
Mereka mengaku sakit hati sebab
Jatim sebenarnya memiliki stok sapi yang melimpah meskipun tanpa impor, namun
mengalami kekurangan stok, karena banyak sapi yang dijual ke luar Jatim seperti
Jabar, Jateng, Jakarta, Sumatera, dan Kalimantan.
''Mereka memilih mengambil dari
Jatim karena harganya relatif murah. Tapi akibatnya, warga Jatim sendiri
kekurangan,'' kata Koordinator Rumah Potong Hewan [RPH] Pegirian Surabaya,
Apriyadi.
Pedagang mendesak Gubernur Jatim
membatasi sapi dijual ke luar Jatim, atau mencabut larangan impor. ''Kami juga
meminta Pemerintah bertindak tegas menutup pusat penggemukan sapi yang lebih
memilih menjual sapinya ke luar Jatim,'' tambahnya.
Dua titik RPH di Surabaya, kata
dia, setiap harinya rata-rata memotong lebih dari 150 sapi. Namun kini
berkurang 50 persen menjadi sekitar 60-75 ekor sapi. Hal itu jelas membuat para
pedagang juga menurun penghasilannya.
Salah seorang pedagang dan
pemotong sapi asal kelurahan Kedurus Kecamatan Karangpilang Surabaya, Syafii [30]
mengaku sejak empat bulan terakhir hanya memotong dua ekor atau bahkan tidak
sama sekali setiap harinya. ''Padahal saat stok sapi stabil, saya bisa memotong
7-9 ekor dalam sehari,'' ujarnya. | AT | KP |

0 komentar:
Posting Komentar