News Update :

KBRI Masih Nyantai, Mahasiswa Indonesia Di Yaman Terancam

Kamis, 09 Juni 2011


Suasana konflik di sekitar tempat tinggal mahasiswa Indonesia di Yaman semakin hari semakin mencekam. Harapan mereka agar pemerintah Indonesia turun tangan untuk segera memulangkan pun hingga sekarang belum jelas. 

HUDAIDAH, Gemuruh dentuman meriam menyelimuti langit hudaiah, kurang lebih 120 mahasiswa Indonesia dalam keadaan takut mencekam, konsentrasi belajar pun semakin kacau apalagi mereka saat ini sedang menjalani ujian akhir tahun yang mempertaruhkan keselamatannya demi masa depan mereka, memang sangat berat dan susah belajar dalam kondisi suasana negara konflik dalam kurun empat bulan terkhir ini yang tak kunjung reda.

Bahkan kemungkinan semakin bertambah parah itu sangat besar, mengingat pertumpahan darah yang semakin hari semakin bertambah banyak korban jiwa, Hudaidah sendiri bisa dikatakan base camp nya Ali Abdullah Saleh yang saat ini masih menjabat sebagai Presiden Yaman yang sedang menghadapi banyak demonstrasi dimana-mana meminta untuk segera turun dari tahtanya. 

Ancamanpun semakin bertambah banyak tak terkecuali di Hudaidah yang konotasinya sebagai base camp pemerintah yang sedang dimusuhi banyak rakyatnya maka dari itu kaselamatan anak Hudaidah khususnya pelajar mahasiswa Indonesia semakin terancam. Bahkan oposisipun barhasil meluncurkan rudal yang ditujukan kepada Ali Abdullah Saleh dan berhasil melukainya sampai-sampai harus diungsikan ke Saudi Arabia guna merawat luka akibat serangan rudal tersebut. 

Kelompok suku oposisi Yaman sedang berpatroli di Taiz 
Semakin hari kondisi keamanan di Yaman secara umum semakin tidak kondusif. Banyak kedutaan negara asing yang sudah tutup terkait dengan keadaan negara Yaman yang tidak menentu. Warga negara asing yang berada di Yaman semakin hari semakin terancam, diantaranya negara tetangga kita Malaysia seminggu lalu sudah memulangkan semua warganya tanpa terkecuali, yang begitu sigap dan tanggap atas keselamatan warganya.

Tidak seperti KBRI kita terkesan lelet, lambat dalam merespon permasaalahan ini melihat sepak terjang KBRI yang seperti itu. Para WNI khususnya mahasiswa semakin merasakan kegelisahan yang tak menentu arah, disisi lain harus menyelesaikan studinya yang saat ini sedang menghadapi ujian akhir tahun, disisi lain harus memikirkan keselamatannya demi bertahan di negara yang sedang konflik. Sedangkan tanggapan KBRI sangat –sangat lamban sekali, banyak teori tanpa adanya bukti, banyak retorika tanpa ada bukti yang nyata.

Sudah banyak para WNI yang meminta dievakuasi tetapi kurang ditanggapi, dan ini yang selalu menjadi pertanyaan dalam benak WNI, kenapa sih pemerinth selalu lambat dalam menyikapi permasalahan seolah-olah tidak pernah mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian sebelumnya, seharusnya mahasiswa adalah aset yang harus dijaga dan diselamatkan guna melanjutkan estafet kepemimpinan Republik Indonesia kedepannya.

Kami sebagai mahasiswa merasa sangat prihatin melihat tingkah polah para pemimpin negeri, tidak pernah intropeksi diri, tidak pernah berfikir dari mana beras yang mereka makan, gaji yang mereka hasilkan, mobil yang mereka dapatkan, bahwa semua itu dari rakyat, tapi sedikitpun tak pernah memikirkan nasib rakyat, yang selalu ada dalam benak mereka bagaimana cara melanggengkan kekuasaan tanpa mau melihat apakah rakyatnya dalam kondisi aman atau sudah makan. Khususnya yang sekarang berada di Yaman.

Kami sangat mengharap pemerintah pusat segera tanggap dan sigap mengingat kondisi Yaman yang semakin tak menentu dan begitu bebasnya senjata, kematian pun semakin mendekati kita.negara-negara lain rakyatnya sudah dipulangkan semua, tapi sungguh hebat negeri kita indonesia pemerintah hanya menyerukan kalimat ”menghimbau rakyatnya saja” 

La haula wala quwwata illa billahil aliyyil alim, kami sangat-sangat mengharap atas kesigapan dan kepekaan pemerintah pusat untuk segera menyelamatkan rakyatnya yang berada di Yaman mengingat KBRI kita sangat tidak tanggap, demikian harapan kami mudah-mudahan dapat membuka mata para pemimpin negri dan tergerak hatinya atas tanggung jawab yang harus dikerjakannya. Wassalam.

Penulis adalah Muklas, Ketua MPA DPW Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman  
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright The Aceh Traffic 2010 -2016