
Davos | Acehtraffic.com - Presiden Rezim Zionis Israel, Simon Peres di sela-sela sidang Forum Ekonomi Dunia di kota Davos, Swiss seraya menuntut dihancurkannya pemerintahan Iran, menuntut masyarakat internasional mengendalikan pengaruh Teheran di Timur Tengah.
Menurut laporan Fars News mengutip Koran Yediot Aharonot, cetakan Israel, Peres dan Salam Fayyad, Perdana Menteri pemerintah Otorita Ramallah di sela-sela sidang Forum Ekonomi Dunia ke 42 di Davos, Swiss membicarakan upaya dimulainya kembali perundingan damai antara Israel dan Otorita Ramallah. Dalam kesempatan tersebut, Peres juga meminta masyarakat dunia menghentikan peran Iran di Timur Tengah yang dinilainya "merusak".
"Meski perundingan damai terus berjalan, namun petinggi Palestina secara nyata tetap membentuk sebuah pemerintahan," ungkap Peres di Forum Ekonomi Davos.
Presiden Rezim Zionis Israel terkait kesempatan terciptanya perdamian di Timur Tengah memuji langkah-langkah Mahmoud Abbas, pemimpin Otorita Ramallah dan Salam Fayyad, PM pemerintah Otorita membentuk pemerintahan termasuk pembentukan pasukan independent. Ia menyatakan bahwa pembentukan pemerintahan tanpa perundingan tidak mungkin terwujud.
Peres seraya mengisyaratkan masalah Iran meminta Eropa menjatuhkan sanksi lebih keras terhadap Tehran untuk menghentikan program nuklir negara ini. "Masyarakat internasional juga harus berperan dan mencegah pengaruh Iran di Timur Tengah," tandas Peres.
Ia juga meminta masyarakat internasional untuk menghancurkan pemerintahan Iran. "Iran merupakan negara satu-satunya di dunia yang secara transparan menuntut dihapuskannya negara lain (Israel)," klaim Peres.
Presiden Israel mengklaim bahwa Tel Aviv memiliki kewajiban bersejarah untuk berdamai dengan Palestina dan ajaran Yahudi tidak mengizinkan pemerintahan atas seluruh rakyat dunia. Menurutnya solusi krisis ini dapat dihasilkan dengan pembentukan dua negara dari bangsa masing-masing.
Sementara itu, Fayyad seraya mengisyaratkan perundingan dan pembentukan pemerintahan sama-sama penting mengatakan, sejak perjanjian Oslo belum dilakukan upaya politik yang fokus dan masyarakat internasional harus campur tangan dalam hal ini. "Perhatikanlah kami ! Kami hanya duduk di meja perundingan, kini sudah saatnya kami tegaskan bahwa proses perundingan damai sepenuhnya gagal," tandas Fayyad.
Di sisi lain, Peres menolak statemen Fayyad dan mengatakan, proses perundingand amai harus dilakukan secara langsung antara Israel dan Pelestina. "Friksi antara Israel dan Palestina bukan isu dunia," kilah Peres. Sementara itu, perundingan damai antara Palestina dan Israel yang baru digelar di Amman, Yordania juga dilaporkan kembali menemui jalan buntu seperti sebelumnya. Kendala yang menghambat, lagi-lagi sikap keras kepala Israel yang tidak bersedia menghentikan pembangunan distrik zionisnya di wilayah Palestina. (*) | IRIB Indonesia

0 komentar:
Posting Komentar