LATIHAN militer tak ada hubungannya
dengan prestasi sepak bola. Belum pernah ada tim sepak bola dari kesatuan
militer mana pun yang berjaya di pentas nasional. Di beberapa kota ada
Persatuan Sepak Bola Angkatan Darat, tapi prestasinya tak pernah menjulang.
Maka menerapkan resep militer sebagai bagian dari seleksi tim nasional sepak
bola usia 23 tahun Sea Games di Palembang sungguh kurang tepat.
Latihan yang disebut character building di Pusat
Pendidikan Pasukan Komando Khusus Batujajar, Bandung, bagi atlet sepak bola dan
atlet dari sepuluh cabang lain anggota peserta pusat latihan "Satlak"
Prima-itu semestinya dipandang sebagai refreshing saja. Jangka waktunya pun tak
perlu dua minggu penuh.
Pemain
sepak bola yang tak cakap memanjat dinding atau merayap di gorong-gorong,
misalnya, belum tentu tidak terampil mengolah bola. Pemain yang sulit bangun
pukul empat pagi belum tentu tak mahir melesakkan bola ke gawang lawan. Pemain
sepak bola yang gagal dalam jungle survival tak serta-merta bisa disebut lembek
dan cengeng di lapangan hijau. Disiplin yang diharapkan lahir di Batujajar lain
sama sekali dengan yang dibutuhkan di lapangan hijau.
Sepak
bola merupakan permainan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi
juga ketajaman otak. Kemampuan membaca permainan dan melakukan manuver tanpa
bola membutuhkan kemampuan berpikir prima. Kemampuan yang berkaitan dengan daya
pikir ini sejatinya lebih sulit dikembangkan ketimbang kemampuan fisik.
Seharusnya seleksi calon pemain tim nasional lebih menekankan faktor
inteligensi ini ketimbang faktor fisik. Di Batujajar, penjaringan pemain tim
nasional itu agaknya menempatkan penilaian faktor inteligensi jauh di belakang
faktor fisik.
Di
Batujajar, kata Komandan Latihan "Satlak" Prima Letnan Kolonel
Infanteri Richard Tampubolon, para atlet ditempa agar, "Sadar bahwa mereka
patriot yang akan membela kehormatan bangsa." Metode membangkitkan
semangat berlaga dengan memompa nasionalisme tidak jelek, tapi sudah
ketinggalan zaman.
Olahraga pada hakikatnya hanyalah sebuah permainan, game di
mana harus ada yang kalah dan menang. Bertanding demi kehormatan bangsa bagi
atlet akan terasa seperti menanggung beban 200 juta warga Indonesia di pundak.
Tekanan begini berat gampang menimbulkan stres, yang justru membuat prestasi
tidak maksimal.
Pendekatan
nasionalisme untuk mendongkrak prestasi atlet sudah lama digantikan
profesionalisme. Atlet mengabdikan diri pada profesi yang dijalaninya. Disiplin
bagi seorang profesional menjadi bagian tak terpisahkan. Mereka menempa diri
bukan hanya demi medali untuk negaranya, tapi juga demi prestasi dan eksistensi
dalam cabang olahraga yang ditekuninya. Prestasi itulah yang mendatangkan
sejumlah manfaat bagi dirinya-termasuk manfaat finansial dan pengakuan atas
prestasi itu. Negara tempat sang atlet berasal juga akan menikmati
"imbas" prestasi itu.
Selain
sikap profesional, yang dibutuhkan pemain- sepak bola Indonesia adalah
pengembangan prestasi- melalui pendekatan ilmiah. Pendekatan sains untuk
mengembangkan potensi diri, mengatasi cedera, dan meningkatkan kapasitas diri
masih sangat minim di negeri ini.
Adapun
membentuk disiplin sebaiknya tidak dikhotbahkan tapi dicontohkan dalam
tindakan. Bila pengurus sepak bola Indonesia bisa seenaknya melanggar aturan,
menjadikan lapangan hijau arena judi, mengatur skor sesuai dengan kehendak bos
berduit, mustahil disiplin akan ditunjukkan para pemain kendati didera
habis-habisan di Batujajar. | Majalah Tempo


0 komentar:
Posting Komentar