News Update :

Pertemuan OPEC yang 'Tidak Biasa'

Selasa, 07 Juni 2011

San Francisco - Pertemuan rutin terjadwal dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berlangsung Rabu (8/6) besok tampaknya akan seru. Ada apa?

Anggota OPEC tidak akan bertemu dalam keadaan biasa. Keputusan mereka akan dibuat dengan latar belakang kompleks dari tingginya harga minyak dan kekhawatiran atas permintaan global di masa depan. Selain pengurangan produksi di Libya dan kekacauan politik di negara-negara di kawasan Arab yang kaya minyak.

"Ini akan menjadi pertemuan menarik mengingat banyaknya situasi fluktuatif yang terlibat," kata Michael Bodino, kepala penelitian energi di Global Securities Hunter.

Dalam OPEC, belum jelas siapa yang akan mewakili Iran, produsen kartel minyak terbesar kedua. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang menyatakan dirinya sebagai menteri minyak sementara Iran bulan lalu, menunjuk kepala minyak baru pada Kamis kemarin. Hal ini menyusul tekanan dari parlemen nasional, yang mengklaim bahwa penunjukan diri Ahmadinejad adalah ilegal.

Demikian juga dengan Libya, dimana pejabat tinggi negara untuk minyak, Shokri Ghanem pada Rabu mengumumkan pembelotan dari rezim yang dipimpin Muamar Khadafi. Omran Abukraa, mantan kepala perusahaan listrik nasional Libya, yang juga sekutu lama Khadafi disebut-sebut akan mewakili Libya. Meskipun belum ada kepastian, apakah ia merupakan kepala baru NOC (National Oil Corp).

Sedangkan pemberontak anti-Khadafi dikabarkan juga sedang mempertimbangkan mengirim utusan ke Wina. Meksipun pemberontak dari Transitional National Council telah diakui sebagai pemerintah Libya resmi oleh segelintir negara, termasuk Qatar, hal ini akan menyulitkan pemberontak Libya mendapat representasi resmi di OPEC. Selain adanya konfrontasi antara kedua belah pihak.

Sejak bangkitnya pemberontakan politik di negara tersebut, produksi minyak di Libya telah turun ke 200 ribu barel per hari dari total produksi 2010 sekitar 1,8 juta.

Bodino menambahkan, ada beberapa isu kartel yang perlu diatasi sebelum keputusan yang jelas dapat dibuat. Misalkan saja OPEC perlu mempertimbangkan tantangan permintaan minyak global, termasuk dampak jangka pendek dan jangka panjang dari gempa Jepang serta keprihatinan masalah utang di sejumlah negara.

Selain Presiden AS Barack Obama yang mempertimbangkan untuk menekan cadangan strategis minyak."Masing-masing masalah ini menciptakan perubahan pasokan-permintaan masing-masing," katanya.

Pertemuan OPEC adalah pertama kalinya sejak Arab Spring dengan latar belakang harga minyak yang mencapai tiga digit. Harga minyak berjangka West Texas Intermediate sekitar US$ 100 per barel di New York, naik dari posisi terendah di bawah US$ 40 per barel pada Februari 2009. Minyak mentah Brent di perdagangan London berada di atas US$ 115 dan harga keranjang OPEC dari dua belas jenis minyak mentah, pada Selasa, bertengger di US$ 111,20 per barel.

Badan Energi Internasional (IEA) telah meminta produsen minyak untuk meningkatkan pasokan dalam menghadapi ketakutan bahwa harga tinggi dapat merusak pemulihan ekonomi global.
IEA mengekspresikan keprihatinan serius atas meningkatnya indikasi kenaikan harga minyak sejak September yang sangat mempengaruhi pemulihan ekonomi. 

Dalam pernyataan, mereka mengungkapkan ada kebutuhan yang jelas dan mendesak untuk tambahan pasokan minyak dalam basis lebih kompetitif yang tersedia untuk kilang-kilang minyak, demi mencegah pengetatan lebih lanjut dari pasar.
Organisasi produsen minyak ini memang diharapkan dapat terus memproduksi secara stabil. Namun dalam beberapa hari terakhir, beberapa produsen Teluk telah mengisyaratkan mendukung kenaikan produksi untuk menanggapi meningkatnya permintaan. Namun, setidaknya satu anggota OPEC, yakni Iran, secara vokal menentang langkah tersebut.

Jadi sementara OPEC melihat pertemuan pada Rabu di Wina sebagai biasa, keputusan tingkat produksi akan menjadi salah satu yang dibuat dalam keadaan yang luar biasa. Tekanan bagi OPEC untuk bertindak demi menurunkan harga, konservasi minyak hanya bagian dari banyak masalah kartel yang harus dirampungkan sebelum membuat keputusan.

“OPEC perlu memenuhi tuntutan kelas pekerja yang cukup mencegah pemberontakan,” kata Miki Cargile, pendiri dan managing partner WNB Private Client Services and Cargile Investment.

OPEC juga perlu mengoptimalkan harga tanpa memicu resesi di seluruh dunia, dan menghitung cermat pengaruh spekulatif terhadap harga untuk menetapkan target produksi, “Karena salah membaca mempengaruhi dapat menyebabkan kelebihan pasokan,” katanya |Inilah.com
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016