
IEA
mengekspresikan keprihatinan serius atas meningkatnya indikasi kenaikan
harga minyak sejak September yang sangat mempengaruhi pemulihan ekonomi.
Dalam pernyataan, mereka mengungkapkan ada kebutuhan yang jelas dan
mendesak untuk tambahan pasokan minyak dalam basis lebih kompetitif yang
tersedia untuk kilang-kilang minyak, demi mencegah pengetatan lebih
lanjut dari pasar.
Organisasi produsen minyak ini memang
diharapkan dapat terus memproduksi secara stabil. Namun dalam beberapa
hari terakhir, beberapa produsen Teluk telah mengisyaratkan mendukung
kenaikan produksi untuk menanggapi meningkatnya permintaan. Namun,
setidaknya satu anggota OPEC, yakni Iran, secara vokal menentang langkah
tersebut.
Jadi sementara OPEC melihat pertemuan pada Rabu di Wina
sebagai biasa, keputusan tingkat produksi akan menjadi salah satu yang
dibuat dalam keadaan yang luar biasa. Tekanan bagi OPEC untuk
bertindak demi menurunkan harga, konservasi minyak hanya bagian dari
banyak masalah kartel yang harus dirampungkan sebelum membuat keputusan.
“OPEC perlu memenuhi tuntutan kelas pekerja yang cukup mencegah
pemberontakan,” kata Miki Cargile, pendiri dan managing partner WNB
Private Client Services and Cargile Investment.
OPEC juga perlu
mengoptimalkan harga tanpa memicu resesi di seluruh dunia, dan
menghitung cermat pengaruh spekulatif terhadap harga untuk menetapkan
target produksi, “Karena salah membaca mempengaruhi dapat menyebabkan
kelebihan pasokan,” katanya |Inilah.com

0 komentar:
Posting Komentar