Jalur
Kemenangan Abdullah Zaini – Muzakkir Manaf Dimulai dari Putusan Mahkamah
Konstitusi yang memundurkan Jadwal Pemilihan. Jusuf Kalla, Tomy Winata, Prabowo
Subianto, dan Pemerintah ikut
melapangkan jalan.
[Tulisan ini adalah isi majalah TEMPO edisi 16-22 April 2012 dengan Judul Tangan Jakarta di Serambi Mekkah]
[Tulisan ini adalah isi majalah TEMPO edisi 16-22 April 2012 dengan Judul Tangan Jakarta di Serambi Mekkah]
|||
Karpet merah
bermotif Turki masih terhampar diruang tamu Mess Wali Nanggroe, Jalan Danubroto,
Banda Aceh.
Botol-botol air mineral berserak. Kenduri baru selesai
dilaksanakan, mengundang anak-anak yatim. Doa didaraskan agar tuan rumah, Zaini
Abdullah, bisa “menjalankan amanah”.
Berpasangan
dengan Muzakkir Manaf, Zaini bakal memikul “amanah” baru.
Hitung cepat oleh
sejumlah lembaga survei memperkirakan Mantan Menteri Luar Negeri Gerakan Aceh
Merdeka itu akan menjadi Gubernur Aceh untuk lima tahun kedepan.
Pasangan ini besar kemungkinan memenangi pemilihan senin pekan lalu dalam satu putaran.
Pasangan ini besar kemungkinan memenangi pemilihan senin pekan lalu dalam satu putaran.
Pada usia 72
tahun, Zaini berusaha tampil kasual ketika menemui Tempo, Kamis pekan lalu. Ia mengenakan kemeja dan celana kain, Tapi,
pada saat pemotretan, ia memakai jas.
Dikakinya, ia tetap menggunakan sepatu Crocs. “Kami akan
memangkas birokrasi, dan menekan korupsi.” Ia berjanji.
Toh, usia tak
bisa disembunyikan. Bicaranya sering terdengar bergetar. Beberapa kali, Muzakkir
Abdul Hamid, ajudan yang menemani wawancara, menegaskan maksud ucapan bosnya.
Ia juga sempat berpindah kursi, dari sofa yang disebutnya “terlalu empuk” dan ia tak bisa duduk disitu.
Sempat
bergerilya digunung, lalu lari ke Swedia, Zaini bakal memimpin borokrasi. Ia
didampinggi Muzakir, yang juga bekas gerilyawan sebagai Panglima Militer
Gerakan Aceh Merdeka.
Pencalonan
keduanya tak lancar sejak awal, terutama karena perselisihan antara mereka
dengan Irwandi Yusuf, ia bekas anggota GAM, yang memimpin Aceh pada 2006-2011.
Perundingan, lobi-lobi, juga pertemuan dengan tokoh-tokoh Jakarta harus
dilakukan, termasuk pertemuan diHotel Grand Hyatt, Jakarta, menjelang akhir
tahun lalu.
Ketengangan
meruap di Restoran Sumire, lantai empat Hotel Grand Hyatt. Pentolan Partai
Aceh, seperti Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Muzakkir Manaf, berhadapan dengan
Tim Kementrian Dalam Negeri yang dipimpin Djohermansyah Djohan, Direktur
Jenderal Otonomi Daerah.
Pertemuan pada
21 November 2011 malam itu membahas kesepakatan soal pemilihan Gubernur Aceh.
Ini pertemuan kesekian kali, dan sesungguhnya sudah ada tiga butir kesepakatan
yang diteken Djohan dan Muzakkir di Restoran Shima, Hotel Aryaduta, sebulan
sebelumnya.
