News Update :

Ada Roket Nyangkut di Tiang Listrik

Minggu, 29 Januari 2012

Purbalingga | Acehtraffic.com - Sapto Dwi Cahyono, siswa SMU Muhamadiyah Gombong, seakan tak percaya. Susah payah ia membuat roket, ternyata saat diluncurkan roketnya tersangkut di tiang listrik. Padahal sebelumnya ia yakin betul roketnya bisa bergerak lurus ke depan.


“Ukurannya sudah benar, tapi mungkin kurang aerodinamis,” ujar Sapto, salah satu peserta kompetisi roket air, di Taman Pendidikan Sanggaluri, Purbalingga, Minggu, 29 Januari 2012.



Sapto merupakan satu dari ratusan peserta kompetisi roket air itu. Total ada 51 tim dari SMP dan SMA se-eks-karesidenan Banyumas. Mulai pagi, mereka menjajal roket yang terbuat dari botol bekas air mineral yang dirangkai sedemikian rupa menjadi roket.



Roket ini berbahan bakar air sebagai daya pendorong. Sapto menerangkan, agar roket bisa terbang jauh, struktur roket harus aerodinamis. Bagian ekor roket harus seimbang. Panjang roket sekitar 50 sentimeter. 



Agar bisa terbang, roket diisi air sebanyak seperempat dari panjang roket. Kemiringan sudut terbang juga harus diatur sebesar 45 derajat. Untuk memberikan daya dorong, roket harus diisi angin yang dipompa dengan pompa angin. “Semakin banyak anginnya, daya dorongnya semakin kuat,” kata Sapto.



Ketua panitia lomba, Eko Susilo, mengatakan kompetisi tersebut merupakan ajang bagi kreativitas pelajar. “Kompetisi ini merupakan aplikasi pelajaran fisika di sekolah,” katanya.



Ia mengatakan, selain keindahan bentuk roket, jarak tempuh roket juga menjadi penilaian sendiri. Selain itu, kompetisi yang diadakan di Taman Pendidikan Purbalingga ini diharapkan bisa menjadikan pelajar antusias belajar di alam bebas.



Dari pengamatan Tempo, tidak semua roket bisa meluncur mulus. Beberapa di antaranya bahkan tersangkut di tiang listrik, atap gedung, dan keluar dari lintasan lomba. 



Didit, siswa SMK Bantarbolang Pemalang, mengaku sudah lama mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi itu. “Kami biasa berlatih dengan melawan angin, kalau di sini tidak ada anginnya,” kata dia.



Alhasil, roketnya berhasil meluncur paling jauh dibanding rekannya yang lain. Roket buatannya berhasil meluncur sejauh 143 meter. “Biasanya roket saya bisa meluncur lebih dari 200 meter,” katanya.



Menurut dia, satu roket hanya membutuhkan biaya Rp 35 ribu. Barang yang digunakan pun dari barang bekas, yakni botol bekas air mineral.



Harjiono, guru SMK Binataruna Purwokerto, mengaku sangat antusias dengan lomba ini. “Saya berharap nantinya ada satu di antara ratusan anak-anak sekolah ini yang bisa membuat roket beneran,” katanya.| AT | TO |
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016