News Update :

Sentimen Anti-Cina, AS Terancam Kehilangan Investasi US$2 T

Rabu, 11 Mei 2011


Jakarta - Kekuatan ekonomi China sebagai macan Asia sudah diperhitungkan negara-negara besar dunia. Namun, Amerika tampaknya mengalami masalah dengan sentimen anti-China di negaranya.
Perkumpulan Asia yang berbasis di New York, baru-baru ini mengeluarkan laporan mengatakan bahwa AS bisa kehilangan US$1-2 triliun investasi dari China pada tahun-tahun mendatang. Kekhawatiran China mengenai sentimen anti-China di Amerika, telah membuat Negeri Tirai Bambu ini berpikir dua kali tentang investasi di AS.
Padahal, tak dapat dipungkiri, China kini menguasai ekonomi dunia. Lihat saja butik-butik mewah seperti Louis Vuitton dan Gucci yang terletak di sepanjang 5th Avenue, New York. Para penjual di sana mengaku bahwa 60% pelanggan mereka adalah orang China, 20% orang Brazil dan sisanya adalah Eropa dan Amerika. “Beberapa tahun yang lalu, sebagian besar orang Amerika, tapi sekarang tidak lagi," ujarnya.
Beberapa outlet ritel di AS telah cukup bijak menyesuaikan strategi terhadap akomodasi turis China dengan pengeluaran tinggi, salah satunya dengan lebih banyak merekrut tenaga penjual berbahasa Mandarin. Tapi tidak semua peritel Amerika berpikir demikian.
Tiga tahun lalu, pada awal krisis keuangan, Shaun Rein, Pendiri dan Direktur Pelaksana China Market Research Group mewawancarai beberapa eksekutif senior dari 100 perusahaan China di 10 sektor. Lebih dari 70% berekspektasi dapat mempercepat investasi di AS dan Eropa Barat untuk mengambil keuntungan dari valuasi murah dan kredit mudah.
Sekarang, semua berubah. Dalam wawancara baru-baru ini, sebagian besar eksekutif mengatakan berencana untuk fokus pada Eropa, karena takut sentimen anti-China meningkat di AS. “Kasus-kasus seperti raksasa telekomunikasi Huawei menolak akuisisi 3Leaf Sistem telah membuat mereka gugup, sementara di Eropa, investor China justru disambut,”paparnya.
Rein menuturkan, Amerika perlu memiliki kambing hitam yang tidak disukai. Pada 1980-an, peran itu diberikan pada Jepang. Namun Negeri Sakura ini kini sekutu kuat AS dan benteng melawan China, yang menggantikan peran tersebut.
Seperti yang dilakukan politisi dan pengusaha AS, Donald Trump hingga tulisan-tulisan ekonom Paul Krugman, yang menilai bahwa China memanipulasi mata uangnya untuk menjaga pengangguran AS tinggi, semua menggambarkan China sebagai sumber kejahatan dari sisi manapun.
Investasi senilai US$2 triliun bisa kabur dan memicu penganguran di Amerika dan menekan surplus perdagangan dengan China. Jadi, ketimbang menolak uang China, AS harus menyambutnya seperti yang dilakukan Spanyol dan Yunani.
Senator New York Charles Schumer mengatakan, penyakit ekonomi Amerika lebih disebabkan karena orang China miskin yang diperbudak dengan bayaran US$ 150 sebulan untuk membuat iPads dan sepatu Nike, ketimbang ekses-ekses Wall Street dan ketidakmampuan Amerika hidup dalam batas kemampuannya.
Taruhannya jauh lebih tinggi dari US$ 2 triliun dalam investasi. China bisa muncul sebagai ancaman serius. Sekarang mereka tidak. Kebanyakan orang di China menyukai Amerika, tidak hanya rakyat umum. Seorang pejabat tinggi yang sering disorot media Barat mengatakan, "Saya tidak mengerti mengapa AS tetap mengkritik kita. Aku mencintai Amerika. "
Xi Jinping, calon presiden China berikutnya, telah mengirim putrinya ke Harvard, sehingga ada beberapa politisi senior China beberapa tahun terakhir. Namun, China juga memiliki ketidakpercayaan yang mendalam atas pemerintah AS karena mengetahui retoris Anti China dapat memanas. Apalagi mereka menilai AS sebagai bangsa yang suka perang.
Namun, Cina memiliki potensi menyaingi kekuatan militer Amerika di dekade mendatang. Selain memiliki sejarah karena pernah ditekan oleh kekuatan asing lebih dari seratus tahun yang lalu selama masa Dinasti Qing.
Untuk mengimbangi ketegangan yang berkembang, Rein melihat perlunya saling ketergantungan ekonomi. Ketika uang dipertaruhkan, maka akan jauh lebih mudah membuat dua pihak datang dan berbicara rasional.
Sebagian besar kesalahan ditujukan pada Presiden Obama, yang belum meperjelas hubungan AS dengan Cina. Apakah sebagai sekutu, teman, atau musuh? Publik Amerika melihat kepada presiden untuk menentukan hubungan dengan negara lain dan pemerintahannya perlu melakukan itu pekan ini selama Dialog Ekonomi Strategis antar kedua negara. [mdr] | Inilah.com
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016