Kesepakatan
mentah ketika Muzakkir ketika menelepon Djohan. Ia balik menolak ketiga butir
kesepakatan yang membuka pintu bagi calon independen pada pemilihan Gubernur
Nanggroe Aceh Darussalam. “Padahal kami sebelumnya telah senang karena
pemilihan bisa segera digelar.” Kata Djohan kepada Tempo, Kamis pekan lalu.
|||
Kepada Djohan,
Muzakkir beralasan, Undang-Undang Pemerintahan Aceh hanya sekali membolehkan
calon independen, yakni pada 2006, ketika Partai Aceh belum terbentuk.
Irwandi
Yusuf, yang menggunakan jalur ini, memenangi pemilihan. Namun Mahkamah
Konstitusi kemudian merevisi pasal 256 hingga calon Gubernur yang tak diusung
partai boleh mendaftar.
Partai Aceh
menuding pencabutan pasal itu sebagai “pengkhianatan Jakarta” terhadap
Undang-undang Pemerintahan Aceh dan kesepakatan damai Helsinki 2005.
Mereka
lalu mengungkit “Pengingkaran Jakarta “ terhadap Ikrar Lamteh, yang memantik
perlawanan Daud Beureueh, pada 1958.
Djohan
beriusaha melunakkan sikap petinggi Partai Aceh. Ia menjelaskan bahwa
pencabutan itu keputusan lembaga Yudikatifyang tak bisa dicampuri kekuasaan Eksekutif.
Usaha gagal. Pertemuan di Hotel Hyatt buntu karena kedua pihak sama-sama
bertahan.
“Akhirnya, pemerintah menyerahkannya ke Komisi Independen Pemilihan
Aceh,” kata Djohan.
Kebuntuan itu
rawan karena Komisi sudah membuka pendaftaran calon Independen. Jika ini tetap
dilanjutkan, Partai Aceh menolak ikut pemilihan. Akibatnya, situasi keamanan
dan politik di Aceh bisa goyah lagi.
Partai lokal wadah bekas anggota Gerakan
Aceh Merdeka ini menguasai hampir separuh kursi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.
“Order Presiden Cuma satu: Bikin
Aceh aman,” ujar Djohan.
Tak mau
situasi jadi tak menentu, Djohan mengajak Malik. Zaini, dan Muzakkir berunding
lagi. Untuk meyakinkan mereka, Djohan meminta bantuan mantan Wakil Presiden
Jusuf Kalla. Dikalangan tokoh Partai Aceh, Jusuf Kalla cukup dihormati.
Kalla adalah
perintis dan tokoh dibalik kesepakatan damai Helsinki. Hingga kini, tokoh-tokoh
aceh selalu menjalin kontak dengannya.
“Saya menelepon Malik agar mau
berunding lagi, “kata Kalla kepada Tempo, Rabu pekan lalu. Sebagai Wali
Nanggroe, Malik disegani di kalangan mantan Gerilyawan GAM, terutama setelah
Hasan Tiro meninggal pada 2010.
Malik melunak
oleh bujukan Kalla. Mereka sepakat bertemu lagi dengan tim Djohan di Hotel
Sahit pada 12 Desember 2011.
Waktu itu, jadwal pemilihan Kepala Daerah sudah
diundurkan satu bulan menjadi 24 Desember. Jusuf Kalla, dengan bantuan
orang-orang dekatnya, termasuk Menteri Hukum Hamid Awaluddin, juga mencoba
menjelaskan asal-usul aturan calon independen kepada Mahkamah Konstitusi.
Dalam
pertemuan berikutnya dengan tim Djohermansyah, tim malik bersedia berkompromi.
Mereka menerima dua pasal penundaan jadwal pemilihan sampai urusan pemilihan
ini disahkan dalam qanun.
Mereka juga setuju ada penunjukan penjabat Gubernur Aceh setelah massa jabatan Irwandi Yusuf berakhir pada 8 Februari 2012.
Mereka juga setuju ada penunjukan penjabat Gubernur Aceh setelah massa jabatan Irwandi Yusuf berakhir pada 8 Februari 2012.
