Sukses di berbagai bidang di dunia entertainment,
sebagai pemain film, sinetron, penyanyi, maupun MC, belum memberikan kepuasan
kepada aktris cantik Luna Maya.
Buktinya, ada satu bidang lagi yang ditekuni
kekasih Ariel Peterpan tersebut di dunia entertainment dalam waktu dekat ini,
yaitu sutradara film.
Ditemui saat memberikan workshop untuk sineas
muda di Balairung Ballroom Gedung Telkom Ketintang pada akhir pekan lalu, Luna
mengungkapkan keseriusannya bekerja di balik layar. “Sungguh, pekerjaan sebagai
sutradara itu sangat mengasyikkan sekaligus menantang,” kata Luna.
Menurut dara kelahiran 26 Agustus 1983 itu,
kecintaannya pada profesi sutradara terjadi dua tahun lalu. Ketika itu, dia
dipercaya untuk membesut film pendek karyanya sendiri yang berjudul Suci and
The City pada ajang LA Lights Indie Movie. “Dari sana, muncul rasa ketagihan
membuat film,” ujarnya.
Luna menyatakan, menjadi sutradara lebih susah
daripada pekerjaannya selama ini yang lebih banyak berkutat di depan kamera.
Sutradara, menurut dia, harus bisa menyatukan berbagai karakter orang yang
tergabung dalam filmnya, pemain sampai kru.
“Sebab, dalam sebuah film, sutradara adalah
otaknya. Dialah yang menentukan mau alur cerita film itu,” jelas mantan host
acara musik Dahsyat tersebut.
Untuk proyek pertamanya dua tahun lalu, Luna
mengungkapkan hanya bermodal nekat. Dia itu tidak mau mendapat bantuan dari
siapa pun saat itu. Dia tidak mengambil keputusan tersebut karena merasa
sombong atau sok pintar. Dia hanya ingin melihat kemampuannya dalam
menghasilkan film.
“Saya anggap itu sebagai pelajaran berharga.
Jadi, saya siap menerima risiko apa pun. Jelek atau bagus film tersebut, saya
yang bertanggung jawab,” jelas pelantun Suara Kuberharap itu dengan mantap.
Film besutannya kala itu mendapat banyak pujian
dari kritikus film.
Perempuan yang memulai karir dari dunia model tersebut
mulai serius belajar menjadi sutradara. Tidak tanggung-tanggung, dia belajar
langsung ke salah seorang sutradara kawakan negeri ini, Garin Nugroho.
“Mas Garin adalah orang dan guru yang tepat untuk
aku jadikan panutan. Aku belajar proses syuting sampai cara menghayati profesi
tersebut lewat dia,” jelasnya.
Meski menjadi sutradara, Luna tidak mau membuat
film yang bercerita tentang perjalanan hidup pribadinya. Dia lebih suka membuat
film yang memiliki impact ke masyarakat. “Salah satu caranya, memberikan film
yang realistis, bukan yang hanya menjual kekayaan atau keseksian,” jelas mantan
ikon sabun kecantikan itu.
Menurut Luna, hal tersebut cukup penting. Sebab,
film tidak hanya berfungsi sebagai alat tontonan, melainkan harus memberikan
nilai pada masyarakat. “Terserah dinilai baik atau buruk, yang penting,
masyarakat harus memberikan nilai. Sebab, masyarakat kita sudah pintar”
jelasnya.
Menurut peraih nominasi Panasonic Gobel Awards
2010 untuk kategori presenter musik variety show terfavorit tersebut, membuat
film adalah sesuatu yang merdeka. “Jadi, kalau ada yang ngomong bahwa orang
menjadi rusak gara-gara film atau sebaliknya, itu tidak benar.
Sebab, semua bergantung pada pribadi masing-masing,” paparnya. “Kita harus belajar mengoreksi diri. Jangan sedikit-sedikit menyalahkan film jika terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan,” imbuhnya. |jpnn
Sebab, semua bergantung pada pribadi masing-masing,” paparnya. “Kita harus belajar mengoreksi diri. Jangan sedikit-sedikit menyalahkan film jika terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan,” imbuhnya. |jpnn

0 komentar:
Posting Komentar