Warung
Kopi Jasa Ayah atau yang dikenal Warung Kopi Solong di daerah Ulee
Kareng, Banda Aceh, tergolong warung kopi tua. Di Aceh kini marak warung
kopi sehingga Aceh disebut "Negeri Seribu Warung Kopi".
Ngang...nging...ngung…. Gemuruh itu bagaikan suara gerombolan
tawon. Tak henti pagi, siang, dan malam. Mereka masuk-keluar silih
berganti. Meski bising, mereka terus berdatangan. Ruangan yang agak luas
itu selalu penuh. Inilah suasana di Warung Kopi Jasa Ayah alias Solong
Coffee di Ulee Kareng, Banda Aceh, di Negeri Seribu Warung Kopi.
Pemilik
warung kopi, H Nawawi, tampak sibuk melayani pengunjung. Karyawannya
hilir mudik membawa gelas-gelas kopi dan kue. Pengunjungnya pun tak
kalah sibuk. Mereka mencari tempat duduk. Saking penuhnya, kadang mereka
tak mudah mendapat tempat duduk. Ada yang duduk berjam-jam, tapi ada
juga yang duduk hanya beberapa menit, sekadar minum kopi terus pergi.
”Usaha
ini diawali oleh ayah saya tahun 1974. Saya melanjutkannya,” kata
Nawawi menceritakan awal warung kopi itu. Warung Kopi Jasa Ayah
merupakan warung kopi yang tergolong tua. Warung kopi sejenis inilah
yang tergolong warung kopi tradisional di Banda Aceh dan sekitarnya.
Warung
kopi tradisional yang dimaksud mulai cara pembuatan minuman kopi yang
direbus dan menggunakan saringan saat hendak disajikan, fasilitas yang
tak lebih dari meja dan kursi, jenis minumannya, hingga tipe orang yang
datang ke tempat itu. Bila kita menggunakan sebutan warung tradisional,
tentu ada warung jenis lain.
”Kini banyak warung kopi baru
bertumbuhan di Banda Aceh dan di kota lainnya, seperti Lhokseumawe dan
Takengon. Warung kopi tradisional seperti Warung Kopi Jasa Ayah bisa
digolongkan generasi pertama. Generasi kedua adalah warung kopi yang
dikembangkan dengan waralaba. Generasi ketiga adalah warung kopi yang
memberi fasilitas tak hanya minuman dan makanan, tetapi juga musik,
televisi satelit, dan akses internet,” kata antropolog Teuku Kemal
Fasya.
Pascatsunami
Pascatsunami dan
perjanjian damai Helsinki di Banda Aceh dan juga kota-kota lain di
pantai timur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), banyak sekali bertumbuhan
tempat duduk dan tempat minum itu, baik yang tetap menyebut warung kopi
maupun kafe. Jumlah pasti warung kopi itu tidak diketahui, tetapi kita
bisa melihat jalan-jalan di Banda Aceh dan beberapa kota lainnya
dipenuhi warung kopi. Salah satunya di jalan lingkar yang belum lama
dibuka dan kini sudah ada sekitar 10 warung kopi atau kafe.
Fasya
mengatakan, menjamurnya warung kopi atau kafe terkait dengan kedatangan
sukarelawan dan pekerja, baik dari dalam maupun luar negeri, ke NAD.
Mereka membutuhkan tempat untuk duduk dan minum serta untuk relaksasi
dan bertemu relasi. Perubahan lainnya yang tampak adalah jam buka warung
kopi, yang semula tak sampai 24 jam tetapi kini muncul warung kopi yang
buka 24 jam.
”Para pendatang juga merasa membutuhkan ruang publik
yang nyaman. Perkembangan warung kopi atau yang modern disebut kafe
belakangan ini karena adanya peluang ekonomi yang terkait dengan
kebutuhan ruang publik itu. Orang Aceh menangkap peluang itu,” kata
Fasya.
Kebiasaan minum kopi yang sudah ada dan mengakar di
kalangan masyarakat di Banda Aceh dan sekitarnya makin berkembang ketika
para sukarelawan dan pekerja itu menikmati suasana warung kopi. Akar
tradisi minum kopi dan duduk di warung kopi boleh dibilang sudah cukup
lama. Melihat fakta sejarah mengenai komunikasi yang intens antara
Kesultanan Aceh dan Kesultanan Ottoman yang sekarang berada di Turki,
mungkin kebiasaan mengunjungi warung kopi sudah lama ada di kalangan
masyarakat Aceh.