Tanpa diduga,
mereka juga menerima pasal tiga soal calon independen. Tapi mereka mementa catatan
tambahan, yang menjamin tak ada lagi perubahan isi Undang-Undang Pemerintahan
Aceh tanpa konsultasi dengan DPR Aceh. Muzakkir dan Djohan meneken kesepakatan
– butir keempat ditulis tangan.
Kengototan
Partai Aceh soal calon Independen ii merupakan ekor perseteruan mereka dengan
Irwandi Yusuf sejak awal Pemerintahannya pada 2006. “ Selama lima tahun
memimpin aceh dia tak pernah sowan kepada kami, menjalankan program sesuka
hati. Dia durhaka kepada kami,” kata Zaini Abdullah.
Dengan
pemilihan diundurkan hingga masa jabatannya berakhir, Irwandi yusuf tak lagi
bisa memakai fasilitas pejabat untuk berkampanye. Ini merupakan kemenangan
Zaini – Muzakkir atas Irwandi.
Kemenangan sesungguhnya diperoleh Senin pekan
lalu, pada hari pemilihan. Berdasarkan hitung cepat perolehan suara,
Zaini-Muzakkir diperkirakan menang dalam satu putaran. Mereka meraih 55 persen
suara dari tiga juta lebih pemilih.
Pada masa
kampanye, tiga pensiunan jenderal
mendukung Partai Aceh: bekas panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda
Mayor Jenderal Purnawirawan Soenarko dan Mayor Jenderal Purnawirawan Djali
Yusuf serta bekas Staf Komandan Iskandar Muda brigadir Jenderal purnawirawan M.
Yahya. Ketiganya bahkan menjadi juru kampanye.
Menurut Zaini,
tiga jenderal itu datang menyatakan bergabung dengan kubunya tahun lalu. Sejak
deklarasi pencalonan Zaini-Muzakkir
hingga kampanye Maret-April kemarin, ketiganya selalu duduk dibarisan terdepan.
“Saya kenal secara pribadi dengan mereka sejak zaman GAM,” kata Soenarko.
Soenarko
mengklaim membujuk Muzakkir mendaftar dalam pemilihan gubernur setelah partai
Aceh menolak ikut pemilihan. Padahal, saat masih aktif di TNI, Soenarko
termasuk keras menentang GAM. “Sekarang saya mengerti mereka memberontak karena
ingin Aceh maju,”ujarnya.
|||
Irwandi yusuf,
lawan Zaini, menyebutkan Soenarko datang
membawa kepentingan Prabowo Subianto, Ketua Dewan pembina Partai Gerindra.
Soenarko adalah bekas bawahan Prabowo di Komando Pasukan Khusus. “Dia membawa
misi Prabowo untuk Pemilihan Presiden 2014dan bisnisnya di Aceh,” kata Irwandi.
Menurut
Irwandi, Prabowo memiliki konsesi hutan tanaman industri yang mengelilingi
Danau lot tawar sepanjang kabupaten Bener Meriah hingga Aceh tengah seluas
97.300 hektare. PT. Tusam Hutani Lestari beroperasi sejak 1997, memasok kayu
buntuk PT Kiani Pulp & Paper. “Dia minta perpanjangan izin, tapi saya
tolak,”katanya.
Soenarko tak
menyangka kedekatannya dengan Prabowo. Orang-orang dekatnya menyatakan Soenarko
pernah diajak Prabowo bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di
Cikeas membicarakan pemilihan Di Aceh ini.
“Prabowo juga menyumbang (buat
pasangan Zaini-Muzakkir),” kata sofyan Dawood, bekas Juru Bicara GAM, yang
menjadi anggohta tim sukses Irwandi.
Djali Yusuf,
bekas anggota Staf Khusus Presiden, yang dimintai konfirmasi soal misi
Soenarko, tak menyangkal atau membenarkan. “ pak Soenarko bukan anggota
Gerindra, tapi kalau di 2014 dia mau masuk Partai, itu hak dia,”katanya.
