
Suasana
konflik di sekitar tempat tinggal mahasiswa Indonesia di Yaman semakin hari semakin
mencekam. Harapan mereka agar pemerintah
Indonesia turun tangan untuk segera memulangkan pun hingga sekarang belum
jelas.
HUDAIDAH, Gemuruh dentuman meriam menyelimuti langit hudaiah, kurang lebih 120
mahasiswa Indonesia dalam keadaan takut mencekam, konsentrasi belajar pun
semakin kacau apalagi mereka saat ini sedang menjalani ujian akhir tahun yang
mempertaruhkan keselamatannya demi masa depan mereka, memang sangat berat dan
susah belajar dalam kondisi suasana negara konflik dalam kurun empat bulan terkhir
ini yang tak kunjung reda.
Bahkan
kemungkinan semakin bertambah parah itu sangat besar, mengingat pertumpahan
darah yang semakin hari semakin bertambah banyak korban jiwa, Hudaidah sendiri
bisa dikatakan base camp nya Ali Abdullah Saleh yang saat ini masih menjabat
sebagai Presiden Yaman yang sedang menghadapi banyak demonstrasi dimana-mana
meminta untuk segera turun dari tahtanya.
![]() |
| Kelompok suku oposisi Yaman sedang berpatroli di Taiz |
Tidak seperti KBRI kita terkesan lelet, lambat dalam merespon permasaalahan ini melihat sepak terjang KBRI yang seperti itu. Para WNI khususnya mahasiswa semakin merasakan kegelisahan yang tak menentu arah, disisi lain harus menyelesaikan studinya yang saat ini sedang menghadapi ujian akhir tahun, disisi lain harus memikirkan keselamatannya demi bertahan di negara yang sedang konflik. Sedangkan tanggapan KBRI sangat –sangat lamban sekali, banyak teori tanpa adanya bukti, banyak retorika tanpa ada bukti yang nyata.
Sudah banyak para WNI yang meminta dievakuasi tetapi kurang ditanggapi, dan ini yang selalu menjadi pertanyaan dalam benak WNI, kenapa sih pemerinth selalu lambat dalam menyikapi permasalahan seolah-olah tidak pernah mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian sebelumnya, seharusnya mahasiswa adalah aset yang harus dijaga dan diselamatkan guna melanjutkan estafet kepemimpinan Republik Indonesia kedepannya.
Kami sebagai mahasiswa merasa sangat prihatin melihat tingkah polah para pemimpin negeri, tidak pernah intropeksi diri, tidak pernah berfikir dari mana beras yang mereka makan, gaji yang mereka hasilkan, mobil yang mereka dapatkan, bahwa semua itu dari rakyat, tapi sedikitpun tak pernah memikirkan nasib rakyat, yang selalu ada dalam benak mereka bagaimana cara melanggengkan kekuasaan tanpa mau melihat apakah rakyatnya dalam kondisi aman atau sudah makan. Khususnya yang sekarang berada di Yaman.
Kami sangat mengharap pemerintah pusat segera tanggap dan sigap mengingat kondisi Yaman yang semakin tak menentu dan begitu bebasnya senjata, kematian pun semakin mendekati kita.negara-negara lain rakyatnya sudah dipulangkan semua, tapi sungguh hebat negeri kita indonesia pemerintah hanya menyerukan kalimat ”menghimbau rakyatnya saja”
La
haula wala quwwata illa billahil aliyyil alim, kami sangat-sangat mengharap
atas kesigapan dan kepekaan pemerintah pusat untuk segera menyelamatkan
rakyatnya yang berada di Yaman mengingat KBRI kita sangat tidak tanggap,
demikian harapan kami mudah-mudahan dapat membuka mata para pemimpin negri dan
tergerak hatinya atas tanggung jawab yang harus dikerjakannya. Wassalam.
Penulis
adalah Muklas, Ketua MPA DPW Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman


0 komentar:
Posting Komentar