Dalam beberapa hari
terakhir, warga miskin dibeberapa kabupaten/kota di Aceh mengeluhkan harga beli
minyak tanah yang sangat tinggi dari sebelumnya. Biasanya, warga membeli di tingkat pengecer
sebesar Rp.5.000;-, namun untuk saat ini terpaksa harus membeli antara Rp.8.000;-
s/d Rp.11.000;-/liternya.
Menurut pengakuan salah
satu warga Peureulak Madsyah [32] bahwa biasanya yang bersangkutan membeli
minyak tanah di pangkalan didaerahnya sebesar Rp.4.000;-/liter dan pembeliannya
tidak boleh banyak (Sistim penjatahan).
Berdasarkan hasil
penelusuran lapangan, dalam 3 hari terakhir terdapat beberapa mobil
pengangkutan minyak tanah non subsidi yang mengantar minyak tanah
ketempat-tempat pengecer didaerah. Dan
ini merupakan sebuah keanehan karena
selama ini tidak pernah ada.
Sementara itu, beberapa
hari yang lalu pihak DPRA pernah menyampaikan bahwa berdasarkan hasil
penelusuran dan konsultasi dengan pihak Pertamina bahwa saat itu hanya baru ada
sekitar 2 perusahaan yang melakukan penebusan minyak tanah non-subsidi.
Mahalnya harga minyak
tanah tentunya menimbulkan tanda tanya besar, karena pemerintah Aceh sendiri
belum sepakat melakukan penghapusan subsidi minyak tanah bagi warganya. Kondisi demikian mengindikasikan adanya
permainan para mafia minyak subsidi di Aceh untuk dijual keluar daerah dan yang
menerima dampaknya adalah masyarakat miskin dan terpaksa harus membeli minyak
tanah dengan harga non-subsidi.
Pengakuan lainnya dari
salah satu warga Kota Lhokseumawe Anwar [40] mengatakan bahwa; seharusnya pihak
pangkalan tidak menjual sisa minyak tanah subsidi kepada pengecer karena itu
adalah haknya para wong cilik (tuturnya).
Keberlangsungan subsidi
minyak tanah di Aceh rupanya tidak bisa dirasakan manfaatnya secara maksimal
oleh masyarakat dan subsidi itu hanya diperoleh mamfaat oleh para mafia minyak,
dengan cara memamfaatkan selisih harga di Aceh dan Sumatera utara. Dan mafia
itupun seakan sulit di seret lebih jauh secara hukum, karena sudah sekian kali
di lakukan penangkapan oleh polisi terindikasi yang terlibat adalah oknum.
Dan jikapun sudah
terungkap, namun aktivitas masih terus
berjalan.Tidak tertutup
kemungkinan, yang tidak bersubsidi selama ini beredar, adalah sisa subsidi yang
sudah di kumpul lama, dan ini saat yang teapat untuk di edarkan, ee jelas juga
mendapatkan untung, karena saat di kumpulkan harga beli jauh lebih murah.
Dan maunya pemerintah
secepatnya menginformasikan kepada masyarakat, sejak kapan minyak tanah di
cabut subsidi, dan jika tidak lagi subsidi berapa harganya?
|Penulis
adalah Rizky M adalah warga salah satu kecamatan di Aceh Timur Propinsi Aceh]


0 komentar:
Posting Komentar