”Sehabis shalat subuh hingga malam hari kita bisa
menemui orang dari berbagai kalangan berada di warung kopi. Obrolan apa
saja ada di warung kopi, dari soal politik, ekonomi, sampai urusan
kesenian ada di situ,” kata budayawan LK Ara. Ia menuturkan, kadang
orang duduk berjam-jam di warung kopi.
Di mata Ara, memang tidak
bisa dimungkiri ada orang yang bermalas-malas di tempat itu sehingga
kadang ada yang mengkritik warung kopi tempat bermalas-malas. Namun,
menurut dia, banyaknya orang di warung kopi karena juga menjadi tempat
untuk menggali ide atau menambah informasi.
”Dari warung kopi
kemudian ke tempat kerja. Di tempat kerja mereka bisa mengembangkan
ide-ide yang didapat dari warung kopi,” kata Ara sambil menyebut
wartawan dan juga sastrawan pemenang Nobel asal Mesir yang mendapat
ide-ide di warung kopi sebelum berangkat bekerja.
Fasya
mengatakan, orang dengan latar belakang bermacam-macam profesi kerap
kali bertemu di warung kopi. Meski tidak ada pembedaan yang jelas, ia
menyebutkan kalangan aktivis mahasiswa dan partai politik lebih
menyenangi warung kopi tradisional. Namun, kalangan remaja dan muda
memilih kafe-kafe yang baru bermunculan dengan fasilitas internet,
nonton bareng, hingga musik.
Pembedaan lainnya yang juga terlihat
adalah cara penghitungan pembayaran minuman. Di warung tradisional kopi
kerap kali penghitungan hanya berdasarkan ingatan pegawai warung kopi.
Ketika kita menanyakan jumlah yang harus dibayar, si pegawai warung kopi
langsung mengatakan angka tertentu. Sebaliknya di warung kopi atau
kafe, pemilik menyediakan bukti pembayaran yang akurat dan rinci.
”Kadang
kita datang ke warung kopi tradisional pada waktu yang berbeda, harga
yang harus dibayar berbeda meski minuman dan kue yang kita beli sama,”
kata Fasya mencontohkan hal kecil tersebut, yang ternyata diamati oleh
para pengunjung warung kopi.
Identitas
Ada
yang menarik dari maraknya warung kopi di NAD. Ketika proyek
rehabilitasi hendak berakhir dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD
Nias akan ditutup pada awal 2009, banyak kalangan menduga ekonomi NAD
akan anjlok karena aliran dana akan berkurang banyak. Otomatis, usaha
warung kopi diduga akan ambruk karena para pendatang juga berkurang.
Akan tetapi, yang aneh dari warung kopi, pengunjung tetap marak dan
tidak berubah meski pendatang sudah berkurang.
Beberapa kalangan
menduga, secara tradisi minum kopi telah mengakar di kalangan rakyat
Aceh. Kebiasaan ini mungkin pada suatu massa berkurang, tapi akan muncul
kembali pada masa berikutnya. Saat ini gairah itu memuncak lagi. Di
sisi lain, perkembangan kafe modern berhasil menarik anak-anak muda
untuk memasuki ruang publik itu. Layaknya di kota besar, kafe menjadi
bagian identitas anak-anak muda. Kerumunan anak muda mudah ditemui di
tempat-tempat itu.
Jadi, meski proyek banyak yang telah selesai
dan diikuti pendatang yang kembali ke tempat asal, warung kopi tetap
marak. Kopi dan kehadiran warung kopi bisa menjadi simbol dan mercu
tanda baru bagi NAD.
”Banyak identitas dan simbol terkait dengan
Aceh. Ada yang bilang Serambi Mekah, Tanah Rencong, dan juga Cakra
Dunia. Kini Aceh mendapat identitas baru terkait dengan warung kopi,”
kata Fasya.
Beberapa seniman dan budayawan di NAD pun telah banyak
yang menyebut Aceh sebagai Negeri Seribu Warung Kopi. Sebuah identitas
yang bisa digunakan untuk menggerakkan pariwisata. Suatu saat bisa saja
dibikin Festival Minum Kopi. | Kompas


0 komentar:
Posting Komentar