
BANDA ACEH - Pertemuan International Concern Group on Rohingyas (ICGR) yang diadakan di Bangkok, 28 – 29 April 2011 mendukung perjuangan hak-hak etnis Rohingya, yang selalu ditekan pemerintah junta militer, Myanmar.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh 25 delegasi dari Philipina, Malaysia, Thailand, Indonesia, Bangladesh, India, Srilangka, Nepal, Pakistan, Nepal, Kirgistan, Amerika Serikat dan perwakilan etnis Rohingya baik yang ada di Bangladesh maupun Thailand.
Hasil pertemuan disampaikan oleh salah seorang delegasi Indonesia, Adli Abdullah kepada Atjeh Post, Minggu 1 Mei 2011. Adli Abdullah sekaligus diangkat menjadi Sekreatris ICGR dalam pertemuan itu.
Menurutnya, semua delegasi sepakat untuk mendukung perjuangan politik etnis Rohingya baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri untuk mendapatakan status kewarganegaraan bagi mareka yang telah mendiami wilayah Arakan, bagian barat Nyanmar ratusan tahun yang lalu. “Mereka tidak boleh lagi diusir oleh junta militer Nyanmar,” ujar mantan Sekretaris Panglima Laot Aceh itu.
ICGR terus melakukan lobi kepada ASEAN dan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk menekan rezim junta militer Nyanmar agar menghentikan pembersihan etnis Rohingya di Myanmar. Mereka juga akan melakukan advokasi terhadap “manusia perahu rohingya” yang terdampar di luar negaranya agar mareka merasa nyaman dan situasi di Myanmar cepat pulih. “Supaya mereka bisa kembali hidup layak seperti suku suku bangsa lainnya di Myanmar.”
Pengungsi etnis Rohingya sekarang ini mencapai satu juta empat ratus lebih yang menjadi pengungsi Malaysia, Bangladesh, Srilangka, Indonesia (Aceh) dan Timur Tengah.
Koordinator ICGR, DR Clarence Dias mengatakan bahwa mereka berkumpul untuk membangun solidaritas bersama, komitmen dan dukungan kemanusiaan terhadap etnis Rohingya yang diperlakukan tidak manusiawi. Kekejaman junta militer Myanmar menabrak Universal Declaration on Human Right yang yang diakui oleh bangsa bangsa beradab di dunia.|Sumber AtjehPost

0 komentar:
Posting Komentar