Bondowoso | Acehtraffic.com - Seorang
seniman lawak mengingatkan koleganya agar berupaya meningkatkan martabatnya
sendiri dengan cara tidak menjual murah kesenian tradisional yang mereka
geluti.
"Saya pernah menjadi seniman
sekelas pemain ludruk yang main semalam suntuk hanya dibayar Rp 100.000. Namun,
ketika saya naikkan kelas saya, ternyata saya tidak kehabisan pasar," ujar
seniman lawak Satriyo Subekti di Bondowoso, Selasa, 14 Februari 2012.
Lelaki yang di atas panggung
biasa menggunakan nama Burawi itu mengemukakan bahwa dirinya bisa dibayar Rp
500.000 hingga Rp1 juta dalam satu kali pentas.
"Kuncinya adalah bagaimana
kita sebagai seniman memperbaiki kualitas tampilan alias tidak asal-asalan.
Kalau asal-asalan, misalnya lawakannya itu-itu saja, orang akan membayar kita
asal-asalan juga," ujar pelawak yang sehari-hari dipanggil Yoyok ini.
Menurut dia, dengan menaikkan
harga bukan berarti seniman itu "jual mahal" dalam pengertian
negatif, melainkan untuk keberlangsungan kesenian tradisional itu sendiri.
"Kalau terus-menerus dibayar
seadanya, lama-lama kesenian tradisional akan ditinggalkan oleh pemainnya
karena kebutuhan ekonomi tidak tercukupi lewat kesenian. Namun, kalau kesenian
itu bisa menghidupi pelakunya, maka kesenian tradisional akan lestari,"
katanya.
Ia mengemukakan bahwa arena
pentas pelaku kesenian tradisional tidak terbatas pada panggung-panggung biasa,
seperti acara pernikahan, tetapi juga bisa di acara-acara lain.
"Misalnya ada reuni kelompok
masyarakat atau acara sahur bersama. Ini memang memerlukan jiwa entrepreneur
dari pelaku kesenian. Tantangan pelaku kesenian tradisional saat ini memang
lebih besar dibanding zaman dulu," tuturnya.
Yoyok mengemukakan bahwa di
Bondowoso sangat banyak kesenian tradisional yang masih lestari dan ketika
dibawa ke ajang nasional, seperti di TMII Jakarta, ternyata mendapatkan
apresiasi tinggi dari masyarakat dan seniman besar.
"Saya pernah bawa kesenian
kentrung dan ’pojhian’ [pujian] dari Bondowoso ke TMII dan ternyata sambutannya
luar biasa. Mereka yang peduli seni tradisi sangat kagum karena kesenian daerah
seperti ini masih hidup. Karena itu, seniman tradisional jangan berkecil
hati," katanya.
Khusus pelaku-pelaku kesenian
modern, seperti penyanyi, Yoyok menyarankan agar memiliki manajer yang mengatur
sekaligus mencari pasar.
"Dengan memiliki manajer,
masyarakat tidak akan seenaknya membayar penyanyi. Karena ini kota kecil,
mungkin lima penyanyi ditangani satu manajer, bukan satu orang satu manajer,"
katanya.
Ia berharap semua kesenian
tradisional yang dimiliki kabupaten penghasil penganan tapai ini tetap lestari
meskipun diakui sudah ada beberapa yang punah. | AT | KP |


0 komentar:
Posting Komentar