News Update :

Bila Meuntro Turun Bertarung

Jumat, 10 Juni 2011

Doto Zaini Abdullah di kalangan GAM disebut Meuntroe atau bahasa Indonesianya sama dengan  menteri. Ia sudah sepertinya resmi mencalonkan diri sebagai bakal calon Gubernur Aceh dalam pemilukada mendatang.

Meuntro atau Menteri adalah jabatan di bawah kepala negara atau kabinet sebuah negara. Sementara Gubernur adalah kepala pemerintahan di sebuah propinsi. Bila merujuk pada nama ini jelas, jabatan mentro jauh lebih tinggi ketimbang Gubernur.

Zaini Abdullah adalah salah satu kabinet pemerintahan GAM  almarhum Tengku Hasan di Tiro. Agustus 2005 melalui perundingan damai Gerakan yang dibangun tahun 1976  ini setuju untuk kembali kedalam NKRI dan melepas tuntutan merdeka, menerima otonomi khusus atau dengan bahasa keren self-government.

Turunan dari damai itu,  Aceh di berikan hak untuk mendirikan Partai Lokal, dan Gerakan itu mendirikannya dengan memberi nama Partai Aceh. Partai Aceh hingga saat ini paling tidak telah meraih untung besar, pasalnya setelah damai mereka berhasil menempatkan kader mereka sebagai Gubernur Aceh.

Dan tak lama berselang dalam pemilu legislatif, mereka juga berhasil menguasai beberapa kabupaten/kota dan parlemen propinsi  diisi oleh kader mereka.

Dr. Zaini Abdullah
Kini, pemilukada sudah diambang pintu. DR Zaini yang beberapa waktu lalu mengambil status sebagai WNI, di calonkan oleh partai itu sebagai bakal calon Gubernur Aceh. Pasangannya pun tidak tanggung, dia menggandeng panglima tinggi GAM yaitu Muzakkir Manaf.

Penentuan pasangan ini beredar kabar dari anggota GAM di lapangan dilakukan secara veto oleh beberapa petinggi gerakan itu dan petinggi partai. Akibatnya terjadi penolakan di berbagai daerah yang di kuasai mantan combatan. Karena ada mantan –mantan combatan di lapangan yang masih menginginkan Irwandi dapat di calonkan kembali. Namun keputusan Komando tidak dapat di ganggu gugat.

Dan penolakan dari orang-orang lapangan itupun sia-sia. Bukan itu saja, imbas penolakan tidak menerimanya keputusan komando itu,  langsung dipecat dan diberhentikan dari jabatan  baik di Partai maupun di organisasi payung mantan combatan yaitu KPA.

Kondisi ini di anggap oleh para korban yang di pecat, adalah keputusan ambisius kekuasaan, karena setiap keputusan tidak di lakukan melalui jalur musyawarah. Ada juga yang berpendapat, Jabatan Meuntro yang disandang DR Zaini, dan Jabatan Panglima tinggi yang disandang Muzakkir Manaf, merupakan pemain inti atau marwah  dalam gerakan ini.

Dan jika penjaga marwah ini mencalonkan diri sebagai Gubernur, menurut mereka  kredibilitas orang yang berwibawa dan yang dulu diagungkan sebagai Meuntro akan berkurang. Dan jikapun terpilih sebagai Gubernur di khawatirkan seorang yang sangat di segani sebelumnya akan sangat mudah dicaci oleh masyarakat yang kurang senang dan tidak puas dengan system kepemimpinan.

Lebih-lebih lagi kalo dalam penghelatan ini, Pasangan Meuntro kalah…………
***

Muzakir Manaf
Kelompok –kelompok yang tidak setuju dengan keputusan Komando umumnya merapat ke kubu Irwandi Yusuf juga mantan GAM yang kini sedang menjabat gubernur Aceh, dan akan mencalonkan diri kembali.   Sisanya terpecah ke Muhammad Nazar Wakil Gubernur yang masih menjabat dan akan mencalonkan diri sebagai Gubernur mendatang.

