Doto
Zaini Abdullah di kalangan GAM disebut Meuntroe atau bahasa Indonesianya sama
dengan menteri. Ia sudah sepertinya resmi
mencalonkan diri sebagai bakal calon Gubernur Aceh dalam pemilukada mendatang.
Meuntro
atau Menteri adalah jabatan di bawah kepala negara atau kabinet sebuah negara.
Sementara Gubernur adalah kepala pemerintahan di sebuah propinsi. Bila merujuk
pada nama ini jelas, jabatan mentro jauh lebih tinggi ketimbang Gubernur.
Zaini
Abdullah adalah salah satu kabinet pemerintahan GAM almarhum Tengku Hasan di Tiro. Agustus 2005
melalui perundingan damai Gerakan yang dibangun tahun 1976 ini setuju untuk kembali kedalam NKRI dan
melepas tuntutan merdeka, menerima otonomi khusus atau dengan bahasa keren self-government.
Turunan
dari damai itu, Aceh di berikan hak
untuk mendirikan Partai Lokal, dan Gerakan itu mendirikannya dengan memberi nama
Partai Aceh. Partai Aceh hingga saat ini paling tidak telah meraih untung
besar, pasalnya setelah damai mereka berhasil menempatkan kader mereka sebagai
Gubernur Aceh.
Dan
tak lama berselang dalam pemilu legislatif, mereka juga berhasil menguasai beberapa
kabupaten/kota dan parlemen propinsi diisi oleh kader mereka.
![]() |
| Dr. Zaini Abdullah |
Penentuan
pasangan ini beredar kabar dari anggota GAM di lapangan dilakukan secara veto
oleh beberapa petinggi gerakan itu dan petinggi partai. Akibatnya terjadi
penolakan di berbagai daerah yang di kuasai mantan combatan. Karena ada mantan –mantan
combatan di lapangan yang masih menginginkan Irwandi dapat di calonkan kembali.
Namun keputusan Komando tidak dapat di ganggu gugat.
Dan
penolakan dari orang-orang lapangan itupun sia-sia. Bukan itu saja, imbas
penolakan tidak menerimanya keputusan komando itu, langsung dipecat dan diberhentikan dari
jabatan baik di Partai maupun di
organisasi payung mantan combatan yaitu KPA.
Kondisi
ini di anggap oleh para korban yang di pecat, adalah keputusan ambisius
kekuasaan, karena setiap keputusan tidak di lakukan melalui jalur musyawarah. Ada
juga yang berpendapat, Jabatan Meuntro
yang disandang DR Zaini, dan Jabatan Panglima tinggi yang disandang Muzakkir
Manaf, merupakan pemain inti atau marwah dalam gerakan ini.
Dan
jika penjaga marwah ini mencalonkan diri sebagai Gubernur, menurut mereka kredibilitas orang yang berwibawa dan yang
dulu diagungkan sebagai Meuntro akan berkurang. Dan jikapun terpilih sebagai
Gubernur di khawatirkan seorang yang sangat di segani sebelumnya akan sangat
mudah dicaci oleh masyarakat yang kurang senang dan tidak puas dengan system kepemimpinan.
Lebih-lebih
lagi kalo dalam penghelatan ini, Pasangan Meuntro kalah…………
***
![]() |
| Muzakir Manaf |
Bisa
jadi nanti pecahan–pecahan ini ada yang bergabung ke kubu Prof Darni M Daud Rektor
Unsyiah katanya juga maju sebagai calon Gubernur. Dan bila muncul Ir. Tarmizi A Karim, bisa jadi
dia juga akan kebagian anggota GAM di
dalamnya. Kita liat saja nanti.
***
Disisi
yang lain ada desas-desus yang menarik
sedang berkembang, tidak tertutup kemungkinan, langkah yang di lakukan Partai
Aceh mencalonkan DR Zaini Abdullah–Muzakkir Manaf di jadikan sebuah strategi
politik?
Apa
strategi politik? Penentuan pasangan yang di sebut Zikir itu adalah untuk
memetakan anggota mantan combatan. Mana yang setia kepada Partai Aceh atau
kepada yang lain. Istilah kasarnya untuk melihat kapling dukungan.
Artinya
sebelum penghelatan pemilukada ini di
gelar partai ini sudah menseterilkan anggota massa yang pasti atau yang tidak. Bila
ini argumentasinya, sudah cocok dengan ungkapan Mentro Malek Mahmud Al Haytar
kepada media online The AtjehPost beberapa hari lalu.
“Bila
ada empat mangga di keranjang, dan bila ada tiga yang busuk, maka yang busuk
itu harus dibuang, agar jangan busuk yang lain”.
Desas–desus
itu sedikit panjang. Setelah di
sterilkan semua, tidak tertutup kemungkinan juga Partai Aceh akan menggantikan
calon yang kini sedang di perkenalkan yaitu DR Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf
dengan diganti dengan pasangan yang lain, begitu juga dengan sejumlah calon Bupati
dan Walikota yang kini heboh didukung Partai Aceh juga akan berganti. Mungkinkah
itu terjadi? Jelas kita tidak tahu, yang paling tahu adalah Partai Aceh
sendiri.
![]() |
| Kampanye: Simpatisan Partai Aceh di pelataran parkir stadion Harapan tahun 2009 lalu. (Photo: Roni Muchtar) |
Mungkin
juga sejumlah kandidat lain sudah memasang kuda-kuda yang kuat dan strategi
yang jitu untuk memenangkan pertarungan ini, itu juga belum kita tahu, yang
pasti bila semua kandidat yang sudah nampak ke permukaan, dan terus melaju, pertarungan sengit antar
pasangan akan terjadi, antara dr Zaini Abdullah dengan drh Irwandi Yusuf,
Muhammad Nazar, S.Ag, Prof Darni Daud
dan Ir Tarmizi A Karim.
Waktu
untuk memilih semakin dekat, Sementara masyarakat hanya penonton yang merasakan hembusan
berbagai angin politik, dengan berbagai macam bau dan aroma serta penampilan.
Namun
walaupun ada kandidat belum jelas
kenderaan, mereka sudah memperkenalkan diri, dan mulai menyampaikan sedikit tentang
arah pemerintahannya, bila ia terpilih, jadi
G-Aceh 1.
Daaaaaaaaaaann
bila sampai masanya, yaitu hari pencoblosan, Itu semua terserah pada pilihan masing-masing, tergantung keyakinan. Bila
ada kandidat yang menyampaikan mimpi dan jika menyakini mimpi tersebut pilihlah
kandidat yang sedang bermimpi? Dan jika kandidat menyampaikan hal–hal yang
memungkinkan jadi kenyataan pilihlah yang anda yakini bakal ada yang nyata.
Dan
bila ada kandidat yang mengajak kita untuk meyakini saja, tapi tidak berbuat.
Bila cocok dan sepaham dengan anda, pilihlah dia? Dan bila ada kandidat yang anda yakini
akan menolong anda dari busung lapar, pilih lah dia?. Tentunya suara anda
sangat menentukan menang atau kalahnya mereka.
Penulis adalah Irwan seorang
mahasiswa yang berdomisi di Aceh Utara.





0 komentar:
Posting Komentar