Dalam sebuah shalat Jumat Khatib berwasiat kepada diri khatib dan
mengajak kepada Jama'ah marilah kita meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah
SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Sifat jujur dan adil merupakan inti dalam ajaran Islam. Ada
anekdot dalam masyarakat "Mencari orang pinter di negeri ini sungguh banyak,
tetapi mencari orang yang jujur (bener/lurus) menjadi hal yang teramat langka
dan suulit".
Kejujuran menempati kedudukan istimewa dalam ajaran Islam, karena
ia merupakan penopang/penyangga jalan kebaikan bagi manusia. Menurut
Al-Qusyairi, kejujuran menempati kedudukan setingkat di bawah kenabian,
sebagaimana firman Allah SWT:
''Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka
itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,
yaitu para nabi dan orang-orang yang menetapi kebenaran.'' (QS An-Nisa [4]: 69).
Alquran memuji orang-orang yang jujur
lebih dari lima puluh kali. Salah satunya yang termaktub dalam surah al-Ahzab
[33] ayat 24:
''Supaya Allah memberikan
balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa
orang-orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.''
Kejujuran yang bagaimanakah yang dimaksud
oleh Alquran itu?
Salah satu cirinya adalah jika batin seseorang serasi dengan
perbuatan lahirnya.
Sebagaimana diriwayatkan Abu Qilabah bahwa Umar bin Khathab RA
melarang umat Islam menilai dan melihat puasa atau shalat seseorang, tetapi
hendaknya melihat kejujuran ucapan seseorang jika ia berbicara, amanahnya jika
ia diberi tanggung jawab, dan kemampuannya meninggalkan apa pun yang meragukan
jika mendapat kenikmatan dunia.
Inti kejujuran adalah jika seseorang
berkata benar dalam situasi-situasi di mana hanya dusta yang bisa
menyelamatkannya.
Pernyataan senada juga diutarakan Imam Thabari. Ia menekankan
pentingya seseorang berkata dan berbuat jujur dalam kehidupan sehari-hari,
walaupun kejujuran itu akan membunuh atau membinasakannya.
Contoh ideal dalam hal ini tentunya
Rasulullah SAW. Kejujuran beliau yang mencerminkan ketinggian akhlak yang
mendapat pujian Allah SWT seperti disebutkan ''Dan engkau sungguh mempunyai akhlak yang
agung.'' (QS al-Qalam [68]: 4).
Berlaku jujur merupakan sendi pokok dalam
membangun keluhuran moral dan mental suatu bangsa untuk menciptakan keadilan
dan kehidupan sosial yang lebih harmonis dan tenteram dalam suatu masyarakat,
bangsa dan negara.
Oleh karena itu, kejujuran mesti tertanam
dalam jiwa semua orang yang beriman. Berkata
bohong, berkomentar yang tidak berdasarkan fakta dan informasi yang benar,
justru akan menyebabkan fitnah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara termasuk akan merusak sendi-sendi keadilan.
Selayaknyalah kita sama-sama menjaga kebersamaan dengan menjunjung
tinggi kejujuran dan keadilan demi terciptanya keluhuran moral dan bermartabat
bangsa.
Jama’ah yang dirahmati Allah Allah SWT,
Potret kondisi suatu masyarakat dimana
telah terjadi ketidakjujuran, keadilan, kemunafikan, khianat, fitnah dsb,
telah terekam dan diabadikan dalam Al Qur’an surat an Nisaa’ 105-113: Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab
kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan
apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang
(orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (QS.
4:105).
1.
Al
Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk dijadikan pedoman dalam
menetapkan hukum
baik hal-hal yang menyangkut hablumminallah dan hablumminannas.
2.
Rasulullah
dilarang membela orang yang khianat, tidak jujur, dan pembohong, dan pemberi
kesaksian palsu.
3.
Para
penghianat biasanya menyembunyikan kejahatannya terhadap manusia karena takut
akan terbuka rahasianya. Tetapi Allah mengetahui segala apa yang tersembunyi
dalam hati mereka.
4.
Meskipun
para penghianat itu dapat lolos dari hukuman di dunia karena kepintaran mereka
membolakbalikkan fakta/persoalan, namun di akhirat mereka tidak akan terlepas
dari siksa dan Adzab Allah SWT.
5.
Orang-orang
yang berbuat kejahatan kemudian menuduh orang lain yang tidak bersalah, akan
mendapat dua dosa, yaitu dosa atas kejahatannya dan dosa atas tuduhannya yang
tidak benar (fitnah) itu.
6.
Orang-orang
yang terlanjur berbuat kejahatan atau kezaliman kemudian dia benar-benar
bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya.[*]
Sumber : Demikian khutbah singkat yang
dapat khatib sampaikan pada hari Jum’at 2 April 2010 di Masjid Al Huda
Abdul Aziz Jatisari Kota Bekasi mudah-mudahan ada menfaatnya. Amin. H.
Ibnu Subroto, S. Sos
Baca juga :


0 komentar:
Posting Komentar