News Update :

Membangun Aceh Kedepan, Perlukah Partai Oposisi ?

Selasa, 01 Mei 2012




Hasil Pilkada Aceh dari rapat pleno KIP Aceh telah memenangkan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf sebagai Gubernur Aceh periode tahun 2012-2017. Diluar dari pada sederetan kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oleh Partai Aceh dalam Pilkada.

Ini membuktikan sebagian masyarakat Aceh masih percaya dan mendukung pasangan yang diusung oleh Partai Aceh (PA) untuk memimpin Aceh lima tahun kedepan, Dan ini menjadi Gubernur pertama dari sejarah Bangsa Indonesia yang di usung oleh Partai lokal, Meskipun pasangan ini belum dilantik tapi kemenangan sudah didepan mata.

Terpilihnya pasangan ini menjadi Gubernur Aceh yang diusung oleh Partai lokal (PA) semakin memperkokoh posisi dipemerintahan. Mereka juga menguasai hampir sebagian kursi diparlemen Aceh maka sudah cukuplah syarat untuk menguasai Aceh secara kepemerintahan.

Dilihat dari beberapa pengalaman, kader-kader mereka di DPRA yang telah menjabat dua tahun lebih belum membuahkan hasil secara maksimal, dan terlepas dari alasan banyaknya kepentingan dari pihak eksekutif masa itu.

Disinilah keraguan penulis apakah Aceh ini perlu Partai oposisi ?? untuk mengimbangi dominasi mengontrol dan mencegah kesalahan pemerintah dimasa yang akan datang.

Oposisi dalam bahasa Inggris; opposition. Dalam bahasa Latin: oppositus, opponere, (memperhadapkan, membantah, menyanggah, menentang) menurut pakar hukum dan politik diartikan sebagai kubu partai yang mempunyai pendirian bertentangan dengan garis kebijakan kelompok yang menjalankan pemerintahan.

Oposisi bukan musuh, melainkan sparing patner dalam percaturan politik. John M. Echols dan Hasan Shadili dalam Kamus Inggris-Indonesia, Gramedia, Jakarta, 1992.

Dalam demokrasi, oposisi dianggap sesuatu yang sangat diperlukan, sehingga oposisi dalam parlemen melembaga secara resmi.

Sebab oposisi menjalankan suatu fungsi yang sangat vital dan penting yaitu check and balances, mengontrol pemerintah yang didukung mayoritas, menguji kebijakan pemerintah dengan menunjukkan titik-titik kelemahannya, mengajukan alternatif atau solusi. B.N. Marbun, SH., dalam Kamus Politik, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta,1996.

Kita lihat saja dari beberapa partai politik yang ada diparlemen sekarang baik Partai Nasional maupun Partai lokal hampir tidak ada yang mengarah ke oposisi apalagi oposisi sebenarnya, agar bisa lebih bebas mengontrol dan mendorong percepatan pembangunan.

 Dalam kondisi kekinian Aceh sekarang dengan tidak adanya oposisi apakah sudah ada jaminan Pemerintahan sekarang dan kedepan akan bagus sesuai dengan harapan rakyat? Tentunya jawaban ada pada diri kita masing-masing.

Walaupun demikian harapan kita rakyat, kedepan Aceh ini lebih baik dibawah kepemimpinan calon Gubernur terpilih untuk membawa Aceh kearah kejayaan. 

Seperti saat janji dalam kampanye semoga dapat terealisasi, Agar kepercayaan Rakyat Aceh terhadap Partai Aceh dapat terjaga dan bukan malah kecewa dengan berjuta janji-janji. [*]

Penulis Ilham Manzis Mahasiswa Ilmu Sosial Dan Politik, Universitas Almuslim Kab. Bireuen
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016