Bisa jadi nanti pecahan–pecahan ini ada yang bergabung ke kubu Prof Darni M Daud Rektor Unsyiah katanya juga maju sebagai calon Gubernur.  Dan bila muncul Ir. Tarmizi A Karim, bisa jadi dia juga akan kebagian  anggota GAM di dalamnya. Kita liat saja nanti.

***
Disisi yang lain ada desas-desus  yang menarik sedang berkembang, tidak tertutup kemungkinan, langkah yang di lakukan Partai Aceh mencalonkan DR Zaini Abdullah–Muzakkir Manaf di jadikan sebuah strategi politik?

Apa strategi politik? Penentuan pasangan yang di sebut Zikir itu adalah untuk memetakan anggota mantan combatan. Mana yang setia kepada Partai Aceh atau kepada yang lain. Istilah kasarnya untuk melihat kapling dukungan.

Artinya sebelum penghelatan pemilukada  ini di gelar partai ini sudah menseterilkan anggota massa yang pasti atau yang tidak. Bila ini argumentasinya, sudah cocok dengan ungkapan Mentro Malek Mahmud Al Haytar kepada media online The AtjehPost beberapa hari lalu.

“Bila ada empat mangga di keranjang, dan bila ada tiga yang busuk, maka yang busuk itu harus dibuang, agar jangan busuk yang lain”.

Desas–desus itu sedikit panjang.  Setelah di sterilkan semua, tidak tertutup kemungkinan juga Partai Aceh akan menggantikan calon yang kini sedang di perkenalkan yaitu DR Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf dengan diganti dengan pasangan yang lain, begitu juga dengan sejumlah calon Bupati dan Walikota yang kini heboh didukung Partai Aceh  juga akan berganti.   Mungkinkah itu terjadi? Jelas kita tidak tahu, yang paling tahu adalah Partai Aceh sendiri.

Kampanye: Simpatisan Partai Aceh di pelataran parkir stadion Harapan tahun 2009 lalu. (Photo: Roni Muchtar)



Mungkin juga sejumlah kandidat lain sudah memasang kuda-kuda yang kuat dan strategi yang jitu untuk memenangkan pertarungan ini, itu juga belum kita tahu, yang pasti bila semua kandidat yang sudah nampak ke permukaan, dan  terus melaju, pertarungan sengit antar pasangan akan terjadi, antara dr Zaini Abdullah dengan drh Irwandi Yusuf, Muhammad Nazar, S.Ag,  Prof Darni Daud dan Ir Tarmizi A Karim.

Waktu untuk memilih semakin dekat, Sementara masyarakat  hanya penonton yang merasakan hembusan berbagai angin politik, dengan berbagai macam bau dan aroma serta penampilan.

Namun walaupun ada kandidat  belum jelas kenderaan, mereka sudah memperkenalkan diri, dan mulai menyampaikan sedikit tentang arah pemerintahannya,  bila ia terpilih, jadi G-Aceh 1.

Daaaaaaaaaaann bila sampai masanya, yaitu hari pencoblosan, Itu semua terserah pada  pilihan masing-masing, tergantung keyakinan. Bila ada kandidat yang menyampaikan mimpi dan jika menyakini mimpi tersebut pilihlah kandidat yang sedang bermimpi? Dan jika kandidat menyampaikan hal–hal yang memungkinkan jadi kenyataan pilihlah yang anda yakini bakal ada yang nyata.

Dan bila ada kandidat yang mengajak kita untuk meyakini saja, tapi tidak berbuat. Bila cocok dan sepaham dengan anda,  pilihlah  dia? Dan bila ada kandidat yang anda yakini akan menolong anda dari busung lapar, pilih lah dia?. Tentunya suara anda sangat menentukan menang atau kalahnya mereka.

Penulis adalah Irwan seorang mahasiswa yang berdomisi di Aceh Utara.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016