Perselingkuhan bukan satu-satunya penyebab
perceraian. Bahkan terjebak macet selama bermenit-menit juga salah satu
penyebab hancurnya pernikahan. Temuan ini berdasarkan penelitian di Swedia.
Komuter
yang memiliki gaji besar serta hidup mewah menempatkan perkawinan
mereka berada pada risiko. Studi ini dilakukan para peneliti di
Universitas Umea di Swedia. Mereka menemukan bahwa pekerja yang menempuh
perjalanan jauh selama sekitar 45 menit atau lebih, dalam perjalanan di
kereta atau terjebak dalam lalu lintas, 40 persen lebih mungkin
berpisah dari pasangan mereka.
Bahkan, risiko berpisah tertinggi
terjadi dalam tahun pertama pernikahan ketika mimpi hidup bersama
berjalan dalam kehidupan sehari-hari seperti dilaporkan Daily Mail.
"Lebih banyak orang menghabiskan waktu lebih lama di jalan setiap harinya," kata ketua peneliti Erka Sandow Star.
"Tetapi dampak sosial dan fakta bahwa sebenarnya orang yang terlibat sering dilupakan," jelasnya.
Dalam
rangka mencari keterkaitan antara waktu yang lebih lama bagi komuter di
jalan dan perceraian, para peneliti melihat data statistik sebanyak 2
juta warga Swedia antara 1995 dan 2000.
Para peneliti menilai
perjalanan 45 menit sebagai penyebab yang bisa mengakibatkan perceraian.
Mungkin, dalam keluarga ketika pria menempuh jarak perjalanan yang
panjang, istri seharusnya mengambil pekerjaan yang lebih dekat ke rumah,
yang berarti lebih sedikit uang yang diperlukan, dan pembagian tanggung
jawab yang lebih besar, baik untuk anak-anak dan rumah.
Apalagi,
jika pasangan, kemungkinan besar suami, menghabiskan waktu yang lama di
jalan dibandingkan di kantor dan rumah, kemungkinan besar ia akan
terlalu lelah untuk mengulurkan tangan membantu dalam pekerjaan rumah
tangga. Hal inilah yang akan menciptakan tempat berkembang biak bagi
konflik.
"Perjalanan jauh untuk bekerja adalah baik untuk rekening
bank dan status karir, tetapi mendekatkan rusaknya hubungan yang
mengarah ke perceraian," kata Sandow, seorang ahli geografi sosial di
Universitas Umea,.
Sandow menegaskan kembali bahwa menyelesaikan
konflik tersebut tidak boleh terlalu besar dari masalah.
"Peningkatan
komuter jarak jauh juga dapat dilihat positif dalam arti meningkatkan
kebebasan individu untuk memilih tempat tinggal dan bekerja jarak jauh,
orang tidak harus pindah untuk mendapatkan pekerjaan, atau dapat memilih
area perumahan yang lebih disukai sambil menjaga pekerjaan lama mereka,
"tulis Sandow di koran.
"Tidak semua orang berpisah. Banyak orang menganggap itu strategi yang berkelanjutan," imbuhnya.
Ahli
Hubungan Jean Hannah Edelstein menambahkan, "Dalam kebanyakan hubungan
ada dua orang dan tiga pekerjaan, tiap pasangan masing-masing memiliki
pekerjaan dan kemudian ada masalah menjaga rumah".
"Anda harus
mencari jalan yang disukai setiap orang seperti mereka sedang melakukan
sejumlah pekerjaan yang adil. Yang membutuhkan banyak berbicara,
mendengarkan, dan fleksibilitas".|liputan 6

0 komentar:
Posting Komentar