Prabowo belum
bisa dimintai komentar, sejumlah orang dekatnya menolak pernyataanya dikutip,
dengan alasan “bukan merupakan bagian pekerjaan,”nya.
Kedua kubu
juga berusaha menggandeng pengusaha Tomy Winata. Tahun lalu, dua kai Irwandi
menemui petinggi Grup Artha Graha itu untuk meminta bantuan dana kampanye.
Keduanya akrab setelah Irwandi sebagai Gubernur menuding Tomy membeli lima
harimqau Sumatera dari Aceh untuk hutan di Lampung pada 2008.
Tomy, menurut
Irwandi, berusaha mengontaknya setelah itu, ia menolak dan meminta Tomy
mengembalikan harimau ke Aceh. Tomy menolaknya, “Saya lawan,” kata Irwandi,
lalu melanjutkan:
“Dia (dituduh sebagai) mantan mafia, tapi saya mantan
pemberontak. Derajatnya lebih tinggi, ha-ha-ha...
Saat terserang
stroke dan dirawat di Singapura, Irwandi mengatakan Tomy memberinya biaya
pengobatan Rp. 70 juta dan menyediakan apartemen. Sejak itu, mereka berteman.
Jika ke Jakarta, Irwandi menginap di Hotel Borobudur milik perusahaan Tomy.
Irwandi juga
tak sunggkan memakai pesawat Cassa milik Tomy untuk memantau kondisi Aceh. Ia
sendiri kadang yang mengemudikannyakarena pernah belajar mengemudi pesawat
ketika kuliah di Amerika serikat. “Untuk pemilu ini, dua kali saya menangih dia
di ruangannya di Artha Graha,” kata Irwandi.
Tomy, kata
Irwandi, hanya mengiyakan, tapi tak memenuhinya. Sampai sampai pemilihan
berlangsung, ia menyatakan, tak sepeserpun Tomy mengeluarkan uang. Irwandi
mengaku habis Rp. 14 miliar untuk kampanye dan persiapan pemilu.
Dari sakunya
ia mengeluarkan Rp. 6 miliar. Sisanya pinjam sana-sini. ‘ sekarang pusing juga
bagaimana membayarnya,” ujarnya.
Tak
menguncurkan duit untuknya, Irwandi mendengar, Tomy malah bertemu dengan Zaini
Abdullah-Muzakkir Manaf. Irwandi mengatakan tak paham terhadap alasan Tomy
mendukung Zaini, kecuali dugaan taipan pemilik kawasan bisnis Sudirman,
Jakarta, ini berminat padi Tangse, Aceh Tengah.
Muzakkir
mengakui bertemu membahas dana kampanye dengan Tomy Winata pada November tahun
lalu. Seusai pertemuan , kata dia, Tomy tak langsung mengelurkan Uang. “baru
pada saat Lebaran Haji, ajudannya memberi saya Rp. 20 juta,” ujarnya.
“Mungkin
untuk ongkos atau apa saya tidak tau.” Hingga tulisan ini selesai, Tomy Winata
tak merespons permintaan konfirmasi yang dikirimkan ke telepon selulernya.
Muzakir
mengatakan tak menerima sepeserpun dari Prabowo. “tapi tak tau kalau dia
memberikannya ke yang lain.” Katanya. Ia menyatakan hanya pernah sekali bertemu
dengan Prabowo Subianto di Hotel Sartika Bogor, Januari lalu.” Kami
membicarakan pertanian di Aceh,” ujarnya.
Soal
songkongan dari banyak tokoh Jakarta, Zaini mengatakan, “Dukungan mereka tanpa
konsensus. Mereka tak bertanya kami akan memberikan apa.” | Sumber Majalah TEMPO




0 komentar:
Posting Komentar