News Update :

Bom Buku Dirancang Kelompok Baru

Minggu, 24 April 2011


Jakarta - Markas Besar Kepolisian RI menduga 19 tersangka rencana peledakan bom Serpong, Tangerang Selatan, dan penyebar teror bom buku di Jakarta merupakan anggota kelompok baru.

Mereka awalnya tidak radikal, kemudian jadi radikal," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Markas Besar Polri kemarin.

Menurut Boy, anggota kelompok teroris yang ditangkapi dalam beberapa hari terakhir itu kemungkinan besar tidak terkait dengan jaringan teroris lama yang pentolannya telah banyak dilumpuhkan. Meski begitu, misi dan pola aksi kelompok baru ini masih memiliki kemiripan dengan kelompok lama. "Bisa jadi mereka partisan dan simpatisan kelompok lama," katanya.

Boy menambahkan, kelompok baru teroris ini belajar sendiri untuk merakit berbagai jenis bom, termasuk bom buku dan bom berbahan peledak karbit yang ditemukan di gorong-gorong dekat pipa gas di Gading Serpong, Tangerang.

Dari sisi pendanaan, menurut Boy, kelompok baru pun tidak bergantung pada sumbangan jaringan lama. "Anggaran dikumpulkan di antara mereka," ujarnya.

Dalam sepekan terakhir, Detasemen Khusus 88 Antiteror telah menangkap 20 orang yang diduga terkait dengan bom buku dan rencana bom Serpong. Mereka ditangkap di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Aceh.

Menurut polisi, kelompok yang baru dicokok itu dipimpin pria berinisial P dan J. Keduanya bekas mahasiswa Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, dulu Institut Agama Islam Negeri Jakarta, dari angkatan berbeda.

Dalam kelompok P dan J, hanya sebagian kecil yang berperan sebagai perancang teror. "Hanya dua atau tiga yang merancang bom." Sebagian lagi, kata Boy, berperan sebagai kurir. "Mereka (kurir) tidak tahu kalau dimanfaatkan jasanya."

Sejauh ini polisi belum menemukan kaitan jaringan pelaku bom buku dan bom Serpong dengan jaringan pelaku bom bunuh diri di Masjid Az-Zikra, Cirebon. "Kami masih mendalaminya, apakah ada keterkaitan atau tidak," ujar Boy.

Pengamat terorisme Noor Huda Ismail mengatakan tren gerakan teroris saat ini terbagi dua. Pertama, ada kelompok yang ingin menguatkan jejaring yang bercerai-berai setelah dihajar aparat. Kedua, ada kelompok yang ingin beraksi secara sendiri-sendiri.

Melihat pola serangan teroris yang acak, Noor mengaku kesulitan membaca kelompok mana yang bermain. "Serangan mereka seperti mengalami disorientasi," kata dia. "Pelakunya bisa dari jaringan yang terputus." |Sumber TEMPO
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016