Sudahkah
Anda membaca buku Jakarta Undercover (2002, 2003, 2007) karya Moamar Emka? Apa
yang Anda rasakan saat orang lain mengetahui bahwa Anda membaca buku itu?
Apakah Anda merasa jadi orang yang “gaul”, karena mengetahui realita kehidupan
malam berikut bisnis seksnya yang jauh di luar bayangan Anda?
Terlepas
dari fakta bahwa buku tersebut ditulis berdasarkan investigasi mendalam dari
penulisnya, tidakkah ada sesuatu yang mengusik pikiran Anda, bahwa perempuan
hanya diposisikan sebagai obyek di buku itu?
Jakarta
Undercover, begitu juga buku-buku lain yang ditulis oleh para lelaki untuk
mengangkat bisnis layanan seks perempuan, jelas sangat tidak berpihak kepada
perempuan, demikian tegas Nori Andriyani, penulis buku Jakarta Uncovered: Membongkar Kemaksiatan, Membangun Kesadaran Baru.
“… Saya tidak menangkap adanya pemikiran bahwa fenomena yang mereka bahas
adalah sebuah masalah yang mendesak.
Juga tidak ada pemikiran bahwa yang
menjadi penyebab masalah adalah kaum lelaki, dan kaum perempuan yang dilacurkan
adalah korban. Bahkan sebaliknya lebih ada kesan bahwa fenomena itu sesuatu
yang fun,” demikian tulis Nori di halaman 62 bukunya.
Sambutan
hangat terhadap buku-buku yang membahas bisnis seks menunjukkan bahwa
masyarakat saat ini sudah semakin pasif menghadapi masalah tingkah laku lelaki
yang memiliki kebiasaan membeli layanan seks perempuan. Buku Emka bukannya
dikritisi, malah semakin dicari hingga terbit tiga seri, dan dibuatkan filmnya.
Kepasifan
masyarakat kenyataan maraknya bisnis layanan seks ini disebabkan budaya
patriarki yang telah membuat masyarakat menganggap wajar tingkah laku lelaki
tersebut. Budaya patriarki, atau budaya dimana kaum lelaki memiliki posisi yang
lebih berkuasa dibanding perempuan, sangat dominan di Indonesia. Apalagi,
kehidupan masyarakat di kota-kota besar sudah sangat individual, sehingga apa
yang dilakukan orang lain tidak berhak dicampuri.
Mengapa pria menggunakan jasa seks bayaran?
Pertanyaan
ini sangat menggelitik Nori. Namun ia menemukan jawaban yang sangat sederhana:
karena mereka bisa. Mereka merasa bisa, karena mempunyai uang untuk
membayarnya. Uang menciptakan kekuasaan, dalam hal ini berupa pemilikan harta,
uang, dan posisi dominan terhadap perempuan. Karena membayar, lelaki merasa bebas
menuntut bentuk layanan yang diinginkannya. Memiliki uang memungkinkan lelaki
untuk tergoda, mencoba, dan bukan tidak mungkin menjadi tergantung (addicted)
pada seks bayaran.
Selain
faktor kekuasaan yang terutama berupa uang, lelaki memiliki 1001 pembenaran
untuk menjadi pembeli layanan seks bayaran perempuan agar si lelaki dapat pergi
dengan damai menikmati panti pijat plus-plus, karaoke
mesum, spa plus-plus, dan short time di hotel, begitu kata Nori di halaman 24.
Berbagai bentuk pembenaran ini intinya sebenarnya satu, yaitu menempatkan
lelaki dalam posisi dominan, berkuasa, dan hegemonik terhadap perempuan.
“Salah
satu bentuk pembenaran ini adalah, pria merasa berjasa karena telah memberikan
keuntungan (uang bayaran) kepada pihak perempuan,” papar Nori, saat diskusi
mengenai Jakarta Uncovered, yang berlangsung di kantor The Women Research
Institute, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (2/12/2010) lalu. Dengan pria
memakai jasa mereka, perempuan jadi memiliki pekerjaan dan penghasilan untuk
menghidupi dirinya.
Cara
berpikir seperti ini tidak melihat konteks historis para perempuan tersebut.
Mayoritas para perempuan ini adalah korban dari kemiskinan struktural, akibat
adanya sistem yang tidak adil bagi perempuan. Misalnya, sistem yang ada tidak
memberikan pendidikan gratis sampai tingkat yang dapat meningkatkan pengetahuan
dan ketrampilan sebagai pekerja profesional. Jadi, bukan karena para perempuan
itu malas mencari pekerjaan yang lain.
Nori tidak setuju bila pelacuran disebut sebagai
pekerjaan atau profesi. “Apakah itu pilihan hidup yang bebas? Apakah mereka
memang mau melakukannya? Itu bukan pekerjaan, tapi keterpaksaan. Saya yakin,
tidak ada orang yang dengan bangga mengatakan, ‘Profesi saya adalah pelacur!’”
tutur lulusan Kajian Wanita Memorial University of Newfoundland,
Kanada, ini.
Tidak dipungkiri bahwa sebagian kecil perempuan
mungkin menceburkan diri ke dalam bisnis seks bayaran karena ingin hidup enak
dengan cara mudah. Namun mereka ini tetaplah korban, yaitu korban dari budaya
kapitalisme yang mendorong orang untuk menjadi hedonis. Sistem kapitalisme
mendorong orang untuk hidup konsumtif, sekaligus menjadi barang dagangan yang
bisa dibeli.
Konteks historis lainnya adalah adanya
kemungkinan para perempuan ini merupakan korban perdagangan seks yang mengalami
kekerasan fisik, psikologis, dan jeratan utang. Modus umumnya adalah, para
perempuan ini ditawari pekerjaan bergaji besar di luar negeri, namun ternyata
sesampai di negara tujuan mereka dipaksa bekerja memberi layanan seks.
Masih banyak pembenaran lain yang disampaikan
Nori dalam bukunya. Salah satunya adalah, para pria menganggap penggunaan
layanan seks bayaran ini sebagai bentuk pernyataan kekuatan persaudaraan
antarkaum lelaki. Suka atau tidak, “inilah dunia lelaki”
Dengan bergabung di forum-forum komunikasi di
internet, kaum lelaki merasa mereka bukan satu-satunya yang memiliki hobi
membeli seks. Bila ada komunitas yang menggunakan layanan seks berbayar ini
artinya, aktivitas ini adalah sesuatu yang lumrah dilakukan. Dengan saling
berbagi informasi, mereka bisa saling menguatkan, dan mungkin juga mengurangi
rasa bersalah. Bahkan sebaliknya, bisa saling menyombongkan diri tentang
pengalaman mereka di internet.
Berbagai pembenaran ini memang sudah mengakar
kuat sejak lama. Namun bukan tak mungkin untuk dibongkar. Melalui studi
kasusnya, Nori ingin mengajak para pembacanya -lelaki maupun perempuan- untuk
lebih peduli dengan masalah ini. Sekali lagi, ini bukan hanya masalah perempuan
yang menjadi penjaja seks tersebut, melainkan masalah kita bersama. Kalau kita
saja tidak mau peduli, bagaimana dengan para lelaki? | kompas.com

0 komentar:
Posting